Intoleran Muncul Akibat Pendidikan Pancasila Dipinggirkan

0
diskusi-intoleransi
SEMINAR: Sejumlah tokoh menjadi pembicara dalam kegiatan Seminar Nasional Pancasila sebagai Platform Pembangunan dan Kebudayaan yang digelar di auditorium UNS. (suaramerdekasolo.com/Evie Kusnindya)

SOLO suaramerdekasolo.com – Salah satu kelemahan pendidikan Pancasila di sekolah maupun jenjang perguruan tinggi yakni kurangnya keteladanan tokoh yang bisa dihadirkan di kelas untuk memberi contoh pada peserta didik. 

“Pancasila bukan semata mata filsafat,  bukan sekadar sejarah masa lampau namun ideologi masa depan yang selalu memberikn harapan. Karena itu Pancasila harus jadi pegangan generasi muda. Sayangnya,  tokoh keteladanan yang bisa memberikan contoh konkret dan dihadirkan oleh pendidik ke ruang kelas masih sangat kurang, ” kata Plt Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)  Prof Dr Hariyono di sela sela kegiatan Seminar Nasional Pancasila sebagai Platform Pembangunan  dan Kebudayaan yang digelar di auditorium UNS, Senin (19/8).  

Ditambahkan Hariyono sejak era reformasi dimana pendidikan Pancasila tidak lagi diarus utamakan dalan dunia pendidikan selama satu dasawarsa ini,  sikap intoleran, radikal dan lainnya mulai muncul. 

Karena itu BPIP berupaya merangkul kembali semua pihak untuk bisa kembali ke rumah pancasila. Hal itu dilakukn dengan menggelar kegiatan sosialisasi pancasila di berbagai tempat. Pada Senin (19/8), sebanyak 12 titik di kampus UNS digelar kegiatan sosialisasi pancasila serentak, sementara di luar kampus sebanyak 6 titik.

Permainan Edukatif 

Hariyono menegaskan jika pancasila itu harus diajarkan dengan cara-cara yang menyenangkan. Hal itu di antaranya melalui permainan edukatif dan lainnya dimana  siswa dikenalkan dengan nilai-nilai toleransi,  kerjasama, menghormati orang lain dan lainnya.

Dengan cara tersebut, anak TK dan PAUD itu hafal dan memahami Pancasila. Sementara untuk siswa  SMP SMA dan mahasiswa bisa dengan pembelajaran luar kelas serta memiliki  laboratorium sosial yang ada di kampung-kampung untuk pembelajara. 

“Pancasila adalah konstruksi yang harus dirawat sehingga inilah forum-forum semacam ini kita bisa saling mengingatkan bahwa Pancasila itu digali dan harus dilestarikan sehingga Pancasila tidak berhenti pada abstraksi filsafat tetapi bisa menjadi lagu hidup,” katanya.

Ditegaskan, Pancasila seharusnya diajarkan dengan cara-cara yang menyenangkan. Untuk anak  usia TK dan PAUD  misalnya  melalui permainan yang mengkenalkan dengan nilai-nilai kerjasama menghormati orang lain dan lain sebagainya. Sementara untuk jenjang SMP SMA serta mahasiswa,  mereka bisa diajak dengan kegiatan luar kelas fan belajar dari lingkungan.  Mereka juga bisa memiliki laboratorium sosial yang ada di kampung-kampung.(Evie Kusnindya) 

Editor : Budi Sarmun 

 

Tinggalkan Pesan