Wayang Beber, Asalnya dari Kediri Berkembang Pesat di Solo

0
29
sejarah-wayang-beber1
KEONG EMAS : Di tengah kondisi fisik yang sudah sakit-sakitan, Mbah Ning (68) dan salah satu karyanya berjudul ''Keong Emas'', saat ikut pameran bersama di TBS Solo dalam rangkan ''Sarasehan Wayang Beber Lintas Generasi 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

 

* Ada Bagian Sejarah yang Missing Link? (1-bersambung)

RUNTUHNYA kerajaan Majapahit yang membuat Raja Brawijaya V menyelamatkan beberapa bagian terpenting dari peradabannya ke arah barat di sekitar abad 14, banyak pihak meyakini sebagai titik awal atau bahkan perjalanan produk seni yang dikenal dengan nama seni kriya wayang beber. Namun, pendapat itu dimentahkan dengan munculnya relief di beberapa candi, di antaranya Borobudur (Magelang) dan Candi Penataran (Jatim).

Seni kriya wayang beber, adalah cabang seni lukis tradisional dengan media lembaran kulit atau kertas yang dulu dikenal dengan nama daluwang atau dluwang, dan pada perkembangannya dilukis di atas kanvas atau kain (primis/primisima). Objek yang dilukiskan dalam media daluwang atau kanvas itu, adalah manusia dan sedikit panorama yang mengisahkan peristiwa Keraton Kediri dan sekitarnya, abad 12.

Sedangkan relief candi, misalnya yang ada di Jateng dan Jatim itu, muncul bersama seluruh struktur bangunan candinya yang dalam catatan sejarah lebih dulu ada, atau terpaut beberapa abad sebelum peristiwa larinya Prabu Brawijaya V yang jejaknya ditemukan di puncak Gunung Lawu (Karanganyar), dengan membawa beberapa aset peradabannya, di antaranya karya seni wayang beber.

sejarah-wayang-beber2
DIUNDANG KE LUAR NEGERI : Karena ketrampilannya melukis wayang beber yang punya gaya tersendiri, Dani Iswardana Wibowo (45) pernah diundang di beberapa negara untuk melakukan residensi wayang beber perkotaan. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Menentukan mana yang paling tua atau adakah rentetan atau tautan sejarah antara seni wayang beber dengan keberadaan relief candi, hingga membentuk urutan logika antara sebab dan akibat, sampai kini masih menjadi debatable. Karena belum ada penelitian yang bisa membuahkan hasil meyakinkan, tentang adanya hubungan yang masuk akal antara keduanya.

Sepertinya ada missing link antara saat menyingkirnya Prabu Brawijaya V, dengan pengakuan warga Pacitan (Jatim) dan Gunungkidul (Jogja) yang mengklaim gulungan wayang beber yang dirawatnya sebagai bagian dari pelarian Prabu Brawijaya. Begitu juga, missing link antara fakta relief candi dengan munculnya karya seni kriya wayang beber.

Mirip Wayang Kulit

Namun dalam sebuah forum Sarasehan Wayang Beber Lintas Generasi 2017, selama berlangsungnya tanya-jawab antara pemakalah Ki MDm Edy Sulistyo meyakini, wayang beber yang ada di Pacitan dan Gunungkidul diyakini sebagai karya seni kriya yang muncul setelah Keraton Demak abad 14. Karena, postur tokoh orang dalam lukisan tersebut, mirip citra anak wayang kulit yang hanya punya sisi dua dimensi sebagai bentuk akulturasi karena karena pengaruh adaptasi Islam Keraton Demak.

sejarah-wayang-beber3
DIUNDANG KE LUAR NEGERI : Karena ketrampilannya melukis wayang beber yang punya gaya tersendiri, Dani Iswardana Wibowo (45) pernah diundang di beberapa negara untuk melakukan residensi wayang beber perkotaan. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dari diskusi di forum sarasehan itu juga muncul analisis, bahwa wayang beber yang disimpan di dua daerah di provinsi yang berbeda itu, diyakini produk zaman setelah Keraton Demak. Analisis yang paling mendekati kebenaran, adalah peristiwa hancurnya Keraton Kartasura sebagai lanjutan Keraton Mataram Islam, akibat geger pecinan yang dimotori Mas Garendi, yang membuat seiri keraton terutama Sinuhun Paku Buwono II menyelamatkan diri ke Ponorogo (Jatim), yang diduga membawa sejumlah prasasti penting termasuk wayang beber.

Telusur jejak sejarah yang dilakukan para ilmuwan, juga mendapati ada jejak peninggalan bahwa Pangeran Sambernyawa atau Mangkunagoro I itu ditemukan di daerah Gunungkidul. Padahal, antara Dunungkidul dan Pacitan terbilang berdekatan, sama-sama di pesisir laut selatan, keduanya tak begitu jauh dengan Ponorogo, dan di Museum Pura Mangkunegaran juga masih menyimpan karya sungging wayang beber serupa, karena sama-sama mengisahkan Keraton Kediri dan punya kemiripan dalam ragam gaya.

Untuk mencari kebenaran data sejarah tentang hubungan antara keduanya, memang bukan pekerjaan mudah. Tetapi proses ilmiah yang dimaksudkan untuk membuktikan segala macam teori yang ada, tentu sudah memasuki ranah para sosiolog, antropolog dan sejarawan yang diyakini selama ini sudah melakukan kerja ilmiah, meskipun belum menemukan hasil yang meyakinkan untuk kasus itu.

Masuk Kategori Sungging

Kini, sekalipun baru bisa diduga ada jejak-jejak hubungannya antara peristiwa satu dengan yang lain, namun faktanya sudah ada bukti nyata bahwa Candi Borobudur, memperlihatkan relief yang mengisahkan bagaimana perjalanan/proses pembangunannya. Simbol-simbol yang diberikan relief itu, bisa dimaknai sebagai aktivitas/proses kerja fisik dan non fisik, bahkan ada yang diyakini memberi isyarat semacam prasasti sebagai yang menunjukkan kapan semua peristiwa yang dilukiskan itu terjadi.

sejarah-wayang-beber4
BANYAK YANG BERGURU : Para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan generasi muda calon pelukis wayang beber, banyak yang datang ke rumahnya di Wonosaren, Jagalan, Jebres, Solo untuk berguru kepadanya. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Fakta lain yang esensial yang bisa ditangkap kaitannya dengan eksistensi seni kriya wayang beber, adalah struktur tubuh manusianya yang diyakini menjadi inspirasi atau awal dari proses terwujudnya seni kriya wayang beber. Karena, posisi gerak/gaya struktur tubuh manusia yang ada di relief candi, mirip dengan yang ada di lembaran daluwang karya seni kriya wayang beber, baik yang tersimpan di Pacitan (Jaitm) dan Gunungkidul (Jogja).

Keberadaan gulungan daluwang berisi lukisan wayang beber yang disimpan mbah Sarnen (alm) di Pacitan, kemudian yang dirawat seseorang warga Gunungkidul (Jogja), menjadi fakta keberadaan kisah Keraton Kediri dalam bentuk karya seni kriya yang biasa dikenal dengan sungging. Seni melukis yang hanya mengisi warna pada design yang sudah ada seperti halnya yang ada di Pacitan, Gunungkidul maupun yang dilakukan para pengrajin wayang kulit, dalam bidang studi di jurusan seni rupa tradisi ISI Solo, disebut kriya sungging.

Banyak yang Mengembangkan

Fakta-fakta itu ada kemiripan dengan aktivitas seni yang dilakukan Hermin Istiariningsih (68) yang akrab disapa mbah Ning, warga Wonosaren, Jagalan, Jebres, Solo. Bahkan juga ada kemiripan yang dilakukan Dani Iswardana Wibowo (45) warga Mangkuyudan, Laweyan, Solo, Pujianto Kasidi (Sragen) dan juga Faris (30) yang tinggal dan punya sanggar lukis di Wonogiri dan sebagainya.

sejarah-wayang-beber5
GAYA TERSENDIRI : Wanita satu-satunya yang berprofesi sebagai pelukis wayang beber, mbah Ning (68), menjadikan kisah Keraton Kediri itu sebagai ketrampilan melukis dan punya gaya tersendiri, yaitu klasik gaya Wonosaren (Jagalan, Jebres, Solo), hingga sering diadatangi crew sejumlah TV yang ingin mengabadikan proses kesenimanannya.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sederetan nama itu, mendeklarasikan dirinya sebagai perupa kriya atau lukis wayang beber di sanggar atau tempat masing-masing. Bahkan, sejumlah mahasiswa jurusan kriya Fakultas Seni Rupa ISI, juga sangat aktif berkarya bersama, yang menghasilkan satu gulung wayang beber sepanjang empat meter, yang terdiri dari empat jagong (jejer), yang mengisahkan Keraton Majapahit, kira-kira seabad kemudian setelah Keraton Kediri (Jatim).

”Dari sejarah yang saya ketahui, memang ada kebenarannya. Termasuk juga, yang dibahas dalam forum sarasehan di TBS tahun 2017 itu. Perjalanan sejarah yang lengkap seperti apa, saya belum tahu. Tetapi faktanya, wayang beber sudah berkembang seperti sekarang ini. Ada yang menganggap pusaka dan dijadikan koleksi pribadi, ada yang menjadikannya seni lukis seperti yang digeluti bu Ning (Hermin Istiariningsih), dan yang saya lakukan sekarang,” ujar Dani Iswardana Wibowo, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin. (Won Poerwono-bersambung)

sejarah-wayang-beber6
MENJADI KETRAMPILAN : Di tangan mbah Ning (68), sejarah Keraton Kediri (Jatim) itu selama 30-an tahun menjadi seni krampilan kriya sungging wayang beber yang bisa dijual dan dijadikan sumber penghidupan di kota tempatnya tinggal, Kota Solo.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here