Cokelat Menggebrak Wonogiri

konser-cokelat
FOTO BERSAMA : Para personel band Cokelat foto bersama penggemarnya saat tampil dalam rangka Pesta Rakyat Hari Ulang tahun ke-69 Provinsi Jateng di Alun-alun Kabupaten Wonogiri, Sabtu malam (24/8). (suaramerdekasolo.com/Dok)
WONOGIRI,suaramerdekasolo.com –  Grup musik papan atas Indonesia, Cokelat menyuguhkan penampilan yang menggebrak saat tampil dalam rangka Pesta Rakyat Hari Ulang tahun ke-69 Provinsi Jateng di Alun-alun Kabupaten Wonogiri, Sabtu malam (24/8). Mereka membawakan lagu-lagu terbaiknya.
 
Band yang beranggotakan Ronny Febry Nugroho (bass), Edwin Marshal Sjarif (gitar), Jackline Rossy (vokal), dan Axel Andaviar (drum) itu sejak awal tampil menggebrak. Mereka membawakan lagu-lagunya yang berjudul Garuda, Bendera, Karma dan beberapa lagu mereka yang pernah hits di tangga lagu Indonesia. Selain itu, mereka juga membawakan lagu Iwan Fals yang berjudul Pesawat Tempur.
 
Sebelumnya, Alun-alun Wonogiri telah “dipanaskan” dengan penampilan Yoda Idol. Dia juga tampil apik dengan lagu-lagu bernuansa rock, seperti lagu band bad English berjudul when i see you smile, lagu dari band Guns and roses berjudul sweet Child O’ Mine, dan lagu dari band Dream Theater berjudul The Spirit Carries On.
 
Dalam waktu hampir bersamaan, Ketoprak eksekutif berjudul Laskar Bumi Nglaroh digelar di halaman pendapa Kabupaten Wonogiri. Para pejabat Pemprov Jateng maupun Pemkab Wonogiri ikut menjadi pemeran dalam ketoprak tersebut.
 
Ketoprak
 
Sejumlah pejabat yang ikut bermain ketoprak, antara lain Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berperan sebagai Raden Mas Said, Sekretaris Daerah Provinsi Jateng Sri Puryono berperan sebagai Pangeran Mangkubumi, Bupati Wonogiri Joko ‘Jekek’ Sutopo berperan sebagai Jenderal Nicolas, Ketua DPRD Wonogiri Setyo Sukarno sebagai Kapten Vanderhoot, dan Dandim 0728/Wonogiri sebagai Kapten Vanhendrof. 
 
Mereka memainkan ketoprak berjudul Laskar Bumi Nglaroh yang menceritakan perjuangan Raden Mas Said dalam melawan penjajah Belanda. Belanda yang kewalahan berusaha mengadu domba antara Raden Mas Said dengan Pangeran Mangkubumi.
 
Namun, semangat yang ditanamkan Raden Mas Said kepada para pengikutnya mampu membuat Belanda kocar-kacir. Raden Mas Said yang juga berjuluk Pangeran Sambernyawa itu menanamkan semboyan tiji tibèh, yang merupakan singkatan dari mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh (gugur satu gugur semua, sejahtera satu, sejahtera semua). Dengan semboyan itu, rasa kebersamaan pasukannya terjaga. Ketoprak tersebut juga dihadiri bintang tamu Marwoto dan Yati Pesek. (Khalid Yogi)
 
Editor : Budi Sarmun
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here