Pakar Ilmu Gizi Prof Yulia Lati Ngargoyoso Endemis GAKI

0
pakar-gizi-fk-uns-prof-lati
FOTO DIRI : Pakar ilmu gizi Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof Dr dr Yulia Lanti Retno Dewi. (suaramerdekaolo.com/Evie Kusnindya)
 
*Tawarkan Cara Baru Pemberantasan Gondok
 
SOLO,suaramerdekasolo.com – Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar menjadi daerah endemis gangguan kesehatan yang disebut gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI).
 
Berdasar riset yang dilakukan pakar ilmu gizi Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof Dr dr Yulia Lanti Retno Dewi, ada beberapa faktor yang menyebabkan daerah di lereng Lawu tersebut menjadi daerah endemis kekurangan iodium, bahkan termasuk endemis berat. Sebab masyarakat yang kekurangan iodium sempat mencapai angka 51,9 persen pada 2004-2010.
 
“GAKI Ini dapat menyerang semua umur mulai dari janin, bayi baru lahir, anak-anak, remaja, ibu hamil, orang dewasa, dan usia lanjut. Hal ini terjadi karena iodium merupakan bahan pembentuk hormon tiroid yang berfungsi untuk pertumbuhan dan perkembangan,” kata Prof Yulia yang pagi ini dikukuhkan sebagai guru besar ke-202 UNS dan ke-42 di Fakultas Kedokteran (FK). 
 
Kekurangan iodium sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Salah satu daerah endemisnya berada di wilayah Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Kekurangan iodium di suatu wilayah diakibatkan oleh rendahnya kadar iodium di dalam tanah dan air di wilayah tersebut.
 
Untuk menentukan ada tidaknya kekurangan iodium di suatu daerah dengan cara mengukur kadar iodium di dalam air seni. Sekaligus ada tidaknya pembesaran kelenjar gondok, terutama pada anak sekolah dasar. Yulia menyebut makin kecil kadar iodium dalam urin, makin berat kekurangan iodium di sana.
 
“Sebaliknya makin banyak anak sekolah dasar yang menderita gondok makin berat kekurangan iodium. Padahal sudah lama pemerintah berusaha mengatasi kekurangan iodium. Mulai dari suntikan iodium yang dilarutkan dalam minyak, kapsul iodium, sampai penggunaan garam beriodium,” paparnya.
 
Raih Gelar
 
Selama ini upaya penanggulangan tersebut mengikuti paradigma lama, yakni iodium cukup apabila kekurangan iodium dipenuhi dengan suplemen iodium. Artinya, lanjut Yulia, paradigma ini beranggapan bahwa kekurangan iodium tidak dapat diubah dan merupakan sebab dari semua GAKI.
 
“Dalam penelitian di Kecamatan Ngargoyoso, warga setempat sudah membeli garam beriodium namun jumlah anak yang menderita gondok justru meningkat pesat. Sehingga bisa dikatakan ada faktor lain yang ikut berperan. Yakni ekologi. Dalam perspektif ini kekurangan iodium adalah akibat dari interaksi berbagai faktor lingkungan,” ungkapnya.
 
Yulia merekomendasikan perlu ada paradigma baru dalam penanggulangan kekurangan iodium. Yakni iodium cukup apabila kekurangan iodium dipenuhi dengan suplemen iodium dilengkapi dengan upaya lain dalam masyarakat.
 
Upaya tersebut berupa upaya mencegah erosi di lereng Lawu. Kemudian menyebarluaskan informasi bahan makanan yang dapat memperberat gondok. Juga memperbaiki kualitas garam, mulai dari produksi, distribusi, penyimpanan, pengolahan, hingga saat dikonsumsi agar iodiumnya tidak hilang.
 
“Upaya-upaya tersebut meskipun tidak secara langsung berkaitan dengan suplementasi iodium. Namun dalam perspektif ekologi menjadi penting dalam penanggulangan kekurangan iodium,” tegasnya.
Penelitian ini membawa Yulia meraih gelar guru besar di bidang ilmu gizi. (Evie Kusnindya)
 
Editor : Budi Sarmun
 

Tinggalkan Pesan