Rocker Legendaris Didik Ermas ”Menyusul Habitatnya”

0
215
Almarhum-Didik-Ermas1
DI LEO ROCK : Rocker senior yang gampang beergaul dengan segala usia dalam berkesenian di panggung, diteladankan Didik Ermas sampai di grup terakhir temtanya bertahan, yaitu grup Leo Rock.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Bertahan Sampai di Tiga Grup

GARIS BATAS semangat Prih Wardoyo Adi Karso hanya sampai Rabu sore pukul 14.50 WIB (14/8), saat menghembuskan nafas terakhir di sebuah rumah sakit di Solo Baru di usianya 62 tahun. Sampai di situlah pula, kegigihan almarhum untuk terus mengobarkan semangat bermusik cadas di kalangan masyarakat Solo Raya, bahkan lebih luas lagi, khususnya di kalangan generasi muda.

Penabuh bas grup rock Magnum Band (1980-an) yang dijemput ajal di usia 62 tahun itu, kini sudah tiada. Jenazahnya, siang pukul 14.00 ini diberangkatkan dari rumah duka Kampung Purwosari, Jalan Menur no 2, Laweyan, Solo, menuju TPU Astana Tondonegaran, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.
Riwayat musik rock di Solo ”selesai”? Jawabannya bisa ”ya”, bila melihat tanda-tandanya yang sangat jelas ketika Taman Hiburan Remaja (THR) Sriwedari berakhir operasionalnya alias tutup selamanya mulai Januari 2018.

Sebab, tempat rekreasi itulah yang menjadi ajang sepak-terjang para insan rock di Solo Raya, bahkan lebih luas lagi, sampai Kota Bengawan ini diakui menjadi kiblat sebagai habitat rock yang paling baik selama 30-an tahun sejak 1985, oleh masyarakat rock di tanah air.

Almarhum-Didik-Ermas2
SOSOK ROCKER : Alamarhum Didik Ermas adalah sosok rocker sejati yang sudah senior dan legendaris di Solo Raya.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Almarhum-Didik-Ermas3

Lalu, bagaimana eksistensi rocker legendaris yang lebih dikenal dengan nama besarnya di panggung Didik Ermas itu?. Yang jelas, sepeninggal pendiri sekaligus tempat bertahan almahum di grup Magnum band, Kaisar Band dan terakhir Leo Rock itu sampai THR Sriwedari tutup, semangatnya untuk terus berjuang demi ”perpanjangan” nafas rock di Solo Raya tetap dilakukan dan terus digalang di mana saja, sebagai upaya untuk mencari pengganti THR yang sudah ”almarhum”.

Kesimpulannya, antara THR Sriwedari dan Didik Ermas nyaris tidak terpisahkan, bahkan dua nama itu seakan sepertidua permukaan mata uang ketika berbicara soal musik rock di Solo Raya. Tetapi, itu semua nyaris lewat dari pandangan publik secara luas, karena pendiri Paguyuban Artis Rock Surakarta (Pagars) di akhir tahun 1990-an itu kini sudah tiada.

”Yang saya tahu dari pengalaman saya sebagai manager program acara di THR Sriwedari, mas Didik (Didik Ermas-alm) adalah rocker sejati yang totalitas. La wong musisi sebesar beliau kok masih mau ngurusi Pagars, ngurusi penyelenggaraan pentas rock, ke mana-mana cari sponsor, berurusan dengan kami (THR) lalu tampil jingkrak-jingkrak di panggung dengan grupnya. Beliau itu musisi tidak wegahan, sangat peduli dengan dunianya, peduli dengan generasi penerusnya. Pokoknya orang yang sangat luwes bergaul,” ujar Anik (55), mantan manajer pemasaran sampai THR berakhir operasionalnya, saat dihubungi suaramerdekasolo.com tedi pagi.

Apa yang dilukiskan Anik itu, memang hampir mewakili semua sifat dan karakter sosok pribadi panabuh bas yang sampai akhir hayat tinggal di kampung Ngarak-arak, selatan jembatan Bacem, Grogol, Sukoharjo. Termasuk yang diungkapkan Edy Kistoro, pimpinan grup dangdut (OM) Ervana ’87 Solo, yang sering diajak kerjasama almarhum dalam sebuah pentas pertunjukan musik rock dan dangdut, baik di THR Sriwedari maupun di beberapa kota di luar Solo.

Almarhum-Didik-Ermas4
SEBAGAI SAHABAT : Sebagai sahabat akrab, Hary (bertopi) sebagai melodi grup Fast Band, ketika tampil bersama grupnya di event rock yang diinisiasi Didik Ermas (alm) selaku Ketua Pagars di THR Sriwedari, jauh sebelum 2018. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Menurut Edy, almarhum yang sempat menjadi EO sekaligus membimbing musisi-musisi rock muda itu adalah rocker yang konsisten di genrenya. Agak berbeda dengan sahabat akrabnya di tiga grup terkenal di Solo raya itu, yaitu almarhum Edy Brink (melodi), yang karena tuntutan kebutuhan hidup ”terpaksa” sesekali keluar dari genrenya, ketika mendapat tawaran OM Ervana ’87 untuk pentas dangdut atau grup-grup campursari lain.

”Dia memang rocker sejati. Senior yang peduli dengan generasi-generasi penerusnya. Namanya jelas sudah besar untuk ukuran nasional. Karena, grupnya pernah beberapa kali ikut festival rock skala nasional, misal yang diadakan Log Zelebor (Surabaya) tahun 1990-an silam. Sampai grupnya sangat dikenal dengan albumnya yang berjudul ‘Kerangka Langit’,” tutur Edy kepada suaramerdekasolo.com mengisahkan sepak terjang almarhum.

Kesaksian tentang sosok Didik Ermas sebagai senior rocker yang melegenda di Solo, tentu datang dari Harry pemetik melodi grup Fast band) saat dihubungi di tempat terpisah, tadi pagi. Karena, yang pernah dialaminya sebagai sesama musisi rock, yang sangat sering sepanggung dalam berbagai event musik rock di Solo terutama di THR Sriwedari, maupun di kota-kota lain dalam grup yang berbeda. Didik Ermas dipandang sebagai senior yang ”blater” atau mau bergaul dengan semua musisi rock, bahkan di luar genre rock, yang rata-rata berusia di bawahnya.

Semalam, rumah duka di Purwosari itu sudah dipenuhi pelayat yang sebagian besar kalangan insan rock yang kenal, pernah bekerjasama dan sahabat-sahabat dekat almarhum. Siang ini, jenazah almarhum akan dilepas oleh keluarga yang terdiri dari istri (Nis Hidayati), tiga anak dan menantu serta 4 cucunya bersama kalangan insan rock lain, menuju TPU.

Almarhum-Didik-Ermas5
SESEPUH ROCKER : Ketika manajemen THR Sriwedari mengumumkan rencananya untuk pindah dan mencari solusi sebelum kandas dan tutup sama sekali, Didik Ermas (alm) seakan menjadi sesepuh yang mewakili insan rock yang dimintai saran dan masukannya(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kepergian Didik Ermas yang diduga meninggal akibat serangan jantung itu, seakan menyusul sahabarnya Edy Brink (melodi) yang sudah lebih 3 tahun mendahuluinya. Juga Jaya, yang pernah bergabung dalam grup Leo Rock sebagai vokalis, yang sudah lebih 2 tahun mendahuluinya.
Senior-senior rocker di Solo memang sudah berguruan satu persatu. Meskipun jarak waktunya agak jauh ketika dibanding rocker-rocker asli Solo yang lahir di tahun 60-an, seperti grup Yap Brothers, Scorlies, The Terncem yang vokalisnya (Bernard Suparnadi-alm) pernah menjabat Pembantu Rektor III di UNS itu.

Rocker-rocker kembali lahir baru di tahun 1980-an mulai dari Spektrum Band, Kaisar Band dan Magnum Band hingga Metal Force Band milik Ervana Group yang personelnya sudah ada yang mendahului, meski usia grupnya terhitung lebih muda karena baru muncul tahun 1990-an.
Melihat gelagat dan tanda-tanda itu, musik rock di Solo Raya sepertinya akan benar-benar akan ”selesai” menyusul ”selesainya” ajang habitat rock THR Sriwedari. Tetapi, generasi baru rock

sepertinya juga sulit dibendung dan akan tetap bermunculan, karena ajang-ajang baru di berbagai kafe, hotel dan restoran masih menyediakan ruang berkiprah Terlebih panggung-panggung baru yang pernah dijajal Didik Ermas, macam di Boyolali, Karanganyar dan Wonogiri yang membuka pintu begitu lebar, walau masih bututh waktu untuk benar-benar menjadi habitat rock yang sesunggunya, seperti halnya THR Sriwedari. (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here