Desa Beku Dikunjungi Raja untuk Mengambil Pusaka

0
227
gapura-keraton-surakarta
GAPURA KERATON: Gapura peninggalan PB X berdiri di Dusun/ Desa Beku, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten.(suaramerdekasolo.com/Achmad H)

*Jejak Mataram Islam di Desa Beku (1)

DESA Beku hanya desa kecil di Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten. Luas wilayahnya hanya sekitar 110 hektare dengan lima wilayah rukun warga (RW). Namun desa yang dihuni sekitar 550 kepala keluarga (KK) itu meninggalkan jejak sejarah kerajaan Mataram Islam di masa Kasunanan Surakarta.

Terletak di sisi timur Kabupaten Klaten dengan batas timur Desa Troso, di barat berbatasan dengan Desa Karangan, di selatan dengan Desa Tarubasan dan di utara dengan Desa Brangkal. Dari 401 desa di Kabupaten Klaten, Desa Beku memiliki keistimewaan karena satu-satunya desa yang terdapat peninggalan gapura (kerun) yang dibangun Paku Buwono X (1893 – 1939).

Gapura yang masih utuh itu berhuruf Jawa dan berangka tahun 1934. Gapura diperkirakan dibangun selisih dua tahun dari pembangunan Gapura Kota Praja Kasunanan di alun-alun utara dan selatan Keraton Surakarta yang dibangun sekitar tahun 1931-1932. Tidak ada bukti otentik perihal peninggalan PB X itu.

Namun menurut cerita turun-temurun, desa itu pernah dikunjungi raja untuk mengambil pusaka yang hilang misterius (muksa). Mantan Kepala Desa Beku, Muhammad Mudrik mengatakan tidak ada catatan sejarah tentang Desa Beku. Yang ada hanya cerita rakyat dari sesepuh desa. ” Gapura pemberian PB X itu masih asli. Hanya kayu jati di atasnya yang sudah rusak,” jelasnya, Kamis (12/9).

Meskipun gapura peninggalan PB X itu persis di depan rumahnya tetapi tidak banyak sejarah yang diketahuinya. Pemerintah desa di masanya menjadi Kades pernah menggali sejarah desa tetapi tidak ada sumber valid dan otentik. Yang ada cerita mulut ke mulut peninggalan para orang tua. Konon, gapura itu didirikan sebagai petilasan karena raja pernah datang mengambil pusaka. Pusaka itu ditemukan di mata air atau tuk sungai sebelah utara desa.

Mbah Beku

Versi lain menyebut, gapura itu sebagai penanda sebab wilayah Desa Beku merupakan wilayah batas kekuasaan Kasunanan masa lalu. Versi lain menyebutkan karena di Desa Beku, dimakamkan beberapa tokoh besar yang ada kaitannya dengan Perang Diponegoro tahun 1825-1830.

Namun tentang makam itupun tidak ada yang tahu pasti jati diri para pepunden itu. Yang paling dikenal masyarakat hanya ada makam Mbah Beku sebagai cikal bakal desa. Tokoh inilah yang makamnya tidak jauh dari mata air tempat pusaka ditemukan.

Pemerintah desa di masanya memimpin pernah akan mengangkat jejak sejarah itu menjadi ikon wisata sejarah tetapi terkendala tidak adanya bukti otentik dan siapa sebenarnya Mbah Beku.

Desanya pernah didatangi pegawai Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) tetapi hanya memberi saran desa layak dijadikan cagar budaya. Dari beberapa literatur di Dinas Arsip dan Perpustakaan Pemkab Klaten, selain di Desa Beku, di Kabupaten Klaten ada peninggalan masa PB X.

Peninggalan itu berupa tempat persinggahan atau pasanggrahan di kawasan puncak Gunung Merapi, Kecamatan Kemalang. Letaknya jauh dari Desa Beku bahkan jaraknya sekitar 30 kilometer. Di masa pemerintahan PB X, kondisi politik stabil sehingga pembangunan infrastruktur sangat banyak dan kemajuan sampai desa-desa.

Pesatnya pembangunan dan transisis ke masyarakat modern itulah yang konon menjadikan PB X mendapat sebutan Sinuhun Wicaksana.

Kepala Desa Beku, Alex Bambang W mengatakan pemerintah desa belum memiliki profil sejarah. Namun jejak gapura PB X itu menyimpan cerita banyak versi. Yang paling dikenal raja pernah datang ke Desa Beku mencari pusaka yang hilang dan ditemukan di mata air di tepi sungai. (Achmad H)

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here