FKN 12 Jadi Momentum Forum Musyawarah Terbuka

FKN-12-Jadi-Momentum-Forum-Musyawarah-Terbuka
MENUNGGU GILIRAN : Gusti Moeng selaku Sekjen FKIKN, duduk di antara para tamu undangan untuk menunggu giliran berpidato memberi sambutan pada pembukaan FKN ke-12 (7-14/9) di Kedatuan Luwu, Kabupaten Luwu Utara, Sulsel, Senin (9/9). Pembukaan itu dilanjutkan dengan pelepasan kontingen peserta kirab untuk berkeliling kota sejauh 3 KM. (suaramerdekasolo.com/dok)

*Musyawarah Agung Bisa Sewaktu-waktu

SOLO, suaramerdekasolo.com – Forum pertemuan raja-raja/sultan/pelingsir adat anggota Forum Komunikasi dan Informasi Keraton se-Nusantara (FKIKN) yang berlangsung di tengah-tengah acara Festival Keraton Nusantara (FKN) ke-12 di Kedatuan Luwu, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan (7-14/9), dijadikan momentum bersejarah FKIKN yang kini berusia 24 tahun sejak digelar kali pertama di Solo tahun 1995.

Karena, forum dialog dan silaturahmi itu, tidak hanya melibatkan kalangan anggota FKIKN yang berjumlah 47 keraton/kesultanan/pelingsir adat/kedatuan, tetapi juga menerima kehadiran semua komponen dari luar FKN.

”FKN ke-12 tampaknya menjadi momentum untuk merubah format dan lingkup forum dialog. Mulai FKN ini (ke-12), dinyatakan dibuka untuk umum. Selain anggota FKIKN, dihadiri komponen-kompnen lain seperti MARSI, AKN dan sebagainya. Bahkan, kalangan kampus, insitusi pemerintah dan lainnya bisa berpartisipasi. Karena, kami butuh saran dan masukan dari berbagai pihak. Mengingat, kami punya tugas dan tanggungjawab terhadap bangsa dan negara ini,” tegas GKR Wandansari Koes Moertijah selaku Sekjen FKIKN yang akrab disapa Gusti Moeng, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, tadi siang.

Selama pembukaan hingga berakhirnya seluruh rangkaian acara FKN ke-12, Gusti Moeng mengaku menunggi jalannya festival dan berbagai acara selama berlangsungnya FKN, termasuk forum musyawarah terbuka dan musyawarah agung yang tertutup. Bahkan sejak acara welcome party digelar untuk semua anggota FKIKN yang datang tanggal 6 September, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta sudah berada di tempat acara, sambil menata kontingen Keraton Surakarta sebanyak 25 orang yang juga berdatangan di Kedatuan Luwu.

Disebutkan, sejak dibukanya forum dialog secara terbuka untuk umum di acara FKN ke-12, seterusnya format seperti itu akan menjadi agenda resmi FKN-FKN berikutnya yang akan digelar tiap tahun di daerah lokasi keraton/kesultanan/pelingsir adat/kedatuan berada. Sebab itu, Puri Denpasar (Bali) yang sudah ditetapkan dan menyatakan bersedia menjadi tuan rumah FKN ke-13 pada 2020, di antara agenda acara kegiatannya dipastikan akan ada forum musyawarah terbuka, bahkan akan lebih disempurnakan lagi.

Keutuhan Bangsa

Seperti diketahui, sesuai tradisi yang dilakukan sejak FKN ke-1 digelar Keraton Surakarta Hadiningrat di Solo tahun 1995, setelah welcome party selalu diteruskan dengan musyawarah agung, yang kemudian diikuti agenda acara lain seperti kirab kontingen, pentas seni, peragaan busana adat pengantin dan pameran benda-benda bersejarah. Namun mulai FKN ke-12 ini, acara forum musyawarah terbuka menjadi agenda tetap selain sejumlah agenda kegiatan itu, sedang musyawarah agung bisa ditambahkan atau diadakan secara terpisah di luar FKN.

”Yang pertama, kami sadar bahwa perubahan zaman perlu disikapi dengan arif dan bijak. Termasuk, bagaimana kalangan anggota FKIKN menyikapi era milenial. Karena kami sadar, FKIKN ada untuk keutuhan bangsa dan negara yang berbudaya. Sementara, dari pada ada komponen lain serupa (FKIKN) yang berusaha terus mengganggu, ya diakomodasi sekalian, asal tujuannya untuk keutuhan bangsa dan negara yang berbudaya,” jelas KPH Edy Wirabhumi di tempat terpisah, selaku anggota dewan pakar FKIKN melengkapi penjelasan Gusti Moeng.

Sementara itu Gusti Moeng kembali menyatakan, masih banyak anggota FKIKN yang ingin menggelar event FKN. Karena, dengan Kedatuan Luwu menjadi tuan rumah FKN ke-12, berarti masih 35 keraton/kesultanan/kedatuan/pelingsir adat yang belum mendapat kesempatan. FKN ke-13 tahun 2020 adalah giliran Puri Denpasar (Bali) yang ditetapkan musyawarah agung sebagai tuan rumah penyelenggaranya.

Mulai FKN I di Solo tahun 1995, musyawarah agung anggota FKIKN menetapkan pelaksanaan FKN dua tahun sekali, bergiliran dua kli berturut-turut di luar Jawa dan giliran berikut sekali di pulau Jawa. Namun, sampai FKN ke-10 tahun 2016 di Kotawaringin Timur (Kalteng), perjalanan event itu baru dinikmati 10 anggota FKIKN, masih tersisa 37 anggota yang diperkirakan memakan waktu 70-an tahun lagi kalau tetap digelar 2 tahun sekali.

”Maka, pada FKN ke-9 di Bima (NTB), diputuskan FKN berlangsung rutin tiap tahun. Sekaligus ditetapkan, tahun 2016 di Kotawaringin *Kalteng), tahun 2017 di Cirebon (Jabar), 2018 di Padang (Sumbar) dan 2019 ini di Luwu (Kalsel). Ini upaya mempercepat datangnya giliran. Walaupun dibutuhkan waktu 30-an tahun lagi untuk tuntas seluruh anggota menjadi tuan rumah,” jelas Gusti Moeng lagi. (won)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here