BNPB Segera Luncurkan Program Keluarga Tangguh Bencana

0
488
Program-Keluarga-Tangguh-Bencana1
LUKISAN ALAM : Deputi Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan menerima lukisan dari Komunitas peduli sungai Gojalu Klaten yang diserahkan Kepala Sekolah Sungai Klaten Jaka Sawaldi.(suaramerdekasolo.com/Merawati Sunantri)

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan segera meluncurkan program Keluarga Tangguh Bencana atau Tagana dalam upaya pengurangan risiko bencana yang akhir-akhir ini kerap terjadi di tanah air.

‘’Ke depan, BNPB punya program Katana atau Keluarga Tangguh Bencana. Melalui program tersebut, BNPB mengajak keluarga-keluarga yang tinggal di daerah rawan bencana agar mereka bisa menyelamatkan diri bila bencana terjadi,’’ kata Deputi Pencegahan BNPB, Lilik Kurniawan saat berada di Klaten.

Program tersebut akan melibatkan berbagai stakeholder terkait dan elemen masyarakat. Untuk mewujudkan Tagana, akan dilakukan sosialisasi dan edukasi kepada anggota keluarga baik bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak.

Sosialisasi secara masif bisa dilakukan dengan berbagai jalur seperti lewat pertemuan RT untuk bapak-bapak, untuk ibu-ibu bisa melalui pertemuan PKK, sedangkan sosialisasi anak-anak bisa dilakukan lewat sekolah. Upaya awal dikhususkan untuk keluarga yang tinggal di kawasan rawan bencana.

Untuk merealisasikan program Tagana tersebut, BNPB akan melibatkan berbagai pihak seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, agar sosialisasi kebencanaan bisa diajarkan kepada siswa lewat sekolah-sekolah. Selain itu, melibatkan PKK, dan mitra BNPB seperti PMI, Muhammadiyah, NU dan lainnya, semua akan diajak.

‘’Pertama, keluarga yang tinggal di daerah rawan bencana harus sadar betul bahwa mereka tinggal di daerah yang rawan bencana. Kedua, peningkatan pengetahuan yang akan dilakukan Pemerintah desa dan relawan siaga bencana,’’ ujar Lilik Kurniawan.

Program-Keluarga-Tangguh-Bencana2
BERI PAPARAN : Deputi Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan memberikan paparan tentang upaya pelestarian sungai dan kebencanaan di hadapan komunitas peduli sungai di Klaten.(suaramerdekasolo.com/Merawati Sunantri)

Di mencontohkan, bagi warga yang tinggal di kawasan rawan gempa, maka struktur bangunannya harus diperkuat agar tahan gempa. Kemudian harus ada manajemen bencana, bila terjadi suatu bencana mereka harus pergi kemana. Sosialisasi disesuaikan dengan ancaman bencana yang ada.

‘’Bila ada gempa, kebetulan waktu itu anak sedang sekolah, ibu ke pasar, dan ayah bekerja. Harus ada rencana keluarga, mereka pergi kemana. Ketiga pilar adalah edukasi bencana, dimana tiap keluarga harus mendapat edukasi bencana yang cukup. Misalnya warga Balerante yang dekat dengan puncak Merapi, bila Merapi meletus dan mengeluarkan awan panas mereka harus bagaimana,’’ ujar dia.

Selanjutnya, keluarga harus melakukan simulasi minimal setahun dua kali. Saat bencana terjadi pada siang hari, saat ada matahari dan bila bencana terjadi pada malam haru saat lampu tidak ada yang menyala. Apalagi bila terjadi bencana kadang listrik sering mati dan sinyal handphone terganggu.

‘’Bila semua keluarga, terutama yang tinggal di kawasan rawan bencana sudah sadar bencana dan mempunyai pengetahuan yang cukup tentang upara pengurangan risiko bencana, maka kemungkinan jatuhnya korban bisa diminimalisir. Dengan demikian, penanganan bencana pun bisa lebih cepat,’’ tegas Lilik Kurniawan.(Merawati Sunantri)

Editor : Budi Sarmun

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here