Berbekal Peninggalan Masa Purba, Berharap Lebih Sejahtera

0
31
foto-sangiran-sragen2
TAK HANYA MUSEUM SANGIRAN: Kawasan Situs Purba Sangiran dilihat dari Menara Pandang. Daya tarik wisata di kawasan itu tidak hanya Museum Sangiran saja, tapi juga berbagai potensi lainnya.(suramerdekasolo.com/Basuni Hariwoto)

 

* Desa Wisata Krikilan

BERSAMA teman-temannya dari World Great, Emma yang berasal dari Belanda, adalah salah satu dari belasan volunteer dari berbagai belahan dunia yang datang ke Sangiran, Desa Krikikan Kecamatan Kalijambe, pertengahan Agustus lalu. Saat berada di desa wisata yang juga kawasan Situs Purba Sangiran tersebut, mereka turut larut dalam kehidupan sehari-hari warga sekitar. Kebetulan saat itu, warga desa menggelar berbagai lomba memperingati HUT Kemerdekaan RI.

Tidak lupa, mereka juga belajar mengasah akik langsung dari salah seorang perajin yang ada di tempat itu. Menurut Emma, banyak hal yang bisa mereka dapatkan selama tinggal bersama warga Sangiran.

Menurut wisatawan dari Negeri Kincir Air itu, sebagai tempat yang menyimpan peninggalan masa purba, Sangiran layak dikembangkan menjadi obyek wisata andalan, tidak hanya untuk Kabupaten Sragen, tetapi juga Jawa Tengah dan Indonesia.

“Saya senang di Sangiran, tempatnya bagus, warganya ramah-ramah. Terima kasih,” kata Emma seusai belajar mengasah akik di tempat Putut Ari Wibowo (36), salah satu warga yang juga perajin batu akik di Desa Krikilan pada Jumat (16/8) lalu.

Sebagai salah seorang warga dan perajin batu akik, Putut merasa sangat senang, bila banyak wisatawan yang datang ke Sangiran. Semakin banyak wisatawan yang datang ke Sangiran, berarti semakin banyak uang yang mereka belanjakan di Sangiran.

foto-sangiran-sragen1
BELAJAR ASAH AKIK: Para volunteer World Great belajar mengasah akik di tempat salah satu perajin akik yang ada di Desa Krikilan, Kalijambe, pada Jumat (16/8).(suaramerdekasolo.com/Basuni Hariwoto)

“Tapi harus diakui, sampai saat ini museum-museum yang ada di Sangiran masih menjadi daya tarik utama. Padahal jujur, banyak daya tarik yang bisa ditampilkan di kawasan Sangiran,” kata Putut. Salah satunya adalah watu waloh, batu alam yang sering disebut orang luar sebagai batu mani gajah, yang juga banyak diburu para pecinta batu alam, baik dari Indonesia atau luar negeri.

Saat watu waloh itu dicek ke laboratorium, ternyata batu itu dinyatakan sebagai batu kalsit natural yang terbungkus tanah atau lumpur yang mengeras. Jenis batu kalsit seperti watu waloh atau mani gajah itu tidak ditemukan di tempat lain atau di negara lain. Manakala dia memposting tentang mani gajah di grup pecinta batu internasional, banyak yang bertanya. Sampai saat ini batu mani gajah itu banyak diburu para pecinta batu alam, baik dari Indonesia atau mancanegara.

“Sejak saya kecil, banyak pecinta batu dari luar negeri, seperti Korea, Tiongkok dan Jepang yang membeli watu waloh,” katanya.

Buat Daya Tarik

Menurut dia, kegiatan dari World Great dan Indonesia Great, yang mendatangkan para relawan dari berbagai negara, juga salah satu upaya promosi Sangiran ke dunia internasional. Apalagi Sangiran sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia (World Culture Heritage) nomor 593 oleh Unesco pada 1996. Para warga desa juga sudah terbiasa dengan kunjungan para wisatawan.

Pun di desa itu juga terdapat home stay-home stay dari rumah para warga. Para peserta World Great 2019 misalnya, mereka berasal dari berbagai negara. Seperti dari Belanda, Jerman, Denmark, Malaysia, Laos hingga Ghana di Afrika.

Kepala Desa (Kades) Krikilan Widodo mengatakan, pemerintah desa juga mengembangkan daya tarik yang dimiliki, agar wisatawan tahu di Sangiran tidak hanya Museum Purbakala Sangiran dan Musem Klaster yang ada di Ngebung, Manyarejo, Bukuran dan Dayu saja.

Salah satu yang dilakukan adalah membuat taman bunga yang memanfaatkan tanah kas desa dan juga taman bunga di Punden Tingkir, Dusun Sangiran serta pengembangan sumber air asin Krikilan. Hal ini sebagai bagian dari upaya menjadikan Krikilan desa wisata yang mandiri.

“Nanti resminya akan kami luncurkan setelah Tahun Baru, meski saat ini sudah bisa dikunjungi,” kata Widodo.

Pihaknya juga bakal mengembangkan tanah kas desa yang ada di dekat balai desa, bakal disulap menjadi taman untuk berswafoto atau selfie dengan konsep masa purba serta lahan untuk parkir. Dalam pengembangan wisata ini, pihaknya akan memberdayakan masyarakat serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Purba Arta Raharja.

foto-sangiran-sragen3

Hal ini dilakukan agar orang-orang yang datang ke Sangiran tidak hanya melihat peninggalan masa purba yang ada di museum saja, tetapi juga daya tarik wisata lain yang ada. “Dari peninggalan masa purba, kami memang berharap menjadi desa yang mandiri, berdaya dan sejahtera,” tegasnya.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sendiri juga sangat peduli dengan pengembangan Sangiran. Museum purbakala di Sangiran masuk salah satu destinasi wisata yang digarap serius pemerintah pusat dan daerah. Bersama Borobudur, Dieng dan Karimunjawa, Sangiran disiapkan menjadi Bali Baru di Jawa Tengah.

“Sangiran masuk dalam destinasi unggulan di Indonesia. Namun mohon maaf, kalau hanya seperti ini, tidak akan cukup,” kata Ganjar saat Rapat Pengembangan Destinasi Pariwisata Nasional (DPN Solo-Sangiran di Museum Purbakala Sangiran, Senin (19/8).

Gubernur melontarkan ide ada kampung Flintstone dan semacam taman Jurassic Park di kompleks Museum Purbakala Sangiran.

“Dengan adanya sisi lain di Sangiran, diharapkan para wisatawan tidak hanya sekali mengunjungi Sangiran,” katanya. Yang terpenting, pengembangan kawasan harus mengedepankan kearifan lokal. (Basuni Hariwoto)

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here