Doa Minta Hujan Lewat Kenduren Udan Dawet

tradisi-minta-hujan
KIRAB: Warga Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel mengikuti kirab dengan membawa nasi beserta lauk dan minuman dawet dalam ritual Kenduren Udan Dawet. (suaramerdekasolo.com/Joko Murdowo)

 

*Tradisi Unik Warga Desa Banyuanyar

BOYOLALI,suaramerdekasolo.com – Tradisi unik dilakukan warga Desa Banyaunyar, Kecamatan  Ampel, Boyolali, Jateng. Mereka menggelar ritual doa minta hujan melalui acara Kenduren Udan Dawet atau minuman khas warga, Jumat (20/9).

Ritual diawali dengan kirab sejumlah gunungan nasi lengkap dengan lauk pauknya. Selain itu juga terdapat gunungan dawet lengkap dengan peralatannya. Kirab dari Masjid An-nur menuju Punden Mandirejo sejauh 200 meter.

Kirab diikuti warga di tiga dukuh di Desa Banyuanyar, yaitu Dukuh Dukuh, Dukuh Bunder dan Dukuh Ngemplak. Sesampai di Punden Mandirejo yang terdapat sumber air, lantas dilakukan doa untuk memohon hujan dan keselamatan oleh tokoh agama setempat.

Puncak acara dilakukan warga dengan menyiramkan dawet sembari berteriak Bismilahirohmanirohim. Hal ini sebagai simbol agar hujan segera datang. Selanjutnya, seluruh warga yang ikut kirab, bersama-sama menikmati gunungan lengkap dengan aneka lauknya.

Menurut Kades Banyuanyar, Komarudin, kegiatan tersebut sudah dilakukan secara turun- temurun. Yaitu digelar setahun sekali pada mongso kapat pada penanggalan Jawa, dilaksanakan pada Jumat pon.

“Tujuannya, untuk memohon kepada Tuhan agar segera turun hujan,” ujar Komarudin disela acara.

Dijelaskan, kegiatan didukung sepenuhnya oleh masyarakat Banyuanyar. Bahkan, setiap keluarga di tiga dukuh tersebut rela membuat tumpeng dan pelengkapan lauk ayam dan sayuran. Mereka juga membuat minuman dawet.

“Oleh masyarakat di Desa Banyuanyar dan desa di kawasan lereng Gunung Merbabu, ritual ini sebagai simbol awal memasuki musim hujan dan dimulainya masa bercocok tanam.”

Ambil Inisiatif

Sayangnya, di era modern dan era globalisasi saat ini, terjadi degradasi pelestarian budaya dan adat lokal. Maka Pemdes Banyuanyar kemudian mengambil inisiatif untuk melestarikan ritual itu dengan kemasan yang sesuai dengan kondisi sekarang.

Salah satu pengunjung Murni (34) asal Kecamatan Mojosongo mengaku senang bisa mengikuti ritual Kenduren Udan Dawet di Desa Banyuanyar. Tradisi unik tersebut bisa dikemas untuk menarik wisatawan.

“Kami berharap tradisi unik ini bisa terus digelar rutin setiap tahun dan sekaligus sebagai upaya melestarikan budaya gotong royong.” (Joko Murdowo)

Editor : Budi Sarmun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here