Pentingnya Kolaborasi Dosen dan Guru untuk Penyelesaian Masalah di Kelas

kolaborasi-dosen-guru
DISKUSI: Peserta lokakarya penelitian tindakan kelas, kolaborasi dosen guru kerja sama Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (Pintar) Tanoto Foundation.(suaramerdekasolo.com/Evie Kusnindya)
SOLO,suaramerdekasolo.com –  Perbaikan terus-menerus dalam pembelajaran di kelas perlu dilakukan. Hal ini karena setiap saat tantangan di kelas selalu berbeda.
 
Dengan perangkat pembelajaran yang sama, namun diterapkan pada siswa yang berbeda maka hasilnya akan berbeda. Karena itulah, kelas merupakan sebuah ruangan yang unik, yang setiap saat perlu di evaluasi, di refleksi, dibuat perencanaan dan pelaksanaan, kemudian perlu di evaluasi lagi. 
 
Hal tersebut mengemuka dalam lokakarya penelitian tindak kelas, kolaborasi dosen guru kerja sama Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (Pintar) Tanoto Foundation kerjasama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang di Hotel Best Western.
 
Head of Teacher Training and Learning Tanoto Foundation Ujang Sukandi menjelaskan bahwa, Tanoto Foundation memiliki perhatian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, salah satu bentuk perhatiannya adalah menyelesaikan masalah di kelas melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) rintisan kolaborasi LPTK dan sekolah.
 
Lokakarya ini memadukan dua unsur tersebut, satu unsur teoritis pada diri dosen yang sarat dengan pengalaman teoritis dengan banyak kajian pustaka, Dan unsur lainnya yaitu unsur praktik yang ada pada guru. 
 
“Kami memadukan antara dosen yang menguasai banyak teori, dan guru yang menguasai banyak pengalaman praktis. Kita akan kerjasamakan dan dorong implementasinya, mudah-mudahan PTK ini menghasilkan sebuah solusi nyata dan benar-benar membudaya,” jelas Ujang. 
 
Ujang mengungkapkan, maksud kegiatan yang diikuti oleh 25 orang sebagai perwakilan dari lima mata pelajaran( Mapel) kolaborasi dosen dan guru ini adalah ingin membangun budaya PTK.  Ingin membangun kebiasaan ber-PTK. Dan bila disederhanakan, membangun berPTK menjadi kebiasaan guru untuk merefleksi mengajarnya. Menyadari atau mengidentifikasi apa yang harus diperbaiki,  lalu merencanakan perbaikan itu dan melaksanakan kembali perbaikan. 
 
Perpaduan Teroritas – Praktis 
 
Ujang berpesan bahwa yang paling utama adalah di dalam diri guru harus ada keinginan untuk memperbaiki diri. Kalau tidak ada keinginan itu, maka metode apapun yang diberikan, tidak akan merubah apapun. Apakah dengan mindset, apakah dengan root mindset.
 
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Dr Mardiyana, M.Si saat membuka acara mengatakan bahwa kolaborasi ini penting dilaksanakan. Perpaduan antara teoritas dan praktis. Sehingga kedua belah pihak akan mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman baru. Hal ini perlu di dorong untuk menjadi budaya akademis. 
 
“Di Perguruan tinggi sedang digalakkan konsep PPEPP atau singkatan dari  Penetapan/ perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi/ penilaian, Pengendalian, dan Peningkatan. Di perguruan tinggi manapun sedang di kerjakan pola ini.  Semoga kegiatan seperti PTK dengan berbagai pola ini dibiasakan dan dibudayakan,” ungkap Mardiyana. (Evie Kusnindya) 
 
Editor : Heru Susilo
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here