Ayo Nyalon Bupati Boyolali 2020

foto-diri-bramastya
Dr. Bramastia, Direktur Boyolali Risearch and Analysis Movement (BRAM) Institute

WACANA santer tentang pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) Boyolali 2020 telah selesai rasanya terlalu dini. Politik bukan sebatas hitungan kalkulatif manual, tetapi banyak faktor yang melatar belakangi dinamika politik. Anomali politik bisa terjadi dimana titik kulminasi menjadi faktor yang cepat merubah dinamika hingga seratus delapan puluh derajat. Biar sajalah isu tentang pilkada Boyolali 2020 “selesai” ini dinikmati segelintir orang yang pragmatis dalam memperbaiki nasib rakyat dan masa depan Boyolali.

Di atas kertas, peta hasil pemilihan legislatif (pileg) Boyolali 2019 melahirkan komposisi kursi, dimana PDI Perjuangan meraih 35 kursi (77,8%), Partai Golkar 4 kursi (8,9%), PKS 3 kursi (6,7%), PKB 2 kursi (4,4%) dan Partai Gerindra hanya 1 Kursi (2,2%). Andai berkaca dari peta pileg 2019 sangat rasional dan ternyata berhasil membuat para politisi Boyolali “lempar handuk” meskipun banyak putra-putri terbaik Boyolali berkemampuan lebih ingin memajukan Boyolali. Padahal secara mendasar antara pileg dan pilbup langsung ini beda konteksnya dan beda strateginya.

Siapa calonnya?

Lantas, benarkah pilbup Boyolali 2020 telah usai? Menurut penulis anggapan itu tidak benar. Jujur saat ini muncul kegelisahan atas pintu demokrasi di Boyolali yang terancam tertutup rapat. Kekuatan penguasa Boyolali kini sedang menduduki suara mutlak. Bencana mati suri demokrasi sedang mengancam Boyolali. Gedung wakil rakyat terancam sunyi bagai rumah hantu karena wakilnya mandul semua. Peran strategis wakil rakyat dalam melakukan kontrol hanya menjelma menjadi kelompok paduan suara melalui lagu “Setuju” pada setiap kebijakan penguasa.

Rasa optimisme ini harus dibangunkan ke rakyat Boyolali. Masa depan Boyolali tergantung siapa Bupatinya. Rakyat semakin terabaikan atau semakin sejahtera tergantung siapa Bupati Boyolali 2020 yang terpilih nantinya. Politisasi birokrasi semakin massif atau professional tergantung juga siapapun Bupati Boyolali nantinya. Intimidasi ke aparat desa atau netral bagi aparat desa juga tergantung kepada siapa Bupatinya. Momentum pemilihan Bupati Boyolali 2020 memegang kunci strategis apakah Boyolali semakin nyaman atau tidak aman bagi rakyatnya.

Penulis sangat optimis bahwa rakyat Boyolali mulai cerdas dan berani. Bagaimana dengan pembangunan Boyolali utara dan selatan? Bagaimana dengan nilai pajak tanah yang semakin menjulang? Birokrasi Boyolali konon selalu berdebar hati (sampai setengah mati atau mati) setiap mendengar rencana mutasi. Para kepala desa (kades) dan aparat perangat desa (perdes) selalu berdegup hatinya tatkala membangun proyek desa sendiri minus komisi. Rasanya, inilah pentingnya cara membangun kesadaran untuk yang mau nyalon Bupati Boyolali 2020.

Andai masih ada yang bilang pilbup Boyolali 2020 sudah kelar, maka anggap saja sedang berkelakar. Karena rakyat banyak yang bertanya, siapa Bupati Boyolali 2020 nantinya? Bahkan ada rakyat yang bertanya kira-kira arogan atau tidak kelak calon Bupatinya? Lalu ada yang bertanya lagi tentang asal mula dari daerah Utara atau Selatan Bupati Boyolali 2020 nantinya? Yang lebih mengejutkan lagi, ada yang bertanya apakah seorang politisi? Seorang birokrasi? Seorang pengusaha? Seorang Dalang? Atau seorang Wayang calon Bupati Boyolali 2020 nantinya?

Ayo Nyalon Bupati

Pertanyaan di atas belum dapat dijawab karena yang niat nyalon Bupati Boyolali 2020 belum tampak ke permukaan. Para calon Bupati Boyolali saat ini sedang malu-malu kucing. Ada yang ingin nyalon tetapi takut mendahului atasannya. Ada yang ingin nyalon tetapi dananya minim. Ada yang ingin nyalon dengan dana besar tapi bingung caranya mencalonkan. Ada yang punya dana tetapi tidak punya nyali untuk maju Bupati. Ada yang ingin nyalon tapi hanya diserahkan kepada tim suksesnya. Bahkan ada yang ingin maju meskipun tidak punya modal apapun. Artinya, banyak yang ingin nyalon Bupati Boyolali 2020.

Dinamika politik lokal di Boyolali sepantasnya dihargai. Banyaknya calon yang ingin maju Bupati Boyolali 2020 menunjukkan demokrasi derajat tinggi. Calon Bupati Boyolali harus berani segera unjuk gigi untuk membangun popularitas tinggi dan elektabilitas tinggi saat pencoblosan nanti. Calon Bupati Boyolali 2020 memiliki peluang yang sama meskipun jalurnya berbeda. Kini, jalan demokrasi bersama rakyat yang ingin perubahan atas masa depan Boyolali sudah terbentang dengan dua jalan yang terbuka lebar.

Pertama, melalui partai politik. Ketika perolehan suara PDI Perjuangan 35 kursi (77,8%), maka pilihannya ikut mencalonkan di PDI Perjuangan atau konsolidasi partai lain agar mencapai minimal 9 kursi atau syarat 20% untuk mengusung calon Bupati Boyolali 2020. Artinya, tinggal Partai Golkar 4 kursi (8,9%), PKS 3 kursi (6,7%), PKB 2 kursi (4,4%) dan Partai Gerindra 1 Kursi (2,2%) apakah mau bersatu mengusung seorang calon Bupati Boyolali 2020? Karena bila satu partai politik berbelok arah, maka “selesai” kesempatan partai non penguasa untuk tiket mengusung seorang calon Bupati Boyolali 2020.

Kedua, melalui jalur calon independen. Calon independen dalam pemilihan Bupati Boyolali 2020 sangat memungkinkan karena pragmatisme partai politik saat ini. Sisa 10 kursi dari partai non penguasa rasanya terlalu beresiko untuk masa depan Boyolali 2020, mengingat apabila satu partai politik saja berbelok, maka agenda mengusung calon Bupati Boyolali 2020 gagal di tengah jalan. Jalur independen menjadi pilihan aman mendapatkan tiket untuk bertarung meraih kursi Bupati Boyolali 2020.

Mencalonkan sebagai Bupati Boyolali butuh keberanian untuk membangkitkan daya panggil bagi rakyat Boyolali. Rakyat sedang menanti tokoh-tokoh agar turun gunung dan melahirkan sosok calon Bupati Boyolali 2020 yang punya etika, bermoral, tidak arogan dan bukan boneka. Rakyat Boyolali sudah jenuh dengan kondisi ini dan ingin perubahan. Rakyat dan struktur masyarakat bawah Boyolali sedang menanti calon Bupati Baru 2020.

Momentum perubahan Boyolali adalah pilbup 2020. Rakyat Boyolali kini sedang menanti perubahan. Birokrasi ingin Bupati baru yang mengayomi, bukan yang mengintimidasi. Kades dan perangkat desa ingin Bupati baru yang menyayangi, bukan yang menakuti. Rakyat ingin Bupati baru sebagai dalang pemerintahan, bukan sebagai wayang. Rakyat kini sedang ajak-ajak tetangga, saudara dan handai taulan untuk “Ayo Nyalon Bupati baru Boyolali 2020”. Berani tampil dan nyalon Bupati Boyolali 2020 tidak ada yang melarang dan tidak perlu membayar mahal. Lantas, kenapa anda takut nyalon Bupati Boyolali 2020? (Bs)

Dr. Bramastia, Direktur Boyolali Risearch and Analysis Movement (BRAM) Institute

 

(Isi naskah bukan tanggungjawab redaksi)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here