Tega, Sepasang Kekasih Lakukan Aborsi

0
39
ABORSI : Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi meminta keterangan pada tersangka aborsi di Mapolres, Jumat (23/8). (Suaramerdekasolo.com/Heru Susilo)

SUKOHARJO,suaramerdekasolo.com – Mengaku tidak mendapat restu dari orangtua, sepasang kekasih di Nguter nekat melakukan aborsi. Akibatnya, bayi yang ada dalam kandungan tersebut meninggal.

Akibat perbuatan itu, dua kekasih yang tak lain adalah Dian Pirmansyah (22) dan Siti Halimah (22) harus berurusan dengan kepolisian. Saat ini, keduanya diamankan di Mapolres Sukoharjo, hanya saja untuk SH belum ditahan karena kondisinya masih lemah usai aborsi. Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi mengatakan, pengungkapan kasus tersebut berawal dari laporan masyarakat.
Dari tangan pelaku polisi mengamankan tiga keping obat jenis cytotex, 14 butir EM Kapsul, 14 kapsul obat warna cokelat, satu bungkus bekas EM Kapsul, satu buah amplop bekas pengiriman online, satu buah bekas plastik bening pengiriman JNE, satu botol Sprite ukuran 390 mililiter dan sembilan lembar tisu basah.
“DP yang berinisiatif mencari info penjualan obat online. Keduanya lalu sepakat untuk melakukan aborsi. Mereka melakukan aborsi dengan meminta SH meminum obat aborsi bersama minuman soda,” kata Kapolres.
Obat yang tersebut kemudian SH selama dua jam sekali. Bahkan DP selalu membantu pacarnya untuk memasukan obat cytotex tersebut ke kemaluan SH. Namun saat melihat kondisi sang pacar yang lemas dan kesakitan, DP memanggil tetangga untuk meminta bantuan.
Kepada tetangga, DP mengaku pacaranya masuk angin. padahal saat itu lahir seorang bayi berjenis kelamin laki-laki dalam keadaan meninggal. “Saat ditemukan bayi tersebut dibungkus dengan kain jarik warna coklat. Sedangkan SH langsung dibawa ke RS PKU Muhammadiyah Wonogiri,” papar AKBP Iwan.

Dari penyelidikan yang dilakukan, diketahui bahaw DP berinisitif dan sepakat dengan SH untuk menggugurkan kandungan yang telah berusia sekitar 7 bulan. Mereka nekad menggugurkan kandungannya dengan modus hubungan mereka tidak direstui orangtua. “Keduanya kini dijerat dengan pasal 75 ayat 1 UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang kesehatan, juncto 194 UU RI No 35 tahun 2009 tentang kesehatan, juncto pasal 348 ayat 1 KUH Pidana, juncto pasal 55 ke (1e) KUH Pidana dengan masa hukuman maksimal sepuluh tahun penjara,” terang AKBP Iwan.
Di depan petugas DP mengaku mengetahui obat-obatan tersebut melalui internet dan memesannya lewat online. Dian mengirimkan uang via transfer sebesar Rp 3 juta dan mendapatkan satu paket obat aborsi.
“Aborsi kami lakukan karena hubungan kami tidak disetujui. Saya membeli obat aborsi dengan membeli secara online. Saya meminta SH untuk melakukan aborsi dan dia mau. Lalu kami melakukan aborsi,” katanya. (Heru susilo)

EDITOR : Budi Santoso 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here