Mbah Rono : Jangan Pernah Melawan Alam

0
48
mbah-rono
FOTO : Mbah Rono (suaramerdekasolo.com/Merawati Sunantri)

*Magelang dan Sleman Waspada Awan Panas Merapi

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Kehadiran pakar gunung api yang kini menjadi anggota Komisi Teknis Lingkungan dan Kebencanaan Dewan Riset Nasional (DRN), Surono di Klaten menjadi perhatian tersendiri bagi pewarta yang meliput kegiatan DRN di Desa Jomboran, Klaten Tengah, Selasa (8/10). Begitu datang, dia langsung diserbut pertanyaan tentang Gunung Merapi.

Menurut mantan Kepala Pusat Badan Geologi Kementerian ESDM itu, letusan Merapi saat ini tidak akan seperti letusan ekspolisif tahun 2010 atau pelinian. Tipikal letusan Merapi adalah pelepasan energi sedikit demi sedikit dalam waktu lama, seperti letusan Gunung Sinabung sekarang ini.

‘’Merapi sekarang kosong karena sudah dijebol pada letusan eksplosif tahun 2010. Jadi sekarang ada magma sedikit saja sudah terjadi kubah dan gugur. Tidak mungkin dalam waktu 8 tahun, Merapi bisa meletus seperti tahun 2010. Perlu waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan energi,’’ ujar dia.

Baca : Viral ! Video Rumah Hancur Diterjang Batu Gunung 200 Ton di Purwakarta

Apakah arah letusan Merapi yang akan datang akan menuju Klaten, Sleman atau Magelang, menurutnya sangat mungkin karena dulu pernah terjadi. Letusan tahun ini adalah tipe letusan Gunung Merapi, berulang-ulang terbentuk kubah kemudian gugur.
‘’Energi yang dilepaskan kecil-kecil . Hal itu karena setelah letusan eksplosif 2010, banyak energi yang sudah dilepaskan. Dalam sejarah, luncuran awan panas sampai 20 km baru terjadi tahun 2010,’’ ujar pria yang akrab disapa Mbah Rono itu.

Luncuran awan panas Merapi kecil kemungkinan mengarah ke Boyolali karena ada penghalang yang disebut Dinding Merapi Purba atau yang oleh warga setempat sering disebut Mbah Petruk. Dinding menjadi itu penghalang awan panas, paling hanya abu tipis yang sampai ke Boyolali .

Ke arah Klaten juga jarang, karena bibir kawah yang kuat. Potensi besar mengarah Magelang karena dinding kawah yang tipis. Ke Sleman juga masih ada peluang cukup besar. Yang paling kecil kemungkinannya letusan ke arah utara.

Sebelum 2010, luncuran awan panas tidak pernah sampai 6 km, Mbah Marijan yang tetap tinggal di rumahnya pun selamat. Tapi tahun 2010, juru kunci Merapi Mbah Marijan tewas diterjang awan panas Merapi karena tetap tidak mau mengungsi meski anak dan istrinya mengungsi. Bagi Mbah Rini, ada satu pelajaran yang diperoleh dari peristiwan itu.

‘’Jangan pernah kita menantang alam sekalipun, ilmu pengetahuan bukan untuk melawan alam tapi menjembatani antara kemauan manusia dan kemauan alam. Jembatan itu harus bagus dan kita harus berani mengalah karena kita bagian dari alam. Kita makan dan minum dari alam, bagaimana kita melawan alam wong kita hidup dari alam,’’ tegas dia.

Baca : Pentas Kolosal Budaya Lintas Agama Meriah dan Bermakna

Sebaiknya, bila Merapi sedang aktif maka kita yang menyingkir. Seperti halnya bila kita tinggal di daerah rawan gempa. Apa kita bisa menyikir dari gempa, tentu tidak. Tapi bangunan rumah dibuat yang bagus tahan gempa. Tidak harus megah, bangunan kayu peninggalan nenek moyang yang sederhana merupakan kosntruksi ramah gempa.

‘’Daerah Jateng dan DIY sudah pernah diterjang gempa dahsyat, bahkan sudah berulang dalam kurun waktu cukup lama. Bila sudah pernah terjadi, pasti akan ada lagi, kapan waktunya tidak bisa ditentukan yang penting kita siap saja,’’ kata Mbah Wono.

Akhir dari proses alam gunung api itu meletus, proses sekarang tidak harus sama dengan proses masa lalu. Alam membuat kita harus belajar, akhir suatu proses tidak harus sama.(Merawati Sunantri)

Baca : Mudrick Sangidoe Berikan Dukungan Penuh ke Achmad Purnomo

Editor : Budi Sarmun

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here