Kemarau Panjang Berkah Buat Petani Tembakau Klaten

0
118
petani-tembakau-klaten-panen
PANEN TEMBAKAU : Para pekerja sedang memetik daun tembakau di Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Klaten, Selasa (10/9).(suaramerdekasolo.com/Merawati Sunantri)

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Musim kemarau panjang tahun 2019 ini, membawa berkah bagi para petani tembakau di Klaten. Panas tanpa hujan membuat daun tembakau tumbuh dengan baik dan mempunyai rendemen yang menggembirakan para petani.

Salah satunya dialami Juwandi, petani tembakau warga Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Klaten. Tahun ini, dia menanam tembakau di lahan seluas 4 hektar, semuanya tumbuh dengan baik. Selasa (10/9), dibantu para pekerja dia memanen daun tembakau varietas Grompol Jawa Timur.

‘’Panen pertama ini, kami baru memetik enam lembar daun paling bawah. Daun bagian atas dibiarkan agar terus tumbuh. Tembakau grompol hanya menyisakan maksimal 22 lembar daun, pucuknya dipotong, tujuannya untuk memaksimalkan pertumbuhan daun,’’ kata Juwandi.

Ada dua jenis tembakau yakni jenis Sun Cure atau yang pengeringannya sepenuhnya mengandalkan sinar matahari, dan tembakau asepan atau Dark Full Cure (DFC). Juwandi yang juga aktif di Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) itu mengaku bahagia dengan panennya tahun ini.

Harga bagus

Semua itu berkat musim tanam yang tepat, tidak adanya hujan, pupuk yang baik dan pemeliharaan yang baik. Menurut perkiraannya, 1 hektar lahan bisa menghasilkan sekitar 30 ton daun tembakau. Saat ini, harga tembakau kering jenis itu mencapai Rp 40.000/kg. Dia menyetorkan daun tembakau tanpa dirajang ke dua perusahaan yakni PT Pandu Sata Utama dan PT Alliancy One.

‘’Total lahan yang saya kelola mencapai 10 hektar, yang saya garap sendiri ada 4 hektar dan sisanya dari petani plasma. Saya membeli tembakau basah dari petani Rp 3.500/kg dan saya mengolah sendiri, baik yang jenis Sun Cure maupun yang DFC, dengan begitu mutu tembakau bisa terkontrol,’’ ujar Juwandi.

Panen dilakukan secara bertahap, daun tembakau yang paling tua yang dipanen dahulu kemudian baru daun-daun yang atas dengan selang waktu tertentu. Dia cukup senang dengan adanya Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau yang sebagian digunakan untuk membantu petani tembakau, terutama masalah pupuk.(Merawati Sunantri)

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here