Tetap Ngebut, Tak Peduli Kepala Benjol

Annisa-Destein-Cindy-Qiawat
FOTO DIRI : Annisa Destein Cindy Qiawati, pembalap sepeda solo, pelajar kelas XI SMAN 7 Surakarta. (suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

JATUH bangun dialami Annisa Destein Cindy Qiawati dari berbagai ajang balap sepeda. Tidak hanya dalam konotasi prestasi, tapi benar-benar jatuh dan kembali bangun di lintasan adu kebut. Pada ajang cross country Pra-PON di Lubuk Linggau, Sumatera Barat, pertengahan Juli lalu, dia jatuh hingga bibirnya mendapat dua jahitan.

Terakhir, atlet yang masih berstatus pelajar kelas XI SMAN 7 Surakarta itu jatuh dalam insiden kecelakaan di Gunungkidul, 31 Agustus lalu. Saat sprint finish pertama di nomor kriterium pada kejuaraan Customs Cycling Indonesia (CCI) Seri 1/2019 itu, dia bersenggolan dengan sesama pembalap. Benturan di kecepatan tinggi membuatnya terseret hingga beberapa meter di aspal jalan.

‘’Saya dan pembalap dari Malang itu sama-sama jatuh. Kepala benjol, helm saya bengkok tak lagi simetris. Pipi kanan bengkak, bahu dan kaki kanan luka. Jersey robek nggak karu-karuan. Bahkan saya sempat tak sadar saat kejadian kecelakaan,’’ ungkap dia.

Dia bersyukur tak ada masalah pada tulangnya. Cewek 17 tahun tahun itu pun bersikeras mengikuti lomba nomor individual road race (IRR), keesokan harinya. Rasa sakit dan ngilu yang membelenggu tubuhnya, tak dia pedulikan.

Mengejar Peringkat

Mengapa dia berkeras kepala tetap ikut adu kebut lagi, meski tubuhnya sakit? ‘’Saya belum dapat peringkat baik di kejuaraan selama tiga hari itu, maka saya harus mengejarnya. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa podium empat nomor IRR di Gunungkidul itu,’’ tandas Cindy.

Menekuni balap sepeda sejak Juni 2016, putri pasangan Heru Suyanto-Suharti memang memiliki tekad keras dalam memburu prestasi. Sebagai bekal, dia selalu intensif mengikuti latihan bersama sejumlah pembalap lain di arahan pelatih Pengkot Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Solo, Agus Sadiyanto.

Ketekunannya berbuah. Pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng 2018, remaja kelahiran 11 Desember 2002 itu merebut medali emas nomor individual time trial (ITT). Tak hanya itu. Dia juga merebut dua medali perak di nomor IRR dan cross country (MTB). Atas bekal tersebut, Cindy masuk jajaran atlet pelatda balap sepeda Jateng di arena Pra-PON, serta kemudian meraih tiket menuju PON 2020.

‘’Saya ingin terus meningkatkan kemampuan. Saya ingin masuk pelatnas untuk membela tim Indonesia,’’ ujar dara yang juga adik sepupu pembalap senior, Endra Wijaya tersebut.(Setyo Wiyono)

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here