36 Kereta Kelinci Meriahkan Pawai takbir Idul Adha Pandes

6
258
pawai-idul-adha-klaten
PAWAI : Masyarakat Deaa Pandes, Wedi Klaten mengikuti pawai Idul Adha dengan mengendarai sepur mini. Selasa (13/8) malam. (suaramerdekasolo.com/Merawati Sunantri)

KLATEN,suaranerdekasolo.com – Sekitar 1.500 warga Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Klaten amhil bagian dalam Pawai Takbir Idul Adha, Selasa (13/8) malam. Pawai melibatkan 36 kereta kelinci atau sepur mini yang mengangkut jamaah masjid-masjid di Pandes.

Pawai yang diselenggarakan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Pamdes itu dimulai dari depan Balai Desa Pandes, sekitar pukul 20.00 WIB. Selain menumpang sepur mini, ada puluhan mobil tertutup dan mobil bak terbuka serta sepeda motor yang ikut dalam arak-arakan.

”Lebih dari 1500 kaum muslimin mengumandangkan takbir keliling dengan menumpang 36 kereta kelinci, satu kereta muat sekitar 40 orang. Ada juga puluhan mobil tertutup dan bak terbuka serta puluhan kendaraan roda dua,’ kata Kades Pandes Heru Purnomo di sela-sela acara.

Mereka mengumandangkan takbir sepanjang jalan yang dilewati. Dari Pandes, pawai bergerak menuju Desa Karanglo, kemudian menujuk Jagalan terus ke Tugu Wedi. Selanjutnya menuju Ngering Kecamatan Jogonalan, lalu berbelok ke Desa Jabung Kecamatan Gantiwarno, terus bergerak ke timur sampai perempatan Desa Canan Wedi.

1.000 Mangkuk Bakso

Selanjutnya, rombongan bergerak melewati Desa Pesu Wedi, terus menuju Desa Kragilan, Gantiwarno, Jogoprayan, Karangturi Gantiwarno yang berbatasan dengan Gunung Kidul. Kemudian melewati Desa Pasung, Dengkeng, Birit, Gadungan dan kembali ke depan Balai Desa Pandes.

”Kami menempuh jarak yang lumayan jauh, lebih dari 10 sampai 15-an km. Kegiatan bertujuan meningkatkan kerukunan dan keberamaan antar jamaah masjid yang ada di Pandes. Misal di satu RW ada dua masjid, mereka bergabung. Saru RW ada yang satu tapi ada juga yang empat kereta kelinci,”‘ ujar Heru Purnomo.

Dia menambahkan, pawai takbir Idul Adha sudah digelar selama 4 kali. Namun pawai dengan naik kereta kelinci baru dilakukan dua kali. Sebelumnya, mereka menggelar pawai jalan kaki dan makan 1.000 mangkok bakso bersama.

”Kami sengaja memilih pawai takbir pada hari tasyik agar warga sudah tidak sibuk. Kalau Idul Fitri hanya sehari, semua sibuk silaturahim, begitu juga pada malam Idul Adha dan hari pertama Idul Adha semua sibuk mengurus kurban, jadi dipilih hari ketiga,” kata dia.(Merawati Sunantri)

Editor : Budi Sarmun

 

6 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here