Tak Mau Tunggu Belas Kasih, Sumarno Buka Usaha Dan Miliki Delapan Karyawan

0
55

BOYOLALI,suaramerdekasolo.com – Keterbatasan anggota tubuh tak menghalangi tekad Sumarno (53) untuk mandiri. Bahkan, warga Dukuh Cabean, Desa Sembungan, Nogosari, Boyolali, Jateng ini juga mampu membuka lapangan kerja.

Padahal, sehari- sehari dia beraktifitas dengan kursi roda. Tak hanya usaha jasa reparasi TV dan peralatan elektronik. Dia juga membuka usaha jasa video shooting pernikahan dan pesta lain dengan mengandalkan sejumlah pekerja.  

Dia juga mendesain sendiri beberapa piranti yang mendukungnya bekerja secara mandiri. Seperti motor roda tiga hingga mobil tanpa pedal kaki. Pedal gas dimodifikasi sehingga bisa digerakkan dengan tangan.

“Saya bisa menyetir sendiri, tapi pedal kaki sudah dimodifikasi. Yaitu dipindah ke atas sehingga bisa dijalankan dengan tangan,” ujarnya.

Diakui, usahanya berkembang cukup bagus. Dengan 4 – 8 karyawan, dia pun melayani permintaan pelanggan yang datang. Di bula ramai hajatan seperti Syawal dan Zulhijah, dia mengaku bisa menerima panggilan hingga 20 kali dengan biaya Rp 800.000 sekali panggil

“Dari jasa reparasi alat elektronik bisa dapat Rp 1,5 juta dalam sebulan.”

Bertekad Buka Usaha

Hanya saja, keberhasilan yang diraih bukan tanpa kerja keras. Apalagi sebelumnya, dia sebenarnya terlahir normal. Namun karena kecelakaan kerja di Singapura, dia pun harus rela duduk di kursi roda.

“Baru setengah tahun merantau, saat itu usai 28 tahun. Ingat betul saat itu sedang memperbaiki lift.”

Akhirnya, alumnus D-1 ATMI Solo itu terpaksa mengubur mimpinya menjadi teknisi dan memilih pulang kampung. Awalnya tidak mudah bagi Sumarno menerima kenyataan harus duduk di kursi roda dan terpuruk setengah tahun lamanya.

Tak mau berpangku tangan dengan kedua orang tuanya, Sumarno bertekad untuk berubah. Dia kemudian mengikuti pelatihan kerja yang diselenggarakan Balai Latihan Kerja (BLK) Boyolali. Dia pilih keahlian reparasi televisi dan barang elektronik.

Kemampuannya itu dia perkuat dengan pelatihan di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Dr Soeharso, Solo. DIa lalu bertekad membuka usaha mandiri, meskipun diakuti tidak mudah.

“Butuh waktu dua tahun untuk membangun kepercayaan pelanggan. Artinya, memperbaiki TV ya harus benar- benar bagus. Kalau dibawa pulang tetap rusak berarti menghilangkan kepercayaan.”

Sumarno berhasil membuktikan bahwa kaum disabilitas mampu mandiri. Untuk menularkan semangat itu, Sumarno aktif dalam Forum Komunikasi Difabel Boyolali (FKDB) untuk mengakomodasi kebutuhan difabel mulai tingkat kecamatan hingga kabupaten. (Joko Murdowo)

Editor : Budi Sarmun

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here