Lihat Wayang Kulit Sangat Tergantung Siapa Figur Dalangnya

0
wayang-jadi-tuntunan12
DALANG BERKARAKTER : Ki Toto Soemarsono (alm), adalah dalang senior asal Sukoharjo yang sampai akhir hayat dihormati kalangan generasi di bawahnya. Selain punya karakter sora (keras), gaya pakelirannya on the track konvensional, serta dikenal pandai dalam mentransfer tata nilai tuntutnan. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Wayang Masih Menjadi Tontonan dan Tuntunan (4-bersambung)

SULIT sebagai situasi di mata penerima penghargaan Nikkei Prize Award di Jepang (2010), memang baru dirasakan saat menggelar pentas wayang weton kelahiran di kediamannya, Desa Doplang Sekiteran, Karangpandan, Karanganyar. Itupun hanya diukur dari faktor jumlah penonton yang sedikit, karena pentas wayang rutin tiap malam Selasa Legen itu untuk memberi kesempatan kalangan warga dalang yang dipandang berkualitas, tetapi nyaris tidak pernah laku atau payu ditanggap siapapun.

Tetapi bila melihat kasus serupa juga terjadi di kediaman Ki Purbo Asmoro yang menggelar wayang weton di kediamannya, kampung Gebang, Kadipiro, Banjarsari, tiap malam Senin Kliwon, fakta semakin langkanya transfer nilai-nilai tuntunan itu semakin memenuhi unsur kebenaran. Sebab, posisi kediaman dalang terkenal, dosen ISI yang masih muda itu, ada di dalam Kota Solo, yang punya latar belakang sejarah asalnya dari Keraton Surakarta, pusat dan sumbernya budaya Jawa termasuk wayang itu.

Keberadaan budaya Jawa yang menjadi pusat dan sumber seni pedalangan gaya Surakarta itu, masih dilengkapi keberadaan Pura Mangkunegaran yang diakui khalayak seniman kampus punya gaya pakeliran yang agak beda dari gaya Surakarta. Pembenaran terhadap kata sulit itu, juga dikuatkan fakta suasana di Bale Agung di kawasan Alun-alun Lor yang menjadi Sanggar Pawiyatan Pedalangan Keraton Surakarta itu, karena sepi tak ada aktivitas pentas pada setiap malam Minggu Legi tiba.

Belum lagi kalau menyimak kegiatan pentas yang dilakukan Pepadi Kota Solo yang selama setahun 2018 lalu melakukan roadshow di tiap kelurahan plus Balai Kota, meski dibiayai dana APBD tetap tak begitu menggembirakan hasilnya dari ukuran keberhasilan transfer tata nilai tuntunan itu.

wayang-jadi-tuntunan13

SEMANGAT KEBANGSAAN : Sebagai salah seorang Marhaenis, di antara segudang predikat yang dimiliki Ki Manteb Soedarsono, adalah caranya yang khas dalam menebar semangat kebangasaan, selain piawai mengadaptasi transfer tata nilai religius ketuhanan di dalam pakelirannya.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Mungkin lembaga ini sedang khilaf, menggelar pentas wayang menghadirkan sepasang dagelan yang berjoget sambil berdiri di dekat dalang yang duduk santun bersila, agaknya kurang sadar dengan posisinya berada di kota yang menjadi pusat dan sumber budaya Jawa, pusat wayang gaya Surakarta yang menjadi kiblat dan panutan insan pedalangan begitu luas itu.

Ada Pengecualian

Memang ada perkecualian ketika pentasnya menghadirkan dalang Ki Purbo Asmoro sendiri, terutama, atau ketika dalang yang kaya sanggit lakon itu tampil di acara Dies Natalis di kampus UNS, urusan transfer tata nilai tuntunan itu masih tampak memuaskan, meski masih menjadi pertanyaan besar indikator-indikatornya.

Kata sulit akan menjadi pengecualian, dalam pengertian datangnya jumlah penonton banyak sebagai objek transfer tata nilai tuntunan itu, ketika ketika yang tampil Ki Manteb Soedarsono, khususnya gelar seni pakeliran di kota-kota besar di seputar DKI Jakarta. Juga di beberapa kota besar di Jatim, termasuk yang dirasakan Ki Purbo Asmoro dan Ki Anom Suroto yang selalu duet dengan anaknya beberapa tahun silam.

Pengecualian juga berlaku untuk pentas wayang menyambut datangnya Tahun Baru Jawa bulan Sura yang digelar di situs sumur Mbah Meyek, di Kampung Bibis, Jebres, Solo. Juga pentas untuk menyambut bulan Sura di makam cikal-bakal Setrodiprojo, Padokan, Bulurejo, Juwiring (Klaten), yang rutin digelar di malam Jumat pertama, seperti yang diisi dalang muda Ki Prasetyo Pamungkas Bayuaji (35), Kamis malam (5/8).

Pentas wayang dalam dua sesi dengan dua dalang atau lebih dari pagi hingga pagi lagi berganti hari di Makam Padokan itu, mirip tradisi bersih desa yang melibatkan warga desa setempat, bahkan dari luar desa. Dari waktu ke waktu, penontonnya termasuk banyak karena ribuan orang, mengingat sajiannya diawali dengan panggung hiburan campursari, sebar apem dilanjutkan wayangan dua sesi yang masih disisipi campursari dan bintang tamu pelawak.

wayang-jadi-tuntunan14
DI JALUR RUWAT : Ki Joko Laksitono adalah dalang yang beruntung karena mengambil jalur pakeliran khusus ruwat. Apalagi, wayang ruwatan yang digelar digarap dengan full tuntunan ayat-ayat suci, apalagi gending-gending iringannya yang religius sekali. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Memasukkan Campursari

Karena, proses transfer tata nilai tuntunan dari tontonan yang disajikan masih sangat memuaskan, terutama dari sisi jumlah penontonnya. Itu mengesankan seakan tidak ada masalah dengan faktor bahasa (media komunikasi) dan persoalan ekonomi rumahtangga para penontonnya.
Melihat kasus wayangan di Makam Padokan itu sungguh pantas dikecualikan, karena sama sekali tidak ada tanda-tanda penolakan terhadap kemasan transfer tata nilai tuntunan sebagai cara genius syiar Islam khas Wali Sanga itu.

Namun sekali lagi, sederet daftar fakta menggembirakan yang dialami Ki Manteb Soedarsono dan beberapa dalang lainnya itu adalah perkecualian. Ki Manteb bahkan masih punya sesuatu untuk dikecualikan lagi, yaitu dukungan ribuan anggota Paguyuban Sutresno Manteb Soedarsono, sebuah fans club yang tersebar di berbagai daerah luas yang selalu hadir menyaksikan di manapun Ki Manteb pentas, khususnya di DKI dan sekitarnya.

Di luar perkecualian-perkecualian itu, fakta di berbagai daerah lain secara luas di luar tempat-tempat subur itu menunjukkan bahwa rata-rata pertunjukan yang digelar menyedihkan, karena terlalu banyak kendala yang dihadapi. Jumlah penontonnya bisa banyak, tetapi kualitas pertunjukan secara keseluruhan tidak ideal dari sisi transfer tata nilai tuntunan, gaya berkomunikasi (cucut) yang berstandar etika rendah, bahkan dihiasi tawuran akibat mabuk alkohol saat menikmati sajian lagu-lagu atau grup campursari menjadi bagian dari pentas pakeliran wayang kulit.

Tak Punya Self Confidence

Ketika menyimak bagaimana para dalang secara umum menyikapi kata sulit itu, maka jelaslah arah jawabannya. Selain menurunkan nilai tanggapan atau job pentas yang lumayan signifikan, turun sampai Rp 5 jutaan sekali pentas, banyak seniman dalang di luar dua atau tiga nama besar itu yang menemukan cara sendiri, seperti yang dilakukan Ki Prasetyo Pamungkas Bayuaji yang dibantu panitia bersih desa.

Di antaranya, berusaha ”menjadi orang lain” karena tidak yakin dengan kemampuan dirinya atau tidak punya self confidence. Banyak contohnya, mulai dari meniru cak-cakan mayang atau gaya seniornya yang sudah terkenal dan laris, menghadirkan grup musik (campursari) secara khusus atau meramu sajian iringannya dengan musik-musik campursari ke dalam pentas wayang.

wayang-jadi-tuntunan15
WAYANGAN PEPADI : Pentas wayang yang digelar Pepadi Solo di SMKN 8 tahun lalu, menjadi profil wayangan yang kurang tepat dan kurang bijak. Model pergelaran seperti itu tak perlu diulang, karena menjauhkan kesan wayang sebagai media transfer nilai-nilai tuntunan.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Mengundang bintang tamu pelawak untuk bergabung di sesi-sesi tertentu selama pentas wayang berlangsung juga menjadi kekhilafan tersendiri, seperti banyak dilakukan dalang, mulai dari yang sudah senior, apalagi yang yunior. Cara-cara ini dilakukan, karena figur dalang tersebut merasa tidak memiliki bekal cukup dalam hal melucu atau membanyol seperti yang dimiliki dalang senior Ki Sayoko Gondosaputro (Klaten), apalagi bekal kemampuan mentransfer tata nilai tuntunan yang rata-rata jauh di bawah kapasitas dalang seusia Ki Manteb Soedarsono.

Cara-cara mengatasi persoalan versi sejumlah banyak dalang seperti itulah, yang diduga kalangan pemerhati seni pakeliran menjadi sebab terjadinya degradasi kualitas dan desakralisasi seni pakeliran. Fakta-fakta empiris yang hanya terjadi di beberapa tempat atau beberapa kasus saja, lalu dijadikan generalisasi untuk menjatuhkan vonis bahwa wayang hanyalah sekadar tontonan konyol yang jauh dari nilai-nilai tuntunan. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun 

 

Tinggalkan Pesan