Menabung Sampah untuk Bayar Sekolah

0
28
bank-sampah-gema-pesam
BANK SAMPAH : Tim penilai Posyandu Jateng melihat bank sampah Gema Pesam di Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Klaten. (suaramerdekasolo.com/Achmad H)

* Kiprah Bank Sampah Gema Pesam

SAMPAH menjadi persoalan memusingkan semua pihak sebab produksi dan jenisnya cenderung meningkat. Di Kabupaten Klaten persoalan sampah tidak hanya membuat pemerintah daerah kerepotan tetapi maraknya tempat pembuangan sampah liar jadi keluhan masyarakat di berbagai wilayah.

Di balik peliknya masalah sampah, ternyata sampah jika ditangani dengan tepat bisa mendatangkan rupiah. Buktinya, seperti yang dilakukan Bank Sampah Gema Pesam di Desa Gatak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten. Sampah oleh para relawan dikumpulkan dan dimanfaatkan menjadi barang kreasi yang indah. Bahkan bisa untuk biaya sekolah. Caranya ?

Bank Sampah Gema Pesam didirikan 2014. Gema Pesam adalah singkatan dari gerakan masyarakat peduli sampah. Digawangi tiga wanita tangguh Sugiarti, Christina, dan Novi, Bank Sampah Gema Pesam terus berkreasi sehingga banyak menjadi rujukan masyarakat sekitar untuk belajar mengelola sampah.

” Di sini sampah tidak saja dikumpulkan terus dijual, tapi dikreasi menjadi barang bermanfaat seperti bunga plastik, tempat tisu, dompet, tas dan sebagainya. Sedangkan untuk sampah organik diolah menjadi pupuk buat menyuburkan tanah pemanfaatan lingkungan rumah tangga,” jelas Sugiarti saat dikunjungi Tim Penilai Pelaksana Terbaik Posyandu Tingkat Jawa Tengah (Senin,9/9) siang.

Menurut Sugiarti, selain kegiatan pengumpulan sampah Gema Pesam juga aktif dalam kegiatan sosialisasi bersama Posyandu. Untuk memasyarakatkan peduli pengelolaan sampah, pengelola posyandu Siwi Asih III dan anak-anak sekolah dibuatkan buku tabungan sampah.

Hasil Ditabung

Dari hasil pengumpulan dan pemanfaatan sampah, kata Sugiarti, hasilnya ditabung. Kini bank sampah desanya mempunyai nasabah penabung sampah sebanyak 198 orang. Hasil menabung ada yang untuk membeli perhiasan, membeli sepatu sekolah bahkan membayar biaya lembar kerja siswa dan lainnya.

Sebab anak-anak sangat bersemangat bahkan sampai ada orang tua yang memarahi anak karena pulang sekolah sambil mengumpulkan sampah yang ditemui untuk ditabung. ” Mungkin takut dikira pemulung,” kata Sugiarti sambil tertawa.

Tim penilai Posyandu Provinsi Jateng, Nadi Santosa mengatakan penilain Posyandu Siwi Asih III Gatak adalah lokasi pertama yang dikunjungi tim. Ada enam nominasi yang akan dipilih mewakili Provinsi Jawa Tengah di lomba posyandu nasional.

Lima posyandu yang lain adalah Posyandu Sedap Malam Kota Kudus, Posyandu Budi Utomo Kabupaten Banyumas, Posyandu Lestari Handayani Kabupaten Purbalingga, Posyandu Cempaka Kabupaten Pemalang, serta Poyandu Mardi Rahayu Kabupaten Wonosobo.

Penilaian posyandu merupakan agenda nasional kerja sama Kemendagri, Kemenkes dan BKKBN secara berjenjang. Posyandu saat ini memiliki peran yang strategis khususnya mewujudkan semboyan mewujudkan SDM Unggul Indonesia Maju sebagaimana telah digaungkan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. (Achmad H)

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here