Harga Terjun Bebas, Petani Sayur Merugi

sayur
PANEN: Seorang pekerja memanen sayuran sawi hijau di lahan Desa Tempursari, Kecamatan Sambi. (Suaramerdekasolo.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI,suaramerdekasolo.com – Di tengah meroketnya harga cabai, petani sayuran malah merugi. Pasalnya, harga sayuran merosot tajam sehingga petani merugi. Saat ini harga sayuran yang biasa ditanam petani di kawasan berhawa panas seperti bayam, sawi, kangkung, keningkir sangat murah. Sejak sepekan ini, harga sayur di tingkat petani hanya dihargai Rp 150 per ikat.“Harga hancur- hancuran sehingga petani merugi,” ujar Bhawono (40), petani sayuran asal Desa Tempursari, Kecamatan Sambi.

Dia mengaku sebagian besar lahannya ditanam sayuran jenis sawi hijau dan sebagian kecil ditanami kacang panjang. Sawi hijau biasa digunakan untuk campuran mi ayam. Namun, kini tanaman tersebut hanya dibiarkan di lahan dan tidak dipanen. “Bayangkan, harganya hanya Rp 150/ikat, kami dapat apa ?”

Biasanya, sebelum tanaman sawi menua, sudah banyak pedagang yang antri untuk memborong sawi hasil tanamannya. Namun, sejak tiga pekan lalu, harga sayuran itu sudah mulai turun. Yang paling terasa sejak sepekan ini. Dia pun hanya bisa pasrah atas kondisi ini. “Namanya hukum pasar, kalau pasokan barang banyak otomatis harga anjlok. Kami tidak bisa berbuat banyak. Kami pun memilih membiarkan tanaman menua di ladang.”

Menurutnya anjloknya harga sayur ini disebabkan banyak petani tanam sayur saat ini. Tak adanya air hujan menjadi pilihan petani untuk bercocok tanam. “Di kawasan Desa Mangu, Kecamatan Ngemplak, banyak petani bertanam sayuran. Panen melimpah sehingga harga hancur.”

Tak hanya sawi, namun semua harga sayuran hijau anjlok. “Keningkir dan kangkung juga sama, hargnya hancur. Per ikat hanya dihargai Rp 150- Rp 175 sehingga petani merugi. Belum lagi dihitung biaya panen. Ya sudah, mending tak dipanen saja.” 

Ironisnya, lanjut dia, meski petani sayur menjerit, justru pedagang sayur tetap tersenyum lebar. Karena harga sayuran ke di tingkat konsumen tetap tinggi. “Harga jual ke konsumen tetap Rp 1.000/ ikat. Jadi yang untung hanya pedagang.”

Senada, Yatno (51) petani sayur lainnya mengungkapkan, panen sayur di musim kemarau saat ini melimpah. Pasalnya, lebih banyak petani, utamanya di kawasan sawah tadah hujan beralih menanam sayuran. “Bertanam sayuran memang lebih hemat air.” (Joko Murdowo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here