Pertama di Solo Raya, Bersih-bersih Telinga Massal Diikuti 635 Siswa SD

0
254
bersih-bersih-telinga1
PERIKSA TELINGA : Seorang guru diperiksa telinganya oleh seorang dokter THT pada acara Bersih-Bersih Telinga di SDN 76 Joglo, Sabtu lalu.(suaramerdekasolo.com/Sri Wahjoedi)

 

SOLO,suaramerdekasolo.com – Pemeriksaan kesehatan gratis sudah sering dilakukan baik untuk kesehatan umum maupun khusus seperti mata dan gigi. Namun selama ini masih jarang pemeriksaan kesehatan telinga, hidung dan tenggorokan (THT), seperti yang berlangsung di SDN 76 Joglo, Banjarsari Solo, Sabtu lalu.

Sebanyak 30 dokter THT yang tergabung dalam Perhimpunan Ahli THT Indonesia (Perhati) Cabang Solo dan Komite Daerah Pelanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian Telinga (PGPKT) Kota Surakarta bersama Panitia HUT Ke-50 Gereja Kristen Jawa (GKJ) Nusukan, Solo, pemeriksaan telinga dalam acara Bersih-Bersih Telinga (BBT).

Sebanyak 635 siswa yang berasal dari SDN Joglo, SD Sambirejo, SD KAdipiro dan SD Prawit diperiksa kesehatan telinganya. Selain siswa sejumlah guru dan warga sekitar juga mendapatkan pemeriksaan sarana pendengaran itu.

”Ini untuk kali pertama di Solo diadakan pemeriksaan telinga. Selama ini yang sering dilakukan pemerintah maupun masyarakat baru pemeriksaan kesehatan mata maupun gigi, sedang untuk telinga, hidung dan tenggorokan jarang dilakukan,” kata Ketua Perhati Solo, dr Iwan Setiawan Adji.

Menurutnya, telinga merupakan juga termasuk organ tubuh yang penting bagi manusia. Kesehatan telinga juga perlu diperhatikan agar pendengarannya baik dan tidak terjadi gangguan pendengaran dan ketulian.

”Memang kegiatan seperti BBT kurang mendapat perhatian seperti pemeriksaan kesehatan organ tubuh lainnya. Padahal kesehatan telinga juga sangat vital. Masih banyak warga yang malu memakai alat bantu pendengaran, yang kini juga sudah modern seperti halnya earphone yang sering dipakai pengguna HP,” ujarnya.

bersih-bersih-telinga2
PERIKSA TELINGA : Salah seorang siswa ketika diperiksa telinganya oleh seorang dokter THT pada Bersih-Bersih Telinga di SDN 76 Joglo,Sabtu lalu. (suaramerdekasolo.com/Sri Wahjoedi)


Sementara menurut dr Eko Tavip Riyadi, Ketua Panitia HUT Ke-50 GKJ Nusukan yang juga Ketua Komda PGPKT Surakarta acara BBT yang dilakukan dengan memeriksa kebersihan telinga.
”Pemeriksaannya singkat saja. Apa telinga ada kotoran yang bisa menyumbat pendengaran atau ada gangguan pendengaran,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan, katanya tidak ditemukan adanya gangguan pendengaran yang dialami para siswa. Meski begitu kalau sampai ada yang mengalami gangguan akan diupayakan membantu penderita ketulian dengan dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan selanjutnya.

Diakuinya, sampai sekarang masih banyak penderita gangguan pendengaran atau ketulian yang masih jarangan memakai alat bantu. Mungkin mereka malu disebut orang tuli dengan memakai alat bantu pendengaran. Di samping itu alat bantu yang modern yang dimasukkan di belakang telinga sehingga tidak kelihatan, harganya masih cukup mahal.

”Padahal saat ini banyak orang menggunakan HP juga memakai earphone yang bentuknya mirip alat bantu untuk penderita kurang pendengaran atau ketulian. Semoga gerakan BBT kali ini menjadi penyadaran bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan telinga. PGPKT dan Perhati siap membantu,” tambahnya.(Sri Wahjoedi)

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here