37 Kontingen Meriahkan Karnawal Budaya

Karnawal-Budaya-Klaten
TARI ACEH : Salah satu peserta karnaval budaya dari Amigo Grup menampilkan tarian Aceh di depan panggung kehormatan, Minggu (18/8).(suaramerdekasolo.com/Merawati Sunantri)

RIBUAN masyarakat Klaten tumpa di sepanjang Jalan Pemuda, pada Minggu (18/8) sejak tengah hari. Mereka menyaksikan arak-arakan peserta karnaval budaya yang digelar dalam rangka memperingatai Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-74.

Ada 37 kontingen yang ambil bagian dalam kegiatan tahunan tersebut, termasuk kontingen dari 26 kecamatan yang ada di Klaten. Semua peserta berusaha menampilkan potensi seni budaya yang ada di wilayahnya, baik tarian maupun atraksi seni budaya.

‘’Karnaval budaya diikuti 37 kontingen, terdiri atas 26 kecamatan, sanggar-sanggar budaya, sekolah dan organisasi masyarakat yang ada di Klaten. Semua diberikan kesempatan tampil di depan panggung kehormatan,’’ kata Plt Kepala Disparbudpora Klaten, Wahyu Prasetyo.

Arak-arakan berjalan menyusuri Jalan Pemuda menuju panggung ke kehormatan di depan rumah dinas Bupati Klaten. Hadir Bupati Sri Mulyani, jajaran Forkompimpda, para pejabat, tokoh masyarakat Klaten dan tamu undangan.

Berbagai atraksi ditampilkan mulai dari marchingband, tari-tarian, musik dan lainnya. Semua peserta berlomba menampilkan atraksi terbaik. Namun, beberapa penonton mengeluhkan karena ada peserta yang terkesan seadaanya sehingga kurang menarik, mereka hanya berjalan dan tidak memakai busana karnaval. Namun, lebih banyak peserta yang berusaha tampil maksimal.

Ada sejumlah atraksi yang cukup mendapat sambutan masyarakat seperti tari barongsai dari SMP Krista Gracia, tarian naga (liong Samsi) dari Paguyuban Dharma Bakti, tarian Aceh kolosal dari Amigo Grup, tari topeng ireng dari beberapa kecamatan dan masih banyak lagi.

Potensi Seni Budaya Tradisional

Bupati Sri Mulyani berharap agar karnaval budaya menjadi ajang bagi peserta untuk menampilkan potensi seni budaya tradisional yang ada. Dengan demikian, maka kegiatan itu bisa sekaligus nguri-nguri budaya dan mengajak masyarakat khususnya generasi muda untuk mencintai budaya sendiri. Bupati sempat berfoto bersama penari Barongsai dari SMP Krista Grasia dan penari Aceh dari Amigo Gruo.

‘’Kami menampilkan potensi Kecamatan Juwiring berupa kerajinan payung kertas yang sudah cukup dikenal dan tarian jathilan,’’ kata Camat Juwiring, Herlambang Joko Santoso di sela-sela pelaksanaan karnaval.

Peserta dari sekolah biasanya bergabung dalam kontingen kecamatan, dan ada peserta yang tidak menampilkan atraksi. ‘’Ada peserta yang bagus, tapi sepertinya ada yang asal ikut saja tidak berdandan karnaval dan tidak ada atraksi. Kalau saya, baiknya peserta disaring jadi yang menarik saja yang ikut dan bisa atraksi lebih lama,’’ kata Azkiya (15) salah satu penonton warga Tegalyoso.

Dalam acara itu, sejumlah penari bertelanjang kaki sempat kepanasan ketika tampil ke panggung kehormatan, sehingga didatangkan mobil tangki PDAM untuk menyiram aspal di depan panggung. Satu demi satu peserta tampil. Bila penampilan melebihi durasi waktu yang ditetapkan, maka panitia akan mempersilahkan peserta yang lain tampil agar semua peserta mendapat kesempatan tampil sebelum matahari terbenam.(Merawati Sunantri)

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here