Pomo Warih Belajar Lebih Bersabar

0
41
pomo-warih-adi
FOTO DIRI : dosen di Fakultas Keolahragaan (FKor) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). (suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

 

MENDAPAT tugas sebagai personel pendukung tim pelatnas sepak bola celebral palsy (CP) National Paralympic Committee Indonesia (NPCI), membuat Pomo Warih Adi harus belajar lebih bersabar. Sebab dia tidak hanya membantu pelatih Anshar Ahmad untuk meningkatkan kemampuan fisik dan teknik para pemain sepak bola difabel proyeksi ASEAN Para Games (APG) Filipina 2019.

Namun pria 37 tahun yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen di Fakultas Keolahragaan (FKor) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) tersebut juga mesti turut menyelami pemahaman dan situasi psikologis 13 pemain yang berada dalam skuadnya.

‘’Selama ini saya juga melatih anak-anak di sekolah sepak bola (SSB) Bonansa-UNS. Jadi tidak perlu waktu lama untuk belajar lebih sabar dalam tim pelatnas sepak bola CP, karena mereka sering lupa atas materi yang pernah diberikan pelatih,’’ kata Pomo, usai turut membantu latihan tim sepak bola CP di lapangan Baturan, Colomadu, Jumat (23/8).

Kebetulan salah satu mata kuliah yang diampunya di UNS adalah teori dan praktik sepak bola. Maka keahlian yang dimilikinya di kampus tersebut kemudian diterapkan dalam mendampingi tim sepak bola difabel tersebut.

Mengacau Pertahanan

Pomo mengakui, dirinya pernah berkecimpung sebagai pemain bola, kendati bukan merupakan atlet profesional. Ketika masih kuliah di strata-1, dia pernah bermain untuk tim UNS pada musim 2004-2005. Berbagai laga di ajang kompetisi internal Persis Solo pun diikutinya, kendati di eranya, skuad UNS tak pernah merebut gelar juara.

‘’Dulu saya dipasang sebagai striker, tapi spesialis mengacau pertahanan lawan, karena tak pernah cetak gol. Saya juga pernah ikut seleksi masuk tim Persis Madya, tetapi gagal. Saya memang tidak punya basic sebagai atlet sepak bola,’’ tutur bapak tiga orang anak itu sambil tertawa.

Kini, warga Sawahan Kecamatan Ngemplak, Boyolali tersebut lebih senang menerapkan ilmu akademiknya di lapangan. Lelaki kelahiran Wonogiri, 25 Desember 1982 itu pun bertekad lebih mendalami ilmu olahraga dengan meneruskan studi di strata-3 Ilmu Keolahragaan UNS.

‘’Sebagai tenaga pendidik, saya ingin lebih banyak menguasai ilmu olahraga. Tentu saja semua itu bakal turut membantu pengembangan praktik olahraga di lapangan,’’ ujar suami Dwi Atmasari tersebut.(Setyo Wiyono)

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here