Ribuan Hektar Lahan Pertanian Terancam Puso

DAM COLO : Dam Colo atau Bendung Colo di Desa Pengkol Kecamatan Nguter Sukoharjo yang selama ini menjadi pemasok air petani di Kabupaten Sukoharjo dan sekitarnya, airnya mulai menyusut. (Suaramerdekasolo.com/heru susilo)

*Penutupan Dam Colo Dipercepat

SUKOHARJO,suaramerdekasolo.com – Ribuan hektar lahan pertanian di sepanjang aliran Dam Colo Timur dan Barat terancam puso. Hal tersebut dikarenakan penutupan aliran Bendung Colo di Nguter dipercepat dari jadwal biasanya.
Jadwal biasanya, aliran Dam Colo ditutup pada 1 Oktober dan anak dibuka kembali pada 1 November. Namun tahun ini, jadwal dimajukan pada 15 September mendatang. Artinya, jadwal tersebut maju selama dia pekan dari sebelumnya.
Ketua Induk Paguyuban Petani pengguna Air (P3A) Colo Timur “Jigong” Sarjanto menuding, penutupan saluran air Dam Colo Timur lebih cepat karena kesalahan pola operasi yang diterapkan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA). “Kesalahan pola operasi bermula sejak memasuki musim kemarau tahun ini. Mestinya sesuai pola operasi di awal musim kemarau pada 1 Mei lalu, debit air yang dikeluarkan berkapasitas 10 meter kubik per detik atau di bawahnya,” ujarnya.
Namun yang terjadi, kata dia, outflow-nya lebih besar dari 10 meter kubik per detik. Di mana saat itu oleh Jasa Tirta yang saluran induk Colo Timur diberikan 18 meter kubik per detik atau melebihi kebutuhan.
Hal ini tidak sesuai dengan kebutuhan riil petani di empat wilayah yang dialiran saluran induk Dam Colo Timur. Akibatnya berdampak pada kondisi air yang semestinya dibutuhkan petani di saat puncak musim kemarau lebih besar dari awal musim kemarau.
Sebab sejak awal Agustus, kapasitas air yang diberikan hanya 13 meter kubik per detik. Kemudian pertengahan Agustus diturunkan menjadi 12 meter kubik per detik, sampai September nanti direncanakan menjadi 11 meter kubik per detik.
Hal ini membuat petani protes utamanya di wilayah Karanganyar, Sragen dan Ngawi mengingat potensi kekurangan air untuk wilayah tersebut lebih besar dibandingkan Sukoharjo. Apalagi rata-rata usia tanaman padi sudah dewasa dan siap panen sehingga membutuhkan air yang lebih besar.
“Sebagai solusi mulai Selasa tepat pukul 00.00, kapasitas air dinaikkan menjadi 16 meter kubik per detik. Kapasitas ini diberikan secara flat dan diperkirakan hanya mampu mengaliri lahan pertanian di saluran induk Dam Colo Timur hingga 15 September mendatang. Kondisi tersebut lebih cepat dua pekan dari target penutupan Dam Colo Timur yang ditetapkan pada 1 Oktober,” ujar Kades Pranan ini.
Otomatis, lanjutnya, percepatan waktu penutupan saluran induk Dam Colo Timur akan berdampak pada nasib lahan persawahan yang belum memasuki masa panen dan masih membutuhkan air.
Terpisah, Ketua IP3A Dam Colo Barat Wiyoto bersikukuh menolak penutupan aliran pada 15 September. Karena itu dia tetap meminta agar penutupan tetap dilakukan sesuai dengan jadwal semula, yaitu 1 Oktober. “Kami tetap minta aliran ditutup seperti biasa, yaitu 1 Oktober. Kami tidak mau kalau dipercepat menjadi 15 September,” ujar Wiyoto. (heru susilo)

Editor : Budi Sarmun 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here