Soal Desa Cagar Budaya, Bupati Juliyatmono Protes Mendikbud

0
18
desa-dayu-masuk-kawasan-cagar-budaya
BUDAYA – Desa Dayu, Gondangrejo yang ditetapkan dalam RTRW jadi wilayah cagar budaya. (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Penetapan desa cagar budaya di wilayah Kecamatan Gondangrejo, Bupati Karanganyar protes ke Mendikud Muhajir Effendy. Sebab penetapan itu berdampak desa itu tidak bisa diubah bentuknya, bahkan dibangun sendiri oleh pemiliknya pun harus izin, apalagi dijual belikan.

‘’Pokoknya karena untuk keperluan cagar budaya karena dinilai mengandung fosil, desa-desa itu tidak boleh diubah. Tentu ini menghambat pembangunan, karena Gondangrejo karena adanya jalan tol itu kita tetapkan menjadi daerah industri,’’ kata Bupati Juliyatmono, Selasa (9/10).

Dalam perubahan Rencana Tata Ruang dan Wilayah yang baru saja disahkan, wilayah itu memang untuk pengembangan industri besar di Karanganyar. Karena itu otomatis berdampak pada masyarakatnya yang menginginkan tanah dijual atau diubah menjadi kawasan industri dan lainnya.

Kecuali satu desa yaitu desa Dayu yang memang sudah dipancangkan menjadi daerah cagar budaya karena sudah ada museum purba. Sehingga bupati meminta surat penetapan yang kemudian diteruskan dengan keputusan Gubernur itu diubah. Cukup satu desa Dayu saja yang masuk cagar budaya lainnya tidak. Seperti Krendowahono, Jatikurung, Jeruksawit, Wonosari, Tuban, dan Jatisari serta Dayu.

Protes bupati diwujudkan dalam surat ke Mendikbud dan Gubernur. Sebab di Rencana Detail Tata Ruang Kota sudah akan dijelaskan secara detail perubahan hanya satu desa itu yang masuk cagar budaya.

‘’Lainnya tidak, sebab perubahannya sekarang sudah demikian pesat. Jeruksawit dan Jatikuwung yang dekat dengan kota pembangunannya sangat pesat karena banyak perumahan, sehingga jika masuk cagar budaya akan sulit.

Di lain sisi bupati menghimbau kades untuk berinisiatif mengundang investor untuk membangun Bumdes dem kesejahteraan rakyat an menggali potensi desa. Sangat sulit jika hanya mengandalkan bantuan keuangan kabupaten saja.

‘’Kalau hanya itu nanti pembangunannya sangat lambat. Saya ingin seperti desa di Borobudur yang dibiayai pihak ketiga untuk dikembangkan menjadi desa wisata. Jadi desa mendapatkan dana segar dari investor untuk berkembang,’’ kata dia.(Joko DH)

Editor : Nindya Achmadi

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here