Membangun Ruang Kesenian Di Pedesaan

0
72
KENDURI BUDAYA : Salah satu penyajian kesenian tradisional yang digelar pada Kenduri Seni Budaya 2019 di Dukuh Karanggotan, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Klaten pekan lalu.(suaramerdekasolo.com/Sri Wahjoedi)


KLATEN,suaramerdekasolo.com – Guyub, gotong royong dan kebersamaan warga desa, hadir dalam kegiatan Kenduri Seni Budaya 2019 yang digelar warga Karanggotan, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten. Pada kegiatan yang digelar selama sepekan itu, hadir beragam kesenian maupun bentuk budaya masyarakat termasuk kepeduliannya terhadap lingkungannya.

Kegotongroyongan, keguyuban serta kebersamaan dalam terlibat dalam kegiatan seni budaya memang menjadi tujuan utama. Ratusan warga dari RW 15 Karanggotan dan didukung empat RW lainnya, tidak hanya pada acara kesenian, namun juga pada bidang lain termasuk resik-resik lingkungan desa yang sarat dengan situs budaya, seperti sendang Gotan, situs Watu Sigong, sumber air Umbul Kroman maupun bendungan air peninggalan kolonial serta embung air untuk irigasi pertanian.Acara itu digelar bersama Yayasan

”Desa Mranggen memang di kelilingi beberapa situs yang sampai sekarang masih dirawat warga. Termasuk Sendang Gotan yang tiap tanggal 20 bulan Ruwah diadakan upacara nawu sendang. Sementara di bawahnya ada bendungan air peninggalan Belanda yan difungsikan membagi saluran irigasi,” kata Ketua RW 15 Dusun Karanggotan, Suparman sekaligus ketua Yayasan Sendang Gotan selaku penyelenggara.

Situs Watu Sigong bentuknya baru yang menyerupai sejumlah instrumen gamelan, seperi gong, kenong, dan ricikan balungan. Sedang umbul Kroman yang debit airnya cukup besar banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga warga. Selain itu juga digelar sarasehan untuk membahas kiprah warga dalam keikutsertaannya pada pelestarian budaya.

Menurut Suparman yang juga Kepala Seksi Pameran dan Pertunjukkan, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta(TBS), kegiatan itu sebenarnya sudah berlangsung empat kali namun tidak berurutan.
”Kali ini kami mencoba mengadakan lagi sebagai upaya melestarikan budaya baik kesenian maupun tradisi masyarakat yang tumbuh di desa. Kami libatkan warga masyarakat desa sebagai ujung tombak agar mereka tidak hanya sebagai penonton tetapi terlibat langsung dalam proses budaya,”tambahnya.

bentuk-budaya-masyarakat2

Selain kegiatan untuk menjaga lingkungan hidup pedesaan dan situs yang ada, sebuah panggung didirikan di lapangan desa untuk memberikan ruang dan tempat bagi warga mengekspresikan olah seni. Mereka mempunyai potensi dan menghidupkan beragam bentuk kesenian yang kemudian ditampilkan di panggung. Selamai ini kegiatan kesenian lebih dipusatkan di kota, kami mencoba menghadirkan panggung kesenian di desa,” ujarnya.

Beberapa bentuk kesenian yang ditampilkan antara lain tari, musik, pentas ketoprak serta pameran lukisan. Selama tujuh hari suasana desa tampak ramai dan meriah dengan tampilnya sejumlah warga yang naik panggung. Kelompok Ketoprak Ngampung dari Solo pun ikut tampil dengan melibatkan sejumlah warga yang mempunyai ketertarikan dalam seni teater tradisional itu.
Pengamat budaya yang juga menjadi nara sumber sarasehan, ST Wiyono menyebut, kegiatan itu layak dilestarikan sebagai bentuk kepedulian warga masyarakat. Mereka tidak hanya menjadi penonton maupun penikmat, namun ikut terlibat langsung dalam upaya pelestarian.

”Menarik memang. Sebuah desa mampu swasembada dalam berkesenian dan membangun budaya yang ada untuk tetap hidup dan berkembang. Bisa jadi Kenduri Seni Budaya itu menjadi destinasi wisata budaya. Perpaduan seni budaya dan lingkungan desa yang masih kuat diwarnai tradisi masyarakat serta persawahan akan menjadi tujuan wisatawan,” katanya.(Sri Wahjoedi)

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here