Pendidikan Dasar Menengah Miliki Peran Sentral Pencegahan Korupsi

0
31
sosialisasi-anti-korupsi-dikbud-karanganyar
SOSIALISASI ANTIKORUPSI – Guntur Kusmeiyono dari KPK saat sosialisasi antikorupsi di aula Dinas Dikbud Karanganyar, Rabu(2/10). (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Pendidikan dasar dan menengah memiliki peran sentral dalam upaya pencegahan korupsi. Sebab dengan penanaman dini soal korupsi itu diharapkan akan menjadi upaya pencegahan korupsi di masa depan.

‘’Harus diakui pendidikan masih seperti itu, belum menjadi peran yang bisa diandalkan dalam pencegahan korupsi. Peran itu masih belum kelihatan. Justru malah dipertanyakan apa kontribusi anggaran pendidikan sampai 20 persen  kalau hasilnya  korupsi malah menjadi-jadi,’’ kata Guntur Kusmeiyono, Kepala Satuan Pendidikan Menengah Dasar KPK, Rabu (2/10).

Dia memaparkan fakta mengejutkan, pelaku korupsi yang justru rata-rata usia 30-an tahun. Selain itu 61 persen dari pelaku korupsi justru dilakukan oleh orang yang memiliki latarbelakang pendidikan tinggi. Bahkan pelaku banyak yang berpendidikan S2.

Artinya semakin tinggi pendidikannya, justru makin pintar dia melakukan korupsi. Semakin canggih dia berusaha melakukan tindakan itu dan makin pintar menghilangkan jejak. Karena itu pendidikan tinggi bukan semakin baik, namun makin korup.

Karena itu menjadi dipertanyakan peran dunia pendidikan, meski sebetulnya memiliki peran sentral. Sekarang serbarepot, guru dituntut agar menjadi contoh yang baik. Tapi peran di luar itu justru tidak ada yang mendukung.

‘’Pendidikan hanya dua jam saja seminggu untuk mengajar formal. Namun pendidikan di luar memiliki peran lebih banyak. Televisi 24 jam isinya hanya goyang, ada yang 24 jam isinya sinetron yang tidak mendidik, sebab semuanya dikejar rating.’’

Anak dari rumah sudah dididik hal tidak benar. Orang tua memboncengkan anak tidak memakai helm, melawan arus, pakai sleyat-sleyot di jalan mungkin, sampai di sekolah anak turun cium tangan, dipesan baik-baik, yang pintar, nurut sama guru.

Bentuk Prilaku Antikorupsi

Ada yang kontradiktif saat mengantar anak ke sekolah itu. Di sekolah guru sedikit-sedikit takut melanggar HAM karena melakukan kekerasan pada anak didik. Padahal dulu, masih biasa murid dipukul penggaris karena kukunya panjang. Ada perbedaan cara menyikapi berbagai hal. Padahal HAM itu barang impor yang kadang justru menghilangkan kearifan lokal kita.

Televisi di Hongkong di jam prime time sampai sekarang masih menyiarkan iklan layanan masyarakat tentang bahaya buang sampah sembarangan, sehingga diajari buang sampah di tempatnya. Di Bangkok juga sampai sekarang masih menyiarkan siaran hal yang sama. “Di kita sudah hilang, meski masalah sampah terus menjadi bahan berita.”

‘’Di Jepang, anak SD diajari berterima kasih saat dikasih jalan dan kesempatan menyeberang, sebagai bentuk timbal balik berbuat baik pada orang lain. Ada lagi pelajaran memakai payung saat berjalan dan berpapasan dengan orang lain, sebagai bentuk penanaman sopan santun pada orang lain.’’ Kata Guntur dengan menyetel film pendek tentang itu.

Begitulah yang terjadi, pentingnya pendidikan mulai dini di tingkat dasar dan menengah tentang perilaku toleran dan baik. Dan itu awal untuk membentuk perilaku antikorupsi. Termasuk cara berlalulintas, karena kalau melihat ketertiban suatu negara, lihat cara masyarakatnya berlalulintas.

Ada suatu kota di Indonesia yang lampu traffict light-nya tidak ada fungsinya. Sebab lampu merah pada jalan semaunya, justru saat lampu hijau malah berhenti karena takut jangan-jangan ada kendaraan lain yang berjalan. Itu kejadian betul, karena itu begitulah kondisi administrasi di kota itu.

Apakah kearifan lokal sudah hilang ? Guntur mencontohkan dua daerah yang masih teguh memegang kearifan lokal. DIY dan Bali. Di sana orang menyapu di halaman orang lain saat menyapu halaman sendiri sudah biasa. Di Bali, orang meninggalkan sepeda motor untuk suatu keperluan masih biasa. Kuncinya masih nempel. Coba itu dilakukan di Jakarta, hilang.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here