Polisi, Lurah, Akademisi Ingin Jadi Pengacara

0
polisi-lurah
IKUTI UJIAN- Sejumlah calon pengacara baik akademisi, anggota Polri hingga Lurah disela mengikuti ujian profesi advokat di Aula Gedung 3 FH UNS, Sabtu (31/8). (suaramerdekasolo.com/Sri Hartanto)

SOLO,suaramerdekasolo.com- Ratusan calon pengacara mengikuti uji profesi yang dilaksanakan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Kota Solo, Sabtu (31/8).
Dari ratusan calon advokat yang mengikuti uji profesi, di Aula Gedung 3 Fakultas Hukum (FH) UNS, ada yang berasal dari Polri, Lurah, akademisi dan lainnya.


”Uji calon advokat di Solo secara bersamaan digelar serentak di seluruh Indonesia dengan total calon advokat yang mengikuti ujian profesi mencapai 7.800 orang. Untuk Kota Solo, diikuti sebanyak 109 peserta calon advokat,” tegas Ketua DPC Peradi Kota Surakarta, Badrus Zaman SH disela memantau ujian profesi advolat yang diseleksi dari lembaga independen.


Ujian profesi tahun ini, kata Badrus, jika dinyatakan lulus, tidak langsung bisa beracara di pengadilan, namun harus menjalani proses magang selama 2 tahun. Setelah itu, baru diperbolehkan beracara di pengadilan apabila sudah disumpah hakim.

Adapun soal-soal yang dilaksanakan lembaga independen, lanjut Badrus, cukup sulit. Apabila tidak bisa mengerjakan ya tidak lolos sebagai pengacara. ”Ujian profesi tidak mudah, ada yang mengulang sampai lima kali hingga 10 kali,” tandasnya.

Materi atau soal yang diujiakan, kata Ketua Peradi itu, terkait kemampuan calon advokad yang harus mengetahui tentang dunia hukum. ”Mereka dituntut untuk mengetahui seluk beluk masalah yang dihadapi. Semisal, membuat surat kuasa, berapa lama pengajuan gugatan, tata cara pengajuan kasasi dan masih banyak yang lain,” jelas Badrus.

Peradi yang diberi kewenangan untuk mengadakan ujian profesi advokat, berharap, calon pengacara yang telah lulus ujian akan dilanjutkan dengan proses pemagangan hingga pemgambilan sumpah profesi, sehingga mampu mengamalkan ilmu yang diperoleh untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi hukum untuk mendapatkan rasa keadilan.

Ditempat yang sama, Wakil Sekretaris Bidang Pembelaan Profesi Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Peradi, Ruth Simamora mengemukakan, diadakannya ujian advokat sebagai wujud untuk melaksanakan undang-undang No.18 tahun 2003 tentang advokat. Diantaranya syarat untuk menjadi seorang advokat meliputi lulus sarjana hukum, mengikuti pendidikan profesi advokat, mengikuti ujian advokat.

”Setelah dinyatakan lulus, calon advokat harus mengikuti syarat-syarat yang ditentukan seperti pemagangan selama minimal dua tahun hingga nantinya baru dilakukan pengambilan sumpah,” terang Ruth Simamora. (Sri Hartanto)

Editor : Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan