Doa, Tahlil dan Dzikir Berkumandang di Masjid Agung

Haul-PB-X1
ABDIDALEM ULAMA : Abdidalem juru donga KRT Pujo Setyonodipuro yang dibantu sejumlah abdidalem ulama, memimpin doa, tahlil dan dzikir upacara haul atau khol Sinuhun PB X di kagungandalem Masjid Agung Keraton Mataram Surakarta, Sabtu malam (31/8). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

* Untuk Haul PB X dan Menyambut 1 Sura

DOA, tahlil dan dzikir berkumandang di kagungandalem Masjid Agung Keraton Surakarta, untuk Sinuhun Paku Buwono (PB) X yang meninggal 80-an tahun lalu (1893-1939). Upacara spititual yang sangat akulturatif antara Islam dan Jawa itu khas Dinasti Mataram itu digelar Lembaga Dewan Adat (LDA) pimpinan Gusti Moeng, Sabtu malam 31 Agustus dari pukul 20.00 s.d 22.00 WIB itu, sekaligus untuk menyambut datangnya Tahun Baru Jawa, Wawu 1953, 1 Sura yang jatuh pada Minggu, 1 September.

”Kalau hitungan kalender Jawa, upacara adat digelar Sabtu kemarin. Karena tanggal 1 Suranya, lewat pukul 15,00 Sabtu (31/8) sudah masuk hitungan berganti hari. La, hari yang dipilih Sinuhun kemarin untuk menggelar kirab pusaka sudah tepat. Tadinya sudah menyebar undangan akan menggelar Minggu malam (1/9). Itu salah. Tapi maklum, la wong isinya orang-orang yang tidak paham budayanya sendiri. Apalagi soal astronomi Jawa peninggalan Dinasti Mataram, seperti yang selama ini kami lestarikan terus,” ujar Gusti Moeng yang punya nama lengkap GKR Wandansari Koes Moertijah, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, Sabtu (31/8).

Ditanya sejumlah awak media seusai haul atau khol Sinuhun PB X di Masjid Agung, malam itu, Gusti Moeng yang didampingi beberapa kerabat menyatakan sangat akhir-akhir ini terasa sangat tidak nyaman. Karena, tekanan terus datang dari beberapa oknum internal yang bekerjasama dengan pihak-pihak eksternal Keraton Surakarta, untuk mendesak agar semua lembaga yang bergabung ke LDA angkat kaki dari keraton dan semua kompleks perkantorannya akan ditutup.


Karena tekanan-tekanan itulah, maka ketika Ketua LDA itu menyampaikan ujub dhawuh kepada KRT Pujo Setyonodipuro untuk memimpin doa, tahlil dan dzikir, dan meminta agar doa yang dipanjatkan dalam haul itu bisa membuat keraton tenteram kembali, begitu juga bagi NKRI. Pesan untuk doa itu juga disinggung Gusti Moeng, ketika memberi sambutan sebagai penutup rangkaian haul PB X dan menyambut datangnya Tahun Baru Jawa yang juga diisi tausyiah oleh ustadz Lutfi Ansori.

Haul-PB-X2
BERBAGAI DAERAH : Kerabat LDA yang terdiri dari trah darah dalem Sinuhun Amangkurat s.d PB XIII serta warga Paksa dari berbagai daerah, mengikuti doa, tahlil dan dzikir upacara haul atau khol Sinuhun PB X di kagungandalem Masjid Agung Keraton Mataram Surakarta, Sabtu malam (31/8). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Koncatan Kawicaksanan

Pesan yang sangat menarik itu, adalah harapan agar kawicaksanan (kebijaksanaan) yang sudah oncat (pergi) dikembalikan kepada Sinuhun PB XIII. Sebab menurut Pengageng Sasana Wilapa dari ”kabinet” bentukan 2004 (hingga kini-Red) itu, terjadinya semua prahara terutama sejak 2010 hingga sekarang ini, akibat Sinuhun PB XIII kehilangan kebijaksanaan atau koncatan kawicaksanan.

Karena Sinuhun PB XIII kehilangan kebijaksanaan itu, lalu dimanfaatkan orang-orang di sekelilingnya untuk merusak berbagai tata nilai yang sebelumnya sudah berjalan baik ratusan tahun sejak Dinasti Mataram didirikan. Karena tata nilai yang disebut paugeran itu, adalah produk dinasti yang mirip sebuah konstitusi, yang fungsinya untuk mengatur perjalanan warga peradaban Jawa.

Salah satu tata nilai yang dirusak itu, adalah merubah makna filosofi kata ”ingsun” dan ”dalem” serta berbagai turunannya yang menjadi akibat perusakan itu. Termasuk, desakralisasi tari Bedaya Ketawang, tatacara kirab pusaka sampai pada operasional kagungandalem mahesa Kiai Slamet.

Perusakan Tata Nilai

Bentuk perusakan juga terlihat ketika sekelompok orang internal yang nyata-nyata melanggar tata nilai adat, justru didukung pihak luar untuk bergabung dengan figur Sinuhun PB XIII. Inisiasi sepihak yang sangat mengabaikan eksistensi kerabat LDA itu, belakangan bahkan mengarah pada bentuk-bentuk tindakan kasar dan apriori, karena bekerjasama dengan pihak eksternal, untuk menggunakan pendekatan kekuasaan dalam menyingkirkan LDA, padahal lembaga ini yang dulu mendukung jumnengnya KGPH Hangabehi sebagai Sinuhun PB XIII.

”Mengapa bisa begitu? Karena, Sinuhun sudah dalam keadaan sakit. Tidak bisa apa-apa (cacat-tetap-Red). Kondisi seperti itulah yang dimanfaatkan orang-orang di sekitarnya. Tetapi celakanya, orang-orang itu, malah didukung pihak eksternal.

Tekanan-tekanan yang datang akhir-akhir ini ‘kan tersaa sekali dukungan eksternal. Karena, selalu menggunakan pendekatan kekuasaan. Tidak pernah mengajak kami berdialog. Padahal, jelas-jelas proses hukum sedang berjalan, kok mau diabaikan begitu saja,” jelas Gusti Moeng membenarkan berbagai hal di atas.

Haul-PB-X3

TATACARA ADAT : Meski upacara keagamaan dalam memperingati wafat atau haul atau khol Sinuhun PB X berlangsung di kagungandalem Masjid Agung, Sabtu malam (31/8), tatcara adat khas Keraton Mataram Surakarta tetap digunakan, yaitu selalu ada dawuh dari Gusti Moeng kepada abdidalem juru donga untuk memimpin doa, tahlil dan dzikir.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Yang menarik dari kegiatan spiritual keagamaan bernuansa Jawa itu, adalah kenduri yang selalu menyajikan berbagai makanan khas secara adat di meja yang dikepung semua yang hadir. Keunikan lainnya, kegiatan spiritual keagamaan di kalangan Dinasti Mataram yang digelar LDA, selalu disertai tahlil, dzikir dan wirid dengan salawat Sultanagungan (karya Sultan Agung) yang khas.

Tepat pukul 22.00 WIB, haul selsai, baik Gusti Moeng maupun Pangarsa Punjer Pakasa KPH Edy Wirabhumi selaku Pimpinan LHKS, menyarankan semua peserta haul yang jumlahnya sekitar 1000 orang dari berbagai wilayah Pakasa itu, langsung pulang. Tetapi diminta hati-hati kalau ikut menyaksikan kirab pusaka yang baru dimulai pukul 00.00 dinihari tadi. (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here