Mulyanto Utomo Luncurkan Buku Orang Lumpuh Naik Haji

0
24
buku-lumpuh-mulyanto
LUANCHING BUKU :Mulyanto Utomo berbicara saat peluncuran buku di Solo. (suaramerdekasolo.com/Evie Kusnindya)
SOLO,suaramerdekasolo.com-Pengalaman mantan wartawan senior Mulyanto Utomo yang menggunakan kursi roda menunaikan ibadah haji di Tanah Suci setahun lalu dituangkan dalam buku “Orang Lumpuh Naik Haji” yang diluncurkan, Sabtu (17/8).
 
Sebagai penyandang disabilitas setelah mengalami kecelakaan sembilan tahun lalu, menjalankan ibadah haji merupakan perjuangan tersendiri. 
 
“Niat saya menulis buku ini adalah ingin membagi cerita sekaligus pencerahan dan mampu menginspirasi pihak lain, ” kata Mulyanto dalam acara launching dan bedah buku Orang Lumpuh Naik Haji yang digelar di Taman Sari Restoran.
 
Ia yang mengalami keterbatasan fisik sempat mengalami hambatan akses  saat keberangkatan ke Tanah Suci. Saat menerima informasi bahwa ia akan berangkat haji tahun 2017, Mulyanto sempat gamang apakah ia mampu melaksanakan seluruh ritual haji. 
 
Akhirnya,  sebelum melaksanakan ibadah haji pada 2017, Mulyanto meutuskan untuk melakukan umroh sekaligus untuk mempelajari situasi dan kondisi saat berhaji. Ibadah tersebut membuatnya yakin jika ia mampu untuk menjalankan haji. 
 
Namun kendati demikian,  ia mengaku jika berhaji sangat berbeda dengan umroh.  Mulai persiapan hingga keberangkatan sempat terkena beberapa halangan seperti kehilangan kursi roda dan lain sebagainya.  
 
“Arofah, Musdalifah dan Mina atau Armina adalah perjuangan haji yang sesungguhnya. Sebab mobilitas saya sebagai penyandang difabel paraplegia terbatas dan membutuhkan bantuan orang lain,  sementara ritual ibadah haji membutuhkan kekuatan fisik yang prima,” papar Mulyanto.  
 
Pertolongan Alloh
 
Namun pertolongan dan kemudahan dari  Allah selalu datang pada waktunya. Mulyanto menemukan banyak hikmah.
Teman selama berhaji banyak mensupport dan membantu perjalanan ibadahnya.
Di Tanah Suci,  Mulyanto juga menemukan banyak pelajaran kehidupan serta hal hal yang memotivasinya.  Salah satunya adalah jamaah haji sepasang sumi istri yang juga teman sekloternya meninggal hampir bersamaan di Tanah Suci. 
 
“Pengguna kursi roda di Tanah Suci banyak,  namun mungkin yang penyandang paraplegia dimana kaki tak bisa digerakkan sama sekali hanya sedikit. Saya harus merelakan digendong saat naik turun dari bus saat melaksanakan rukun haji,” paparnya. 
 
Kepada seluruh yang hadir dalam peluncuran bukunya,  Mulyanto berpesan agar ketika berniat ibadah,  selain doa juga disertai keyakinan bahwa akan banyak kemudahan dibalik kesulitan. (Evie Kusnindya) 
 
Editor : Budi Sarmun
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here