Peran Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, ISI dan TBS Besarkan Wayang Beber

brawijaya
DALANG INTELEKTUAL : Ki Dr Bambang Suwarno, adalah dalang profesional sekaligus intelektual kampus pensiunan ISI Solo, saat diminta membantu pendataan dan dokumentasi koleksi wayang purwa milik Keraton Surakarta, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Wayang Beber, Asalnya dari Kediri Berkembang Pesat di Solo (2-bersambung)

PADA tahun 1990-an, Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta (TBS) pernah mengundang seorang dalang wayang beber asal Pacitan, untuk menggelar pentas di situ dan suaramerdekasolo.com ikut menyaksikannya. Seni pertunjukan yang mengisahkan perihal Keraton Kediri itu, hanya disajikan beberapa ”jagong” atau jejer dari segulung daluwang berisi lukisan adegan tokoh-tokohnya, dalam durasi kurang lebih dalam dua jam.

Dalam bentuk sajian itu, kisah percintaan Raden Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji yang menjadi tokoh sentral sejarah Keraton Kediri di abad 12 itu tak lagi sekadar sebagai sejarah peradaban. Melainkan sudah diangkat menjadi sebuah cabang seni, yaitu seni pertunjukan drama yang masuk kategori wayang dan disebut wayang beber.

Mengapa disebut wayang beber? Karena, pertunjukan seni jenis ini hanya berupa menggelar/mrembeber lalu menggulung/nglinting/nglunthung selembar daluwang (kertas) atau kain (kanvas/primis/primisima) berukuran panjang, yang berdiri vertikal di atas gawang setinggi 70-an cm yang lebarnya seukuran jangkauan kedua tangan manusia ke arah kanan dan kiri. Pertunjukan seni dengan cara membeber (membentang) kain berisi lukisan wayang tokoh-tokoh dari Keraton Kediri itulah, yang kemudian disebut wayang beber.

sejarah-wayang-beber7
TOPENG PANJI : Gusti Moeng selaku Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan (Keraton Surakarta), sangat baik dalam merawat kisah tentang Keraton Kediri ke dalam sendratari Kilapawarna atau topeng Panji yang disusun dari naskah yang ditulis Sinuhun Paku Buwono IV, yang digelar di event budaya di Jogja, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sebagai seni pertunjukan, wayang beber bisa berlangsung sampai lebih dua jam, tergantung kebutuhan/permintaan atau bisa dibatasi durasinya dengan memilih lakon tertentu, misalnya ”Joko Kembang Kuning”, ”Joko Tarub”, ”Joko Bluwa”, ”Joko Pengging”, ”Cindelaras”, ”Keong Emas” dan sebagainya. Namun dari temuan yang sudah ada, baik yang dirawat anak-cucu mbah Sarnen keturunan Ki Remeng Mangunjoyo di Pacitan (Jatim) atau di Gunungkidul (Jogja) atau yang diduplikasi mbah Ning (Solo), kisah Keraton Kediri dituangkan dalam 6 gulung kertas/kanvas yang masing-masing sepanjang 4 meter dan berisi 4 jagong.Ketika mbah Sarnen pentas di TBS tahun 1990-an, penyajian pertunjukan wayang beber hanya diiringi instrumen gamelan gender, rebab, kendang, saron dan kempul yang masuk rumpun gamelan slendro.

Setelah era mbah Sarnen, memang muncul generasi penerus dalang wayang beber, tetapi hanya beberapa gelintir dan dalam kurun waktu 20 tahun kemudian hingga kini, seni pertunjukan wayang beber dan figur-figur dalangnya nyaris tak ada suaranya.

Paham Seni Bercerita

Dengan profil dan format pertunjukan seni semacam itu, benarkah membosankan? Benarkah tak ada daya tarik terutama bagi generasi milenial? Punahkah seni pertunjukan wayang beber? Ketiga pertanyaan itu jelas berkonotasi langsung menyentuh persoalan faktual yang menjadi sifat-sifat manusianya, setidaknya ketika modernitas meluas, angin kebebasan era reformasi datang menerjang dan kini memasuki zaman milenial.

Setidaknya ada tiga kata kunci yang muncul, yaitu ”membosankan”, ”daya tarik” dan ”era milenial”. Pensiunan dosen jurusan pedalangan ISI Solo, Dr Bambang Suwarno setuju dengan ketiga indikator itu. Tetapi dalang profesional yang sangat piawai dalam sanggit (mengkreasi) lakon dan mengkreasi beberapa jenis anak wayang itu masih ingin membela, bahwa ketiga indikator itu bisa diatasi kalau figur dalang yang menyajikan memiliki kemampuan hebat dalam soal seni bercerita.

sejarah-wayang-beber8
MEMBAHAS KISAH PANJI : Sebagai fakta sejarah perjalanan asli bangsa Indonesia, kisah Panji menjadi topik diskusi dan pembahasan yang menarik selain sebagai karya seni pertunjukan, karya lukis wayang beber, karya kerajinan topeng dan sendratarinya seperti yang digelar TBS, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Karena, seni pertunjukan Dalang Jemblung yang hanya didukung dua jenis iringan, bisa tampil hebat, memukau penonton. Kuncinya, pahami dulu kata kuncinya, yaitu ‘seni bercerita’. Mirip acara komika di TV itu lo, melawak sendiri atau monolog untuk menceritakan sesuatu, tetapi bisa lucu sekali dan memukau banyak penonton. Seni pertunjukan wayang beber harusnya bisa menarik dan memukau penonton seperti itu. Artinya, kembali tergantung figur dalangnya ‘kan?,” ujar Ki Bambang Suwarno (70) saat ditemui suaramerdekasolo.com di kediamannya, Kampung Ndadapan, Sangkrah, Pasarkliwon.

Memang, cerita atau kisah Panji itu berasal dari ”rekaman” suasana yang hidup di Keraton Kediri, Jenggala (Malang) dan Ngaron (Madiun) pada abad 12, dan kini masuk wilayah Provinsi Jatim, tetapi tidak lantas kalah menarik dibanding kisah/cerita lain yang diangkat ke media seni apa saja. Apalagi, Dr Bambang Suwarno meyakini, kisah yang diangkat ke dalam pertunjukan wayang beber dan media seni lainnya, justru asli dari bumi Nusantara, bukan impor, bukan hasil kolaborasi dan bukan pula produk asembling.

Daya Dukung Besar

Mengapa kisah/cerita asli dari sekitar Kediri (Jatim) itu justru lebih dikenal dalam berbagai media seni di wilayah barat Kediri, yaitu Solo dan sekitarnya, Jogja, bahkan ada kemiripan dengan kesenian Topeng Cirebon yang sangat terkenal di Jawa Barat itu? Sementara, Kota dan Kabupaten Kediri, kemudian daerah-daerah lain yang disebut menjadi batas geografis kisah Panji seperti Malang dan Madiun, terkesan seakan ”tidak peduli” dengan nasib ”kisah Panji”.

Menurut doktor ilmu pedalangan yang masih sering diminta menguji calon mahasiswa S2 dan S3 di ISI dan UNS (Solo), UGM dan ISI (Jogja) dan beberapa perguruan tinggi lain itu, selain fakta sejarah runtuhnya beberapa kerajaan di Jatim seperti Singasari, Kediri dan Majapahit yang nyaris hilang jejak peradabannya itu, ternyata sisa-sisanya ikut terbawa lari ke arah barat, di antaranya (kini) Jateng, DIY dan Jabar.

sejarah-wayang-beber9

BERBAGAI VERSI : Lukisan wayang beber yang semula hanya mengangkat kisah Raden Panji Inu Kertapati dan kisah Keraton Kediri, kini dikembangkan para mahasiswa dan lulusan Seni Rupa ISI dalam berbagai versi dan gaya, termasuk gaya Wonosaren yang dikembangkan mbah Ning.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dari Keraton Demak abad 14, kemudian Mataram Islam abad 16 hingga Keraton Mataram Surakarta Hadiningrat (mulai abad 17), merupakan daya dukung utama yang merawat sisa-sisa peradaban itu. Bahkan kemudian mengembangkan cara-cara pemeliharaannya, seperti dakan bentuk media seni pertunjukan wayang beber, seni rupa tradisi/kriya sungging wayang beber, kerajinan topeng Panji dan sendratari topeng Panji Kilapawarna yang ditulis Sinuhun Paku Buwono IV (tahun 1800-an).

Begitu juga Pura Mangkunegaran, selain mengoleksi topeng Panji, juga memiliki duplikat wayang beber secara lengkap dari Pacitan dan Gunungkidul, dalam jumlah yang sama, yaitu 6 gulung, tiap gulung panjang 4 meter dan berisi 4 jagong (adegan), yang menceritakan kisah perjalanan cinta Panji Inu Kertapati dengan Dewi Sekartaji. Gulungan wayang beber itu juga masih terbuat dari kulit pohon/kertas atau daluwang, yang dibuat semasa KGPAA Mangkunagoro IV dan VII (tahun 1900-an).

sejarah-wayang-beber10
AYA WONOSAREN : Sebagai pelukis otodidak, mbah Ning mampu mengkonservasi dan melestarikan kisah Panji dalam karya sungging wayang beber gaya Wonosaren, selain karya lukisan kaca yang mengangkat tema wayang purwa. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Selain dua lembaga masyarakat adat dari Dinasti Mataram itu, keberadaan ISI Solo (dulu ASKI) dan TBS (dulu PKJT) yang sejak dulu berpasangan, ikut mengkonservasi dan mengembangkan cara-cara pemeliharaannya. Termasuk dibukanya jurusan seni kriya (wayang beber) dan seni pedalangan itu,” tunjuk Ki Bambang Suwarno yang beberapa kali pernah diajak membantu proses dokumentasi koleksi wayang dan topeng di Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran, beberapa waktu lalu. (Won Poerwono-bersambung).

Editor : Budi Sarmun

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here