Gaya Berkembang dan Bersaing Klaim Klasik

0
44
sejarah-wayang-beber11
SETIA NILAI-NILAI : Sebagai pelukis yang taat dan setia pada nilai-nilai dalam berkarya, mbah Ning (68) ingin bertahan dalam gaya klasik melukis wayang beber untuk pelestarian budaya, meski sudah memberi sentuhan gaya Wonosaren.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Wayang Beber, Asalnya dari Kediri Berkembang Pesat di Solo (3-bersambung)

BERBAGAI data yang dimiliki sebagai dokumen institusi baik di Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, ISI, TBS dan sejenisnya, begitu pula yang dimiliki kalangan intelektual peneliti dan praktisi lukis wayang beber, nama Hermin Istiariningsih (mbah Ning) mungkin satu-satunya wanita pelukis wayang beber. Dia adalah bagian dari pelukis dekoratif khusus kisah Panji (Kediri) dan kisah-kisah kerajaan sejenis itu, yang membuat menonjol cara-cara pelestarian kisah Panji dalam seni rupa kriya lukis di antara beberapa media ekspresi seni lainnya seperti seni pertunjukan pedalangan, sendratari, kriya topeng dan sebagainya.

Dalam bentuk karya dekoratif, koleksi yang dimiliki Pacitan (Jatim), Gunungkidul (Jogja) dan Pura Mangkunegaran, sulit ditunjuk mana yang paling klasik atau asli karya artefak peninggalan Kediri (abad 12) yang disimpan Majapahit (abad 13), diselamatkan Brawijaya V ”menuju Demak (abad 14), melalui Mataram Hindu dan Islam (abad 16) hingga Mataram Surakarta (abad 17). Fakta yang sudah ditemukan, hanya menyebut tiga tempat itu yang semuanya mengklaim asli dari Majapahit.

Di beberapa tempat lain seperti sebuah museum di Bali, juga mengaku punya duplikasi gaya klasik. Di tangan mbah Ning (Solo) dan Pujianto Kasidi, perjalanan lukisan wayang beber juga masih diklaim klasik. Terlepas mana yang paling klasik di antara karya yang ada sebagai bagian dari missing link sejarah wayang beber, ahli wayang gedog dan wayang wasana Ki Dr Bambang Suwarno mengaku tidak punya data untuk menunjuk satu di antaranya yang paling klasik atau otentik paling dulu.

sejarah-wayang-beber12

TIDAK SENDIRI : Meski menjadi satu-satunya wanita pelukis wayang beber, tetapi mbah Ning tidak sendiri dalam pelestarian budaya kisah Panji. Masih banyak seniman yang setia menekuni profesi dalam berbagai bentuk ekspresi seni, seperti yang digelar di TBS, beberapa waktu lalu.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Intelektual yang dulu pernah mengampu sejumlah mata kuliah di jurusan pedalangan dan tari itu, juga mengaku belum pernah menemukan data hasil penelitian yang menunjuk perbedaan antara gaya wayang beber yang disimpan anak-cucu Ki Remeng Mangunjoyo (Pacitan), dengan peninggalan yang di Gunungkidul (Jogja), juga dengan yang diduplikasi Pura Mangkunegaran maupun yang disimpan mbah Ning di Wonosaren, Jagalan, Jebres, Solo.

”Kalau karya mbah Ning, mungkin sudah beda dengan yang ada di Pacitan maupun Gunungkidul. Karena karya mbah Ning sudah ada sentuhan (perubahan) pada dimensi postur tubuh objek yang dilukis, dari dua dimensi menjadi tiga dimensi. Tetapi tidak terjadi pada semua jejeran. Mungkin hanya empat atau lima. Karena perbedaan itu kami menyebut wayang beber gaya atau gagrag Wonosaren,” jelas mbah Tris (78) yang dibenarkan mbah Ning, saat keduanya ditemui suaramerdekasolo.com di kediamannya, kemarin.

Setia pada Nilai-nilai

Meski mengaku sudah tua dan sering sakit-sakitan, mbah Ning berjanji akan terus berkarya sekuat tenaga dan mempertahankan gaya lukisannya, gaya Wonosaren. Tidak peduli ada pesanan atau tidak, ada undangan pameran atau tidak, diperhatikan pemerintah atau tidak, wanita penyungging wayang beber yang tiap harinya hanya ditemani sang suami, mbah Tris (Soetrisna) itu, mengaku hanya mengandalkan karyanya melukis sebagai sumber kehidupannya, sekalipun hanya cukup untuk makan dan biaya perawatan gangguan kesehatan yang dideritanya dalam 10 tahun terakhir.

sejarah-wayang-beber13
GENERASI MUDA : Dani dan beberapa kawannya sedang mengamati hasil kerya bersama, beberapa waktu lalu. Mereka adalah bagian dari generasi muda pelukis wayang beber dalam gayanya sendiri, sebagai pelestari budaya kisah Panji.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Di mata Dani Iswardana Wibowo (45), apa yang dilakukan mbah Ning biarlah tetap dilakukan karena berbagai alasan yang sangat bisa diterima akal sehat. Khususnya, gaya klasik konvensional yang selama ini dipertahankan, diakui tetap memiliki kekuatan dan nilai tersendiri dalam perjalanan seni sunggin/lukis wayang beber, terlebih ada nilai plus pada diri mbah Ning yang membedakan dengan para pelukis wayang beber klasik lainnya.

”Mbah Ning itu konsisten dan kuat pada pendiriannya untuk mempertahankan gaya klasik lukisannya. Nilai plus yang lain adalah, beluau adalah satu-satunya wanita pelukis wayang beber di Tanah Air. Setidaknya sejak wayang beber menjadi seni kriya lukis, sampai sekarang saya kira hanya beliau. Bahkan, sangat profesional. Tidak pernah berpikir menunggu pesanan baru melukis. Tapi hari-harinya diisi kegiatan melukis. Padahal, belum tentu ada yang laku, belum tentu ada yang payu. Pendirian kuat dan sikap profesional itu yang saya kagumi,” ujar pelukis wayang beber yang punya gaya beda lagi yang disebut Wayang Beber Kota di tempat terpisah.

Selain dua pelukis beda generasi itu, suaramerdekasolo.com mencatat masih ada beberapa pelukis wayang beber dalam beberapa gaya. Misalnya, Pujianto Kasidi yang tinggal di Sragen, yang memiliki gaya klasik dan pernah memamerkan segulung wayang beber sepanjang 60 meter, yang berisi kisah Panji yang terdiri dari 6 bagian dan tiap bagian terdiri dari 4 adegan atau empat ”jagong”.

sejarah-wayang-beber14

KOLEKSI WAYANG BEBER : Sinuhun Paku Buwono XII (alm), tampak sedang bertanya-tanya soal wayang beber dan beberapa koleksi Pura Mangkunegaran kepada GPH Herwasto Kusumo (alm) dalam sebuah pameran di kompleks pura, beberapa waktu jauh sebelum keduanya wafat. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Produk Dekoratif Menonjol

Perupa tradisi di Sragen itu, hingga kini disebutkan masih terus berproduksi/berkarya. Begitu juga, Faris, seorang generasi muda pelukis wayang beber yang punya gaya beda lagi, yaitu Wayang Beber Tani, sangat eksis dengan karya dan aktivitas sanggarnya di sebuah desa di Wonogiri. Kedua tokoh itu, selain melukis wayang beber untuk hiasan dinding atau dekoratif yang berukuran pendek, juga melukis untuk kebutuhan pentas seni pertunjukan yang ukurannya panjang sampai empat meter, bahkan Pujianto Kasidi membuat sepanjang 60 meter.

Lain lagi yang dilakukan sekelompok mahasiswa jurusan kriya seni ISI Solo, yang belum lama berhasil memproduksi lukisan wayang beber gaya klasik sepanjang 4 meter, tetapi mengangkat kisah Keraton Majapahit (abad 13). Karya mereka itu pantas diperhitungkan dan dibukukan, baik sebagai karya seni pertunjukan maupun karya seni rupa kriya lukis yang bersifat dekoratif.

”Yang saya lakukan, beda lagi dengan teman-teman dan beberapa tokoh itu. Karena, saya sering diundang untuk tinggal di negara pengundang, untuk melukis, workshop, pameran, demo melukis tentang apa yang saya lihat di sekitar kota yang saya tinggali. Kalau di Perancis (2010), yang lukisan suasan kota. Kalau di Jepang (2008), melukis mitologi masyarakat di sana yang disebut Urashima Taro. Begitu pula di Singapura (2009) atau Thailand (2016). Di sana (Thailand) dikenal tokoh sejarah bernama ”Inou”, yang ternyata Raden Panji Inu,” jelas pelukis jebolan jurusan seni rupa ISI tahun 1993 itu.

sejarah-wayang-beber15

WAYANG BEBER KOTA : Dani dan sejumlah anggota kelompoknya sedang mendiskusikan karya bersama berjudul ”Jayakatong Mbalela” yang mempunyai gaya tersendiri sebagai wayang beber kota, menjelang dipamerkan dalam sebuah event pameran di Solo, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Melihat temuan yang melukiskan perjalan kisah Panji, kemudian melihat sepak terjang kalangan senimannya, melukiskan bagaimana kisah Panji dikenal dan diakrabi dalam bentuk apa saja. Kemudian sangat mengesankan betapa tingginya aktivitas mereka di wilayah Solo dan sekitarnya, atau wilayah tempat berada Keraton Mataram Surakarta, Pura Mangkunegaran, ISI Solo, TBS dan juga institusi-institusi serupa yang ada di Jogja.

Tetapi sekali lagi, aktivitas yang mereka lakukan itu sangat terbatas di beberapa bidang saja yang hingga sekarang masih sering dilakukan, khususnya melukis atau menyungging wayang beber yang bersifat dekoratif. Apapun capaian aktivitas pelestarian yang telah dilakukan terhadap proses perjalanan kisah Panji sebagai karya seni, apa yang dilakukan para pelaku sejarah dalam skala nasional pelestarian budaya masih mending, dibanding yang terjadi di wilayah tempat kisah Panji, yang terkesan sudah tidak punya apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa dalam rangka itu. (Won Poerwono-bersambung)

sejarah-wayang-beber16
MEMBALUT GEDUNG : Wayang beber sepanjang 60 meter karya Pujianto Kasidi (Sragen), saat dipasang di sebuah gedung di di ajang FKN ke-6 di Buton, Bau-bau (Sultra) tempatnya berpameran, beberapa waktu lalu. Panjangnya lukisan klasik tentang kisah Panji itu, nyaris membalut semua sisi bangunan pendapa tempat pameran. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here