Melindungi Peternak Ayam

0
19
FOTO :Ilustrasi


Oleh : Singgih Januratmoko, S,KH, MM*

PERATURAN Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 58 tahun 2018 jelas menyatakan bahwa harga acuan penjualan ayam ke konsumen adalah Rp. 32.000/kg. Sedangkan untuk harga acuan pembelian ayam dari peternak berkisar antara Rp. 17.000/kg – Rp. 19.000/kg. Ironisnya, harga ayam hidup mencapai kisaran Rp.10.000/kg – Rp.12.000/kg yang artinya harga tersebut dibawah harga pokok produksi (HPP) dan dibawah harga acuan yang ditetapkan dalam Permendag nomor 58 tahun 2018.

Realitas anjloknya harga ayam di tingkat peternak rakyat ini harus segera di atasi pemerintah. Harapan stabilnya iklim usaha bidang perunggasan tidak bisa berjalan dengan sendiri tanpa ada intervensi dari pemerintah. Iklim perunggasan ayam mengalami gonjang ganjing di tingkat bawah karena pemerintah seolah-olah sengaja membiarkan dengan tidak adanya pembatasan atas budidaya ayam dari perusahaan.

Beban Peternak

Menurut penulis, pemerintah harus melihat setahun kondisi riil peternak ayam saat ini. Para peternak ayam kini sedang menuju kedalam jurang kehancuran. Harga hidup yang mereka produksi terus melorot kebawah Harga Pokok Produksi (HPP). Sangat tragis ketika peternak harus terpaksa menjual ayam Rp. 10.000/kg – Rp. 12.000/kg sedangkan harga HPP Rp. 17.000/kg – Rp. 19.000/kg dan tentu harga sudah sangat kelewat rendah karena tidak berlaku di pasar. Ini menjadi tragedi bagi peternak rakyat yang rata-rata modalnya minimalis.
Padahal, peternak ayam ini sudah berupaya untuk bangkit. Para peternak ini sudah melakukan berbagai cara untuk mendapat perhatian pemerintah. Mulai dari cara dialogis dengan pemerintah hingga sampai titik puncaknya melalui unjuk rasa. Realitasnya, beberapa bulan ini, para peternak ayam di Jawa Tengah melakukan unjuk rasa dengan membagikan ribuan ayam gratis ke masyarakat. Teriakan peternak saat unjuk rasa cukup member hasil dengan harga ayam yang sempat terdongkrak. Ironisnya, harga yang terdongkrak tidak sampai seumur jagung dan kini kembali anjlok.
Sangat ironis ketika harga seekor ayam ternyata masih di bawah harga dari sebungkus rokok. Peternak yang berunjuk rasa membagi-bagikan ayam gratis adalah bentuk kepanikan dan keputus asaan dari peternak ayam. Rasanya, sudah lebih dari beberapa bulan menanggung kerugian atas usahanya dibidang perunggasan. Menumpuknya utang modal dan utang pakan yang tidak terbayar serta upah pekerja tidak boleh terlambat dibayar adalah beban berat bagi peternak rakyat.
Anjloknya harga ayam tentu menjadi pukulan telak bagi peternak rakyat. Berhenti berternak bukan solusi tepat karena para peternak masih punya beban utang modal bank dan utang pakan ke pabrik yang harus dibayar. Begitu pula dengan nasib pekerja dan keluarga peternak apabila harus diberhentikan dari pekerjaannya. Inilah beban dan tanggungan peternak rakyat atas anjloknya harga ayam di pasaran yang harus dicarikan solusi oleh pemerintah.

Lindungi Peternak

Penulis berharap problem peternak ayam pada saat ini harus diselesaikan. Pemerintah harus mengatur mekanisme pasar ayam. Realitas atas jumlah ayam hidup (life bird) yang mengalami kelebihan (over supply) harus dicari solusinya agar harga ayam tak mudah dimainkan oleh para pemain besar. Kesalahan pemerintah dalam menghitung kebutuhan sumber bibit atau grand parent stock (GPS) ini berimbas kepada pengalokasian konsesi impor sumber bibit.
Kedua, pemerintah harus tegas kepada perusahaan. Supaya tidak terjadi kelebihan produksi, perusahaan yang mendapat konsesi impor terhadap kebijakan pemerintah wajib untuk tak boleh melakukan afkir dini. Adanya tenggat waktu harus diperhatikan perusahaan supaya tidak ada yang namanya kelebihan produksi pada anak ayam komersial umur sehari atau day old chick (DOC). Sehingga kelebihan produksi ayam hidup di kandang saat umur panen 34 hari tidak akan terjadi.
Ketiga, pemerintah harus mengatur mekanisme pasar secara detail. Fakta anjloknya harga ayam karena mekanisme pasar (supply and demand) yang tidak teratur dan permainan harga dari para pemain dan pedagang besar. Semua ingin bermain di pasar yang sama karena ayam hidup yang mereka miliki lebih cepat menjadi uang. Pada saat bersamaan, pedagang perantara lebih leluasa mengatur dan menekan harga, sehingga harga pasaran ayam hidup jadi jatuh. Mekanisme pasar ayam ini harus diatur pemerintah supaya tidak mengorbankan salah satu pihak yang dirugikan.
Keempat, mengatur postur tata niaga ayam secara proporsional dari pihak pemerintah. Perusahaan terintegrasi dan perusahaan peternak rakyat seharusnya ditempatkan dalam postur tata niaga perunggasan nasional secara proporsional. Kelangsungan usaha dari keduanya harus sama-sama dijaga pemerintah. Pemerintah harus adil dan menuangkan dalam tata perundangan yang memiliki kekuatan hukum kuat dan memaksa semua pihak untuk mematuhinya.
Selama ini Permendag soal tata usaha usaha perunggasan kurang dipatuhi pelaku usaha karena tidak mempunyai kekuatan hukum memaksa. Sekali muncul badai bagi peternak ayam mengakibatkan luluh lantaknya usaha para peternak. Bagi perusahaan terintegrasi yang punya kemampuan keuangan lebih tentu bangkitnya lebih mudah. Sebaliknya, bagi peternak rakyat anjloknya harga ayam hidup adalah pukulan telak yang langsung merobohkan usahanya.
Kelima, mengatur ekspansi bisnis bagi peternak ayam. Pemerintah perlu membuat peraturan pasar yang ketat antara suplai ayam hidup milik integrator dengan suplai ayam hidup milik peternak rakyat. Integrator wajib meningkatkan kualitas dan kuantitas produk olahan unggas dan menguatkan rantai bisnis secara mantap. Pemerintah dapat membantu integrator meningkatkan promosi produk olahan unggas. Dalam hal ini, pemerintah wajib membantu ekspansi atas bisnis perunggasan rakyat ke pasar ekspor bagi perusahaan integrator demi melindungi peternak ayam di tanah air. (bss)

Singgih Janu

*(Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here