Kota Surakarta atau Sala, Lebih Sesuai Diperingati 17 Sura

peringatan-Kota-Surakarta1.jpg
SYAHADAT QORES : Lebih dari 500 kerabat sentanadalem, abdidalem garap dan abdidalem Pakasa, bersama-sama berdoa untuk Keraton Surakarta dan NKRI dalam doa wilujengan peringatan 276 tahun (kalender Jawa) Kota Sala atau Kota Surakarta atau Keraton Surakarta Hadiningrat, tepat pada 17 Sura tahun Be 1953 di Pendapa Sitinggil Lor Keraton Surakarta, Selasa (17/9). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

 

*Kawasan Manahan, Lebih Tua dari Desa Sala

DENGAN menggunakan pertimbangan apapun, ketika warga peradaban Jawa memperingati kelahiran apapun apalagi lahirnya nama Kota Sala atau Surakarta yang tidak lain adalah lahirnya Keraton Mataram Surakarta sebagai bagian produk peradaban, akan lebih memiliki makna filosofi dan memenuhi spiritual kebatinan kalau menggunakan pendekatan kalender yang berlaku di peradaban itu.

Jadi, kalau Desa Sala dideklarasikan menjadi Kota Sala atau Kota Surakarta pada tanggal 17 Sura tahun Jawa Je 1670, rasanya lebih tepat dan sesuai atau matching atau blended dibanding ketika mengambil kalender Masehi, apalagi yang diambil 17 Februari seperti yang selalu diperingati Pemkot Surakarta selama ini.

Pro-kontra terhadap penetapan tanggal 17 Februari sebagai hari peringatan lahirnya Kota Sala atau Surakarta yang kemudian selalu dibranding sebagai Kota Solo itu, memang sudah terjadi begitu keputusan sidang DPRD mengesahkan Perda tentang hari jadi Kota Solo itu.

Namun, banyak kalangan tokoh masyarakat yang dilibatkan untuk memberi masukan, misalnya seperti MT Arifin, Soedarmono SU (alm) dan lainnya waktu itu tak banyak memberi alasan ketika ditanya pers kenapa yang diambil tanggal 17 Februari, bukan tanggal 20 Februari atau bukan tanggal 17 Sura?

Secara tersirat, kalangan tokoh masyarakat pemberi masukan/saran itu hanya menjawab sudah terlanjur ditetapkan dalam Perda. Apakah Perda tidak bisa dirubah?

Itulah pertanyaan yang masuk akal yang selama ini muncul pada setiap datang upacara adat ”pengetan adeging nagari Mataram Surakarta Hadiningrat” atau peringatan lahirnya Keraton Surakarta yang notabene adalah pernyataan Ki Gede Sala ketika mendeklarasikan desanya menjadi Kota Sala yang kemudian ”diplesetkan” menjadi Kota Solo.

Perda Bisa Dicabut

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sangatlah gampang, karena esensi persoalan dari pertanyaan itu juga dipandang sangat gampang diwujudkan di zaman sekarang. Kalau soal perubahan Perda, jangan hanya Perda, konstitusi atau UUD 45 saja bisa diamandemen alias dirubah, bahkan sudah dua kali terjadi dan kini ada wacana untuk diamandemen lagi.

Presiden Jokowi pada awal periode kepemimpinannya (2014-2019), sudah membukatikan bisa mencabut ratusan Perda yang diberlakukan di sejumlah Pemprov dan Pemkot/Pemkab.

peringatan-Kota-Surakarta2
MEMEBERI PENJELASAN: Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta memberi penjelasan kepada para awak media, soal doa wilujengan peringatan 276 tahun (kalender Jawa) Kota Sala atau Kota Surakarta atau Keraton Surakarta Hadiningrat, yang digelar tepat pada 17 Sura tahun Be 1953 di Pendapa Sitinggil Lor Keraton Surakarta, Selasa (17/9). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Melihat contoh-contoh itu, tak sulit untuk merubah Perda tentang tanggal peringatan Hari Jadi Kota Surakarta yang terkesan dipaksakan pemerintah agar rakyatnya mengikuti. Tetapi sesungguhnya, tidak sesuai dengan fakta-fakta proses perjalanan sejarah yang sudah diteliti secara ilmiah oleh beberapa ahli berdasar dokumen sejarah yang tersimpan di Sasana Pustaka Keraton Surakarta dan sejumlah tempat lain, yang menyebutkan bahwa Kota Surakata yang nota bene Kota Sala, dideklarasikan pada tanggal 17 Sura tahun Je 1670 (kalender Jawa) yang tepat pada tanggal 20 Februari 1745 (Masehi).

”La kalau selama ini (Pemkot) pada nggekeng atau bersikeras memakai tanggal 17 Februari, yang mau diperingati apanya? La wong fakta sejarah sudah jelas menyebut Sinuhun Paku Buwono II mendeklarasikan berdirinya nagari Mataram Surakarta pada 17 Sura Tahun Je 1670, yang waktu itu tepat 20 Februari 1745.

Saat itu bersamaan Ki Gede Sala juga mendeklarasikan desanya sebagai Kutha Sala atau Kota Sala. Ini teladan yang keliru, tidak baik. Warisan yang keliru dan tidak baik. Bisa menyesatkan generasi anak-cucu kita,” tegas Ketua LDA GKR Wandansari Koes Moertijah menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, tadi pagi.

Dengan Rasa Batin

Kekeliruan yang seakan dibiarkan dan masyarakat awam yang seakan dipaksa memahami hal yang keliru, dalam waktu yang terus berjalan sejak 17 Februari ditetapkan dalam Perda sebagai hari jadi Kota Solo mulai 15-an tahun silam, memang seakan tak terasa.

Tetapi lama-lama banyak di antara warga yang menggunakan rasa kebatinannya untuk mencoba memahami makna 17 Februari itu, yang nyaris tak memberi sentuhan apa-apa bila dibanding mengimajinasikan 17 Sura, atau setidaknya mengambil tang 20 Februari itu.

Terlebih ketika di dalam pisowanan yang dihadiri lebih 500 kerabat sentanadalem, abdidalem garap dan abdidalem Pakasa dari Solo sekitarnya yang sedang berkumpul di Pendapa Sitinggil Lor, Selasa sore (17/9) kemarin, ditembangkan dua bait macapat Dandanggula tentang pindahnya Keraton Mataram Kartasura ke Desa Sala yang kemudian menjadi Keraton Mataram Surakarta pada tahun 1742 (Masehi).

Tembang Dandanggula yang sayup-sayup diperdengarkan seorang abdidalem swarawati itu, sungguh menembus sampai ke relung hati paling dalam.

peringatan-Kota-Surakarta4

SHALAWAT SULTANAGUNGAN : Dalam setiap upacara adat yang digelar Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, bisa dipastikan selalu berbentuk doa wilujengan dengan wiridan, shalawat Sultanagungan, syahadat qores (quraish) serta tahlil dzikir seperti saat peringatan 276 tahun (kalender Jawa) Kota Sala atau Kota Surakarta atau Keraton Surakarta Hadiningrat, tepat pada 17 Sura tahun Be 1953 di Pendapa Sitinggil Lor Keraton Surakarta, Selasa (17/9).(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dari tembang yang menyebut datangnya utusan Sinuhun Paku Buwono II yang sedang mengungsi di sebuah pesantren di Ponorogo (kini Jatim) akibat ”Mas Garendi membuat Geger Kartasura” itu, mengunjungi dan meneliti tanah di tiga tempat pada tahun 1742 (Masehi) atau tahun 1667 (Jawa). Di antara tiga tempat yang diteliti, akhirnya dipilih Desa Sala yang berujud rawa-rawa yang dikuasai Ki Gede Sala.

Tanah Dibeli Tunai

Tembang Dandangdula itu juga mengisahkan, setelah pepatihdalem lapora kepada Sinuhun, para pujangga atau paranparadalem memberi saran untuk memilih Desa Sala sebagai tempat yang paling baik untuk memindahkan Keraton Mataram Kartasura, yang sudah porak-poranda akibat dirusak Mas Garendi yang ingin membunuh Sinuhun Paku Buwono II. Setelah tiga tahu melakukan persiapan fisik (mendirikan beberapa bangunan), termasuk menguruk rawa-rawa di Kedunglumbu dan persiapan batin, akhirnya Keraton Mataram Surakarta dideklarasikan berdiri pada 17 Sura Tahun Je 1670 atau 20 Februari 1745.

”Tanah rawa-rawa milik Ki Gede Sala itu, dibeli tunai, kalau enggak salah 90 Golden (Belanda). jadi, bukan diduduki atau diserobot dan dikuasai begitu saja. Di Sitinggil (Lor) ini, adalah termasuk kota lama Desa Sala. Khusus di sini yang memang sudah tinggi, tanpa diuruk. Tetapi kawasan lebih tua lagi ya di Manahan itu. Karena di situ adalah bekas milik Ki Ageng Pemanahan,” jelas Pengageng sasana Wilapa yang akrab disapa Gusti Moeng itu.

Menyimak penjelasan Gusti Moeng dan yang tersirat dari dua bait tembang macapat Dandanggula yang diperdengarkan itu, mengingatkan publik secara luas tentang soal rasa kebatinan yang berkait dengan hari jadi Kota Sala sebagai warisan peradaban, tetapi selama ini seakan dipaksakan diperingati secara keliru.

Juga berkait dengan unsur edukasi yang bisa menyesatkan terhadap generasi bangsa, sekaligus mengingatkan bahwa Kota Surakarta memiliki jejak-jejak kota lama yang bisa dijadikan ikon kebanggaan warga kota dan lebih luas lagi. (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here