Jarak Kelahiran Pengaruhi Kualitas SDM

0
13
yuni-sukowati-jenguk-puskesmas
TINJAU PUSKESMAS: Kepala BKKBN Hasto Wardoyo didampingi Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati saat meninjau Puskesmas Sambungmacan 2, Selasa (17/9). (suaramerdekasolo.com/Basuni Hariwoto)

SRAGEN,suaramerdekasolo.com – Jarak kelahiran anak ternyata berpengaruh kuat terhadap kualitas sumber daya Manusia (SDM). Jarak kelahiran yang terlalu dekat bisa memicu stanting dan gangguan mental emosional.

Masyarakat bisa berperan untuk menyiapkan generasi penerus yang baik, dengan cara mengatur jarak kehamilab dan kelahiran anak. Hal ini dikemukakan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, saat kunjungan kerja di Puskesmas Sambungmacan 2, pada Selasa (17/9).

“Jarak kehamilan yang terlalu dekat memicu terjadinya stanting dan gangguan mental emosional,” kata Hasto yang didampingi Bupati Kusdinar Untung Yuni Sukowati.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018 menyebutkan, angka stanting dan autisme kebanyakan terjadi pada anak nomor dua. Hasil riset yang tidak menggembirakan dari jarak kelahiran terlalu dekat disamping autisme tinggi ada gangguan mental emosional yang jumlahnya mencapai 8 persen.

Hasto menyebutkan setiap 100 kelahiran yang jarak kelahiran terlalu dekat, ada delapan anak yang agak eror dab mengalami gangguan mental emosional. Gangguan mental emosional itu bermacam-macam,.

Seperti anak senang mengambil, suka membual dan lain lain. Oleh sebab itu perlunya mengatur jarak kehamilan dan kelahiran anak untuk menyiapkan SDM yang milenia, minimal 30 bulan.

“Mengatur jarak kehamilan dan kelahiran itu penting. Tiga puluh bulan jarak kelahiran yang ideal. WHO itu mengatur 33 bulan. Dalam Al-Qur’an itu 30 bulan. Jadi Tuhan itu sebenarnya sudah mengatur sedemikian baiknya. Kalau terlalu deket itu banyak terjadi tidak baik, rata-rata terjadi pada anak nomor dua,” tandas mantan Bupati Kulonprogo tersebut.

Pengendalian Penduduk

Sementara Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPKBPPA) Joko Sugeng Pudjianto mengungkapkan, pengendalian penduduk terus digalakkan agar pertumbuhannya seimbang.

Angka kepesertaan KB di Sragen juga terus ditingkatkan, meski terkendala SDM penyuluh KB. Sampai saat ini, kepesertaan KB baru di Sragen berjumlah 110 ribu, hampir 53 ,13 persen sedangkan pengguna kontrasepsi 40,96 persen.

Mantan Direktur RSUD Soehadi Prijonegoro itu mengungkapkan penyuluhan KB di Sragen saat ini benar-benar terbentur SDM. Setiap kecamatan hanya 2-3 penyuluh KB yang mengampu 10-16 kelurahan/desa.

“Dengan kehadiran kepala BKKBN ini kami berharap ada perhatian bagi SDM penyuluh KB di Sragen.. ini juga demi kesuksesan program KB,” tegasnya. (Basuni Hariwoto)

Editor : Heru Susilo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here