”Kula Nyuwun Titip Panjenengan Dongaaken Keraton….,”

0
226
CALON PUTRA MAHKOTA : Di antara sejumlah wayahdalem Sinuhun PB XII yang mengikuti pertemuan Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta dengan para pengageng bebadan dan jajarannya di Pendapa Sitinggil Lor, tadi siang, tampak calon pura mahkota KGPH Mangkubumi dan kakaknya, GKR Timoer. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Jangan Terlena Berebut Kekuasaan

SOLO, suaramerdekasolo.com – Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta tadi siang mengumpulkan kalangan pengadeng bebadan dan jajarannya serta sebagian besar abdidalem garap di Pendapa Sitinggil Lor. Pertemuan itu maju sehari dari yang dijadwalkan di pertemuan bulan lalu, yaitu Rabu besok (14/8), karena ritual Garebeg Besar digelar maju sehari, yaitu Minggu (11/8) dari kalender Jawa yang sudah ditetapkan Sultan Agung dalam merayakan Idhul Adha.
Gunungan Garebeg Besaripun majeng sedinten, amargi sampun mboten ngginaaken kalender Jawa ingkang sampun dipun tetepaken Sultan Agung. Menawi bab menika, sampun kersanipun. Gandeng Gununganipun majeng, pramila pepanggihan ingkang sampun dipun tetepaken Rabu benjing (14/8), kula majengaken sakmenika. Mangke kasuwun absen lan nyuwun girik kangge mendhet daging kurban,” jelas GKR Wandansari Koes Moertijah selaku Ketua LDA, saat memberi pengantar sambutan tunggalnya pada pertemuan silaturahmi sebulan sekali di Pendapa Sitinggil Lor, tadi siang.
Di depan sekitar 300 abdidalem garap (pegawai keraton) dan para pengageng bebadan dan jajarannya, Ketua LDA yang akrab disapa Gusti Moeng itu mengingatkan bahwa sekarang sudah lewat agak jauh dari peristiwa Pemilu/Pilpres. Tetapi, suasana berebut kekuasaan di kalangan para politisi dan elite pemerintahan justru makin memanas, hingga terlena dan lupa tugas serta kewajiban utamanya memikirkan nasib rakyatnya, termasuk nasib Keraton Surakarta dan masyarakat adat di dalamnya yang menjadi bagian dari rakyat NKRI.
Dijelaskan, peristiwa Pemilu/Pilpres sudah berulang-ulang terjadi dan para pemimpinnya berganti, tetapi sejak dulu hingga kini tidak menunjukkan upaya untuk menyejahterakan keraton termasuk aset-asetnya dan masyarakat adat yang ada di dalamnya. Siang itu semua yang hadir mendapatkan girik untuk mengambil daging kurban, hasil urunan para kerabat trah Sinuhun Amangkurat hingga putra-putri Sinuhun yang jumeneng sekarang ini.

Jauh dari UMR/UMK

Tak hanya daging kurban yang dijadikan contoh sebagai bentuk rasa keadilan yang belum sepenuhnya dirasakan masyarakat adat keraton, gaji yang diterima tiap bulanpun diakui Gusti Moeng masih sangat jauh dari upah minimum kota/kabupaten (UMK) atau upah minimun regional (UMR). Suaramerdekasolo.com mencatat, sejak awal tahun 2000 hingga kini, gaji kalangan abdidalem garap baru bisa naik antara Rp 5 ribu hingga Rp 20 ribu dari yang terendah Rp 80 ribu dan gaji tertinggi untuk para pengageng sebesar Rp 500-an ribu.
Atas realitas seperti itu Pengageng Sasana Wilapa itu sekali lagi mengingatkan kepada para elite pemerintah dan politisi, untuk segera memikirkan nasib rakyat secara luas termasuk nasib keraton. Karena tidak bisa dipungkiri, keraton telah berjasa besar terhadap lahirnya republik ini ketika berdiri (1945), dan hingga kinipun masih diharapkan sumbangsihnya untuk bangsa dan negara, yaitu peran aktifnya dalam menjaga keutuhan bangsa yang bhineka, tegaknya ideologi Pancasila, UUD 45 dan NKRI.
‘Kanthi menika, menawu panjenengan ndedonga, kula nyuwun titip panjenengan sadaya ndongaaken wilujengipun nagari Indonesia, Keraton Surakarta lan sak-isinipun. Amargi, panjenengan sadaya sampun ngrungkebi pasuwitan wonten keraton, lan ngrungkebi landesan gesang manut satataning budaya Jawi. Sumangga, kula lan panjenengan sadaya kendel sawetawis, ndedonga manut kapitadosan panjenengan sadaya, kula dhereaken,” ajak Gusti Moeng yang segera disambut suasana hening dan tunduk kepala untuk berdoa bersama.

Dituduh Bagian dari Dualisme

Dalam kesempatan itu Gusti Moeng juga menyinggung kondisi keraton dari sisi permasalahan internal masyarakat adatnya yang hingga kini masih dilanda friksi, belum ada upaya melanjutkan rekonsiliasi tuntas, tetapi menurutnya malah terkesan dibiarkan. Dalam perkembangan terakhir disebutkan, Gusti Moeng justru dipandang kalangan penguasa sebagai pihak bagian dari dualisme otoritas yang terjadi di Keraton Surakarta.
”Wah, la kok malah begitu, dibelokkan ke situ. La wong saya sejak lama menunggu-nunggu kesempatan bertemu dan dialog, agar dicapai kompromi, kesepahaman lalu bersatu kembali dan rekonsiliasi jadi tuntas, kok malah dituduh begitu. Saya sudah lama menanti-nanti untuk bisa bekerja kembali, bersama-sama semua putra-putridalem (Sinuhun PB XII). Aneh ya. Kok malah dianggap jadi bagian dari dualisme di keraton. Tapi saya malah seneng. Berarti saya dianggap penting ya…..,” ketus penerima penghargaan The Fukuoka Culture Prize Award dari Jepang 2012 itu sambil tertawa geli di hadapan semua yang hadir tadi siang. (Won)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here