Tersangka Pembunuh Anak Kandung di Boyolali Jalani Rekonstruksi

rekonstruksi-Siti-Wakidah
REKONSTRUKSI- Siti Wakidah (30) menjalani rekonstruksi kasus pembunuhan anaknya, F (6) dirumahnya di Desa Tanduk, Ampel, Boyolali, Selasa (13/8). Reka ulang dilakukan untuk menyesuaikan kejadian di lapangan dengan keterangan tersangka. (Ari Purnomo/suaramerdekasolo.com)

*23 Adegan Diperagakan

BOYOLALI, suaramerdekasolo.com – Tersangka kasus pembunuhan terhadap anak kandung di Boyolali, Siti Wakidah (30) menjalani rekonstruksi, Selasa (13/8). Sedikitnya ada 23 adegan yang diperagakan tersangka dalam reka ulang yang diadakan di rumah tersangka atau tempat kejadian perkara (TKP) di RT 005 RW 002 Dukuh/Desa Tanduk, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Sejumlah petugas juga disiagakan di sekitar tempat rekonstruksi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. 

Kapolres Boyolali, AKBP Kusumo Wahyu Bintoro memimpin langsung jalannya rekonstruksi. Kepada wartawan, Kapolres menyampaikan, bahwa rekonstruksi tersebut dilakukan untuk mengetahui setiap kejadian yang terjadi dalam kasus yang menewaskan putra tersangka F (6).

“Reka ulang untuk mengetahui apa-apa saja yang sudah dilakukan tersangka terhadap anaknya. Selain itu juga untuk mensinkronkan keterangan tersangka dengan apa yang dilakukannya. Ini untuk memperjelas apa yang dilakukan tersangka, dan apa yang sudah dialami oleh korban,” kata Kapolres. 

Perwira menengah berpangkat melati dua di pundak itu menambahkan, dari barang bukti yang ada yakni visum terhadap korban, diketahui korban mengalami sejumlah luka. Seperti luka yang ada pada kepala dan juga luka lebam di bagian perutnya. Dan dengan adanya reka ulang ini diharapkan dapat menyesuaikan antara keterangan dari tersangka dengan kejadian yang sebenarnya.

“Dari hasil visum diketahui, korban ini mengalami luka-luka di bagian kepala. Luka tersebut diduga akibat tindakan yang dilakukan tersangka. Seperti membenturkan kepala korban dengan benda keras atau almari. Selain itu juga luka di bagian yang lain,” beber Kapolres. 

Kusumo Wahyu menduga, kekejaman tersangka karena merasa kesal dengan korban. Selain itu, masalah himpitan ekonomi juga disinyalir menjadi pemicu terjadinya kekerasan yang menyebabkan korban F meninggal dunia sehari setelah kejadian. 
 
Pada kesempatan yang sama, Kasat Reskrim Polres Boyolali, Iptu Mulyanto menjelaskan, aksi kekerasan yang dilakukan tersangka sudah terjadi sejak tiga hari sebelumnya.  “Tiga hari sebelum korban ditemukan meninggal pada 11 Juli, yakni pada tanggal 8 Juli, tersangka sudah melakukan kekerasan terhadap korban. Seperti mencakar, mencubit, memukul dan puncaknya pada tanggal 10 Juli 2019. 
Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 80 ayat (4) Undang-Undang RI No.35/2014 tentang Perlindungan Anak. (Ari Purnomo Apl)
 
Editor : Hartanto Gondes
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here