Kenapa Tiba-Tiba Kejaksaan Wonogiri Tagih 27 Sapi Macet

ternak-sapi-wonogiri
MEMBERI PAKAN : Seorang peternak memberi pakan untuk sapinya di Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Wonogiri menagih sejumlah peternak yang tidak bisa menggulirkan program bantuan ternak sapi dari pemerintah. Tahun ini ada 27 ekor sapi bantuan pemerintah yang bermasalah atau macet.

Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara (Kasi Datun) Kejari Wonogiri, Benny Kurniawan mengatakan, pihaknya telah melayangkan surat panggilan kepada 27 peternak sapi. Baru tiga orang yang memenuhi panggilan tersebut.

“Dari tiga orang itu, yang dua orang sudah mengembalikan,” katanya, Senin (14/10).

Baca : Emergency ! Wonogiri Selatan Butuh Penambahan Suplai Listrik

Baca : Manfaat Saling Tolong Menolong Dalam Kesusahan Dan Penderitaan

Dia mengungkapkan, bantuan tersebut macet karena sapi yang seharusnya digulirkan, justru dijual oleh peternaknya. Selain itu, hasil penjualan sapi tidak disetor ke negara.

“Biasanya peternak menjual karena kebutuhan,” imbuhnya.

Penyimpangan itu menurutnya tidak bisa dipidanakan karena merupakan bantuan kepada peternak. Meski demikian, peternak wajib mengembalikan bantuan yang macet tersebut.

Terpisah, kepala Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan (Dislapernak) Kabupaten Wonogiri Sutardi menerangkan, bantuan berupa sapi diberikan kepada peternak sebagai program bergulir, sejak 2004-2013 silam.

Peternak penerima sapi betina wajib memeliharanya. Anak sapi yang pertama harus digulirkan kepada peternak lainnya, sedangkan anak sapi yang ke dua dijual kemudian berbagi hasil dengan pemerintah. Setelah itu, induk sapi menjadi milik peternak.

Baca : Ini Cara Faperta UNS Kenalkan Dunia Kerja

Baca : Sering mengamuk dan Hilang, Pemuda Asal Nguter di Rantai

Penagihan

Tetapi, beberapa peternak penggaduh membuat bentuan bergulir itu macet. Sebagian dari mereka menjual ternak bantuan itu karena terdesak kebutuhan. Ada pula yang sengaja meninggalkan tanggung jawabnya dalam memelihara sapi.

“Ada yang dijual untuk periksa ke dokter. Ada peternak yang stroke, hidup seorang diri, jadi tidak bisa apa-apa. Ada juga yang ditinggal minggat (pergi),” terangnya.

Oleh karenanya, Dislapernak Kabupaten Wonogiri memberikan surat kuasa khusus (SKK) kepada Kejari Wonogiri untuk menagih 27 ekor sapi yang macet. Penagihan dilakukan dengan memanggil atau mendatangi peternak yang bersangkutan.

Jumlah sapi bantuan bergulir di kabupaten itu sekarang mencapai 1.584 ekor.

“Sebenarnya, jauh lebih banyak yang sukses. Kalau dijalankan dengan baik hasilnya sangat bagus, sapinya ngremboko (berkembang biak menjadi banyak),” ujarnya. (Khalid Yogi)

Baca : Pakar Ilmu Gizi Prof Yulia Lati Ngargoyoso Endemis GAKI

Editor : Budi Sarmun

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here