Duh, Hujan Diprediksi Turun Awal November

0
33
kekeringan-sragen
MENGAIS SISA-SISA AIR: Warga Desa Dukuh Kecamatan Tangen mengais sisa-sisa air yang maih tersisa di ceruk-ceruk sungai. Musim kemarau seperti saat ini, membuat sumur-sumur, sungai dan sumber air di berbagai tempat di Sragen, khususnya yang ada di Utara aliran Bengawan Solo telah lama mengering. (suaramerdekasolo.com/Basuni hariwoto)

SRAGEN,suaramerdekasolo.comMusim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dibanding tahun sebelumnya. Pasalnya, berdasarkan prediksi dari Badan Metrologi Klimatologi dn Geofisika (BMKG), hujan di Sragen baru turun pada awal November mendatang.

Sementara tahun lalu,hujan sudah turun pada awal Oktober. Namun diharapkan prediksi itu bisa berubah dan hujan bisa lebih cepat turun. Saat in sebanyak 36 desa di tujuh kecamatan yang terdampak kekeringan, masih mengandalkan pasokan air dari bantuan berbagai pihak.

“Prediksi dari BMKG, hujan memang baru turun awal November, tapi harapannya hujan bisa lebih cepat turun,” kata Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen Sugeng Priyono, Minggu (15/9).

Sugeng memastikan, saat ini pihaknya bersama berbagai pihak seperti Palang Merah Indonesia (PMI) dan PDAM Tirto Negoro juga masih terus melakukan dropping atau pengiriman air bersih ke dusun-dusun atau desa-desa yang mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih.

Itu juga masih ditambah dengan bantuan air bersih dari berbagai instansi atau komunitas yang peduli dan memberikannya ke daerah-daerah yang membutuhkan. Setiap hari, setidaknya ada 30 truk tangki yang memasok air bersih ke berbagai wilayah. “Masyarakat tidak perlu khawatir, karena kami selalu siap memberikan bantuan air bersih,” tandas Sugeng.

Selama ini pasokan air bersih yang dilakukan untuk 36 desa di tujuh kecamatan yang selama ini menjadi langganan kekeringan di musim kemarau. Yakni Gesi, Tangen, Jenar, Miri, Sumberlawang, Mondokan dan Sukodono.

Sugeng mengungkapkan, sampai saat ini sudah ada sekitar 1.600 tangki air yang telah dipasok ke dusun dan dukuh yang mengalami kekeringan. Dilihat dari waktu dan dampak akibat kekeringan, jumlah ini diprediksi bakal melampaui jumlah pasokan air yang dikirim pada tahun lalu yang mencapai 1.990 truk tangki.

Pasokan Air

Namun semuanya baru bisa dijumlah pada akhir waktu, saat hujan sudah turun dan bantuan pasokan air bersih dihentikan. “Yang pasti, saat ini pasokan air masih terus dilakukan dan harapannya hujan bisa turun lebih awal,” tegas Sugeng.
Salah satu komunitas yang peduli dan memberikan bantuan air bersih adalah

Paguyuban Haji KBIH Walisongo, Karangmalang. Paguyuban ini membagikan 32 tangki air bersih di 28 dukuh dari delapan desa di tiga kecamatan yang ada di wilayah Utara aliran Bengawan Solo, pada Minggu (15/9).Yakni di Desa Galeh, Katelan, Sigit, Denayar, Kecamatan Tangen, Desa Banyuurip dan Ngepringan Kecamatan Jenar dan Kecamatan Gesi.

Ketua KBIH Walisongo Catur Jatmiko menjelaskan, para anggota KBIH yang rutin mengadakan pengajian setiap Ahad Pon ikut empati, ikut bagikan air bersih 32 tangki dengan isi 8 ribu liter di 28 Dukuh yang kondisinya betul-betul membutuhkan bantuan air bersih. (Basuni Hariwoto)

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here