Mapala Yogyakarta Berhasil Temukan Sungai Bawah Tanah di Desa Gendayakan

10
18811
mapala-masuki-luweng-paranggupito
MEMASUKI LUWENG : Sejumlah mahasiswa pecinta alam bersiap memasuki luweng untuk mencari sumber air di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Minggu (8/9). (suaramerdekasolo.com/Dok)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.comTim gabungan mahasiswa pecinta alam (Mapala) dari Yogyakarta berhasil menemukan sungai bawah tanah di Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Senin (9/9). Mereka berhasil menemukan sungai bawah tanah setelah memasuki luweng (saluran bawah tanah) di Dusun Ngejring desa setempat.

Tokoh masyarakat Desa Gendayakan Heri Sutopo mengatakan, tim telah menelusuri luweng tersebut sejak, Sabtu (7/9). Pada Sabtu malam, mereka berhasil mendeteksi adanya keberadaan air di kedalaman sekitar 170 meter dari mulut luweng. Namun, saat itu mereka belum bisa memastikan sumber air tersebut merupakan sungai bawah tanah atau bukan.

Baca : Apa Itu Aliran Sungai Bawah Tanah dan Air Tanah

Baca : Misteri Sungai Bawah Tanah Terjawab, Banyutowo Bermuara di Bawah Laut Kidul

Untuk memastikannya, mereka kembali melakukan penelusuran, Minggu (8/9). Sebanyak lima orang turun ke dalam luweng. Tim akhirnya bisa memastikan, bahwa sumber air tersebut merupakan sungai bawah tanah. “Alhamdulillah, ternyata Tuhan masih sayang warga Gendayakan. Di tengah penderitaan kekeringan melanda, di lokasi luweng ditemukan sungai bawah tanah,” katanya, Minggu (9/9).

Baca : Kabar Terbaru, Pendaki Terjatuh Di Puncak Gunung Lawu

Dia berharap sungai bawah tanah itu dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kekeringan. “Kami mengucapkan terima kasih kepada tim Mapala dan Gus Rori atas bantuannya,” imbuhnya.

Tumbuhan Subur

Sungai bawah tanah itu berada pada kedalaman sekitar 175 meter. Kedalaman air di dalam luweng bisa mencapai dada orang dewasa. Namun, pihaknya belum bisa memastikan volume dan debit airnya. “Siang ini kami evaluasi dulu, sambil istirahat,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, warga sebelumnya menduga ada sumber air di dalam luweng. Hal tersebut ditandai dengan adanya uap air yang ke luar dari dalam luweng ketika musim hujan tiba. Selain itu, tanaman di sekitar mulut luweng tumbuh subur.

Perlu diketahui, Desa Gendayakan merupakan salah satu daerah yang rawan kekurangan air bersih ketika kemarau tiba. Mereka terpaksa membeli air bersih dari truk-truk tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi itu menjadi salah satu penyebab terjadinya kemiskinan. (Khalid Yogi)

Baca : Musim Kemarau Ekstrim, 5 Desa Kekeringan

Editor : Budi Sarmun 

 

10 KOMENTAR

  1. Bravo contoh yg sangat baik buat Pecinta alam yg membantu kesulitan masyarakat didaerahnya. Kegiatan pecinta alam yg sekaligus berbuat sosial buat bangsa ini.

  2. Yooo… Semoga bisa dikelola di desa tersebut… Mngkin lewat pemberdayaan lokal, Jadi masyarakat dapat menikmati benar2 kekayaan tersebut… Tapi kalo diambil sama pihak pdam, yoooo podo wae bohong… Masyarakat suruh bayar lagi buat airnya… Hahahaaa, jadi lucu nanti…

  3. Yooo… Semoga bisa dikelola di desa tersebut… Mngkin lewat pemberdayaan lokal, Jadi masyarakat dapat menikmati benar2 kekayaan tersebut… Tapi kalo diambil sama pihak pdam, yoooo podo wae bohong… Masyarakat suruh bayar lagi buat airnya… Hahahaaa, jadi lucu nanti…

  4. Yooo… Semoga bisa dikelola di desa tersebut… Mngkin lewat pemberdayaan lokal, Jadi masyarakat dapat menikmati benar2 kekayaan tersebut… Tapi kalo diambil sama pihak pdam, yoooo podo wae bohong… Masyarakat suruh bayar lagi buat airnya… Hahahaaa, jadi lucu nanti……..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here