Kembangkan Hidroponik di Bekas Lahan Pembuangan Sampah

0
22
kampung hidroponik
BUDIDAYA : Project Manager Yayasan Harmoni Albertin Yesica Stevani T Sika (kanan) dan pengelola rumah hidroponik Sunardi melihat sayuran hasil panen di rumah hidroponik yang dikembangkan warga RT 5 dan 6 Dusun Karangkidul, Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/dok)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Hidroponik, bagi warga Dukuh Karangkidul, Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat, mungkin sesuatu yang asing.
Meski demikian, warga bisa membuktikan, dengan ketekunan belajar, sistem budidaya tanaman tanpa tanah itu bisa menghasilkan dan mempunyai nilai ekonomis yang menguntungkan.

Setidaknya, itu yang terlihat di rumah hidroponik yang dikembangkan warga Dukuh Karangkidul RT 5 dan 6. Memanfaatkan lahan bekas tempat pembuangan sampah, mereka mendirikan bangunan berkerangka bambu seluas 4 x 6 meter, untuk mengembangkan sistem hidroponik.

Tanaman sayuran seperti kangkung, pakcoy, samhong hingga selada merah, ditanam pada puluhan netpot yang berjajar di atas pipa-pipa pralon media hidroponik.
Dalam dua bulan terakhir pengembangan sistem hidroponik, warga sudah merasakan sekali panen. Dan saat ini, sudah masuk tahap penyemaian untuk musim tanam kedua.

Program budidaya sayuran hidroponik yang sudah berjalan selama dua bulan terakhir, dilakukan di bawah bimbingan Yayasan Harmoni. Warga sudah merasakan sekali panen, dari pengembangan sistem hidroponik tersebut. Dan saat ini, penyemaian untuk penanaman tahap kedua sedang berlangsung.
Ketua Kampung Pro Iklim (Proklim) Dusun Karangkidul Suyono menuturkan, sistem hidroponik dipilih karena tidak butuh banyak tempat.

“Ini berangkat dari keinginan warga untuk memanfaatkan lahan bekas pembuangan sampah di RT 5, agar memiliki nilai lebih. Agar tidak terlihat kumuh,” katanya.

Awalnya, warga asing dengan budidaya tanaman sistem hidroponik. Namun setelah panen pertama, warga baru paham ada budidaya tanaman dengan cara seperti itu. Dalam waktu dekat, rumah hidroponik akan dibuat di kawasan RT 7 dan 8.

Sunardi, pengelola rumah hidroponik mengatakan, hasil panen sementara hanya dijual pada warga sekitar.

“Sebab, hasil panennya belum banyak dan ini masih tahap pengembangan. Tapi ke depan, jika hasil panen cukup banyak dan kontinyu, akan dicoba ditawarkan ke toko modern. Sehingga nilai ekonomisnya bisa lebih tinggi,” ujarnya.

Sistem Hidroponik

Dikatakannya, budidaya sayuran hidroponik bukannta tanpa tantangan. Cuaca yang panas, bisa membuat bibit tanaman tak berkembang. Asupan nutrisi juga harus terjaga, agar tanaman tidak mati.

“Kami masih terus belajar cara penyemaian dan perawatan yang tepat. Agar hasilnya bisa maksimal.” imbuhnya.

Project Manager Yayasan Harmoni Albertin Yesica Stevani T Sika menambahkan, ke depan diharapkan setiap rumah bisa budidaya sayuran sistem hidroponik dengan memanfaatkan pekarangan masing-masing.

“Harapan ke depan, setiap rumah punya hidroponik sendiri-sendiri. Bisa panen sendiri, yang hasilnya dijual untuk menambah uang belanja, ataupun dimanfaatkan sendiri,” katanya.

Secara berkala, Yayasan Harmoni mengadakan pelatihan budidaya sayuran hidroponik bagi warga. Mereka diajari cara membuat rumah hidroponik, perlengkapannya apa saja, hingga cara penanamannya. “Warga juga diajak berpikir tentang bisnis. Bagaimana cara agar hidroponik yang mereka kembangkan, bisa memberikan tambahan penghasilan,” imbuhnya. (Irfan Salafudin) 

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here