Kambing Perah Sapera Hasilkan Susu Kambing Tinggi Omega 3

0
39
susu-kambing-sapera
KANDANG: Guna menghasilkan susu berkualitas, konsep peternakam kambing perah harus menerapkan konsep good hygienic practices (GHP). (suaramerdekasolo.com/Evi Kunindya)
SOLO suaramerdekasolo.com – Dengan kambing perah jenis unggul “Sapera”, usaha Kelompok Ternak Taruna Mukti di Dukuh Bende, Kebayanan 3, Desa Purworejo, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen berkembang pesat. 
 
Kambing hasil peranakan silang jenis Sanen dengan Etawa yang dikembangkan warga wilayah tersebut menjadi andalan untuk menghasilkan susu kambing yang berkualitas yakni tinggi omega 3.
 
 
Menurut Faqih Hanafi, salah seorang peternak di desa itu, para peternak kambing perah di Desa Purworejo, yang tergabung dalam Kelompok Peternak Kambing Perah “Taruna Mukti”, awalnya juga beternak kambing lokal jenis Etawa. Melalui serangkaian proses ilmiah yang dilakukan tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS), lahirlah jenis kambing perah baru bernama “Sapera” tersebut, yang merupakan keturunan kawin silang antara kambing lokal jenis Etawa dengan kambing impor asal AS jenis Sanen.
 
“Dalam beternak awalnya dilakukan seadanya karena sebatas sampingan. Dalam kegiatan kumpul-kumpul sesama peternak hobi itu, mulai 2015 kita memandang perlu para peternak membentuk kelompok untuk meningkatkan produksi susu kambing,” katanya. 
 
Tim pengabdian yang digawangi Dr Bayu Setya Hertanto, bersama lima anggota  yang berasal dari laboratorium industri pengolahan hasil ternak, laboratorium nutrisi dan makanan ternak, laboratorium produksi ternak dan alumnus program studi peternakan secara berbarengan melakukan bimbingan tentang tatacara beternak kambing perah yang baik. Sambil melakukan penelitian ilmiah terhadap proses perkawinan silang  tim  juga meneliti dampak ikutan dari proses perkawinan silang tersebut.
 
Dikemukakan, dari penelitian terhadap susu yang dihasilkan kedua jenis kambing perah itu, terdapat perbedaan pada segi kualitas dan kuantitasnya. Kambing Etawa memiliki kualitas kandungan Omega 3 lebih baik dari Sanen.
 
Sebaliknya, kambing Sanen bisa menghasilkan susu lebih banyak dibanding Etawa. Dari hasil kawin silang, susu kambing perah Sapera bisa menghasilkan susu dalam jumlah banyak dengan kandungan nutrisi Omega 3 yang memenuhi standar gizi.
 
Menurut pakar peternakan dosen FP-UNS itu, titik lemah para peternak kambing perah yang dampaknya tidak dapat menghasilkan susu dalam volume besar dan kualitas baik, adalah pada tatacara memperlakukan hewan ternak yang tergolong sensitif tersebut. Dia menyebut contoh pembuatan kandang untuk menempatkan ternak, perlakuan terhadap kambing sejak masih anakan, tatacara pemerahan, termasuk pemberian pakan dan sebagainya.
 
Seluruh rangkaian kegiatan beternak kambing perah selama ini, dia nilai tidak menerapkan konsep good hygienic practices (GHP). Padahal, pemeliharaan kambing perah dengan konsep GHP melalui alur proses produksi susu  maupun aspek penanganan pascapanen sangat penting. “Penerapan aspek GHP yang meliputi penggunaan peralatan yang higienis, dan higienisasi individu, tujuannya adalah untuk memenuhi standar mutu susu segar,” sambungnya.
 
Berdasarkan analisis tim pakar peternakan FP-UNS itu, susu yang dihasilkan kambing perah Sapera sebelum dan sesudah dilakukan prinsip GHP, menunjukan angka kuman turun sebesar 50 persen. Angka tersebut menggambarkan penerapan prinsip GHP dapat mencegah pertumbuhan bakteri pada susu, meskipun belum memenuhi standar SNI susu dan prinsip GHP masih harus diteruskan agar dapat menghasilkan susu yang aman untuk dikonsumsi.
 
Meskipun Kelompok Peternak Kambing Perah “Taruna Mukti” yang beranggota 12 orang belum sepenuhnya dapat menerapkan prinsip GHP tersebut, saat ini mereka telah merasakan hasil jerih payah beternak dengan sistem yang baik. Dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak, misalnya, dengan sistem beternak yang tidak tergantung pada rumput tersebut para peternak dapat memenuhi kebutuhan pakan dari hijauan kering.
 
Faqih mengungkapkan, para peternak anggota kelompoknya yang sebelumnya hanya dapat menghasilkan 15 liter susu dari 21 ekor kambing, saat ini produksinya meningkat menjadi 30 liter per hari. Susu kambing tersebut dijual kepada reseller seharga Rp 10.000 dan bahkan penjualan susu kepada konsumen langsung bisa sampai Rp 40.000 perliter. “Sebenarnya permintan yang datang lebih banyak setelah banyak yang mengetahui kualitas susu kambing di sini. Namun produksi kami tidak bisa memenuhinya untuk menjaga kualitas susu, ” katanya. (Evie Kusnindya)
 
Editor : Heru Susilo
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here