Penggagas Literasi Solo Ingin Bertemu Presiden Jokowi

0
62
figur-literasi
BERTEMU PRESIDEN- Laksmi Dewi Utami, Penggagas Literasi Khatulistiwa Ingin Bertemu Presiden Jokowi. (suaramerdekasolo.com/Sri Hartanto)

KETIKA orang-orang pada sibuk dengan pekerjaan atau urusan masing-masing, hal yang berbeda dilakoni Laksmi Dewi Utami.

Berawal ketika melihat anak-anak di lingkungannya yang kebanyakan asyik bermain gadget, Dewi mulai membuka komunitas literasi khusus bagi anak-anak. Sejak Februari 2017, perempuan berhijab tersebut mengawali dengan meminjam buku kesana kemari. Karena, sejak awal tidak ada dana untuk membeli. Berkeliling dengan membawa buku di sekitar Solo menjadi agenda rutin setiap harinya.

Seiring berjalannya waktu, Dewi bersama teman komunitasnya kemudian menggagas gerakan literasi khatulistiwa, dimana aktifitas gerakan tersebut berlangsung tiga kali dalam satu minggu.

Dewi yang setiap harinya bekerja sebagai guru honorer di SDN 01 Gedongan, Colomadu, Karanganyar sangat mencintai dunia literasi sejak kecil. Apalagi kecintaan di dunia pendidikan tidak terlepas dari sosok ayahnya yang bekerja di Dinas Pendidikan.

Wanita berusia 28 tahun tersebut pantang menyerah dan terus semangat untuk mensukseskan program gerakan literasi khatulistiwa. Meskipun berulang kali proposal pengajuan bantuan buku di beberapa instansi termasuk ke pemerintah sering kali ditolak, namun sampai sekarang anggota komunitas gerakan literasi khatulistiwa tetap semangat mencari donasi buku.

Menurut Dewi, agar anak menyukai dunia literasi memang tidak mudah, apalagi anak sudah terpengaruh gadget. ”Caranya dengan pendekatan secara intensif dan juga menjelaskan pengaruh negatif gadget terhadap anak-anak didik,” jelasnya, saat ditemui di tempatnya bekerja, beberapa hari lalu.

Seperti biasa, jika anak-anak melihat buku yang tebal sudah malas untuk membacanya, Dewi punya cara yakni lomba meringkas buku, membuat puisi dan memberi anak hadiah. ”Begitu pula agar tidak bosan membaca, biasanya anak-anak saya ajak naik tossa dan berkeliling setelah belajar bersama,” urainya.

Kegiatan literasi tiga kali seminggu yang berlangsung setiap hari Selasa di Batik Keris, Rabu dan Jumat di sekitar Kampus Akademi Fisioterapi (Akfis), banyak kendala yang masih dilalui yakni kurangnya buku. Sebab buku yang ada sekarang hanya sekitar 30 biji.

Namun dengan semangat tinggi tidak menjadi kendala tetapi tantangan berat harus bisa dilewati. Komunitas Gerakan Literasi Khatulistiwa mempunyai tagline ”Mencerdaskan Bangsa dengan Membaca Buku, Ora Moco Orak Kepenak”. Adapun pengambilan nama khatulistiwa, kata Dewi, terinspirasi dari salah satu jambul fenomenalnya Syahrini.

Wanita kelahiran Purwokerto tersebut berharap mampu mempunyai ruang literasi alam dan bisa bertemu Presiden Jokowi untuk memperkenalkan bahwa ada komunitas literasi khatulistiwa di Solo yang mendidik anak-anak suka dan gemar membaca. (Sri Hartanto)

Editor : Budi Sarmun

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here