Wabub Sukoharjo Turun Tangan Sendiri, Bawa Pemuda Dirantai Orang Tuanya ke RSJ

wabup-sukoharjo-bawa-ke-rsj
MENJENGUK : Wakil Bupati Sukoharjo, Purwadi (pakai peci) menjenguk pemuda Dusun Dukuh RT 01 RW 05 Desa Gupit Kecamatan Nguter yang dirantai orang tuanya. (suaramerdekasolo.com/Ari Welianto)

SUKOHARJO,suaramerdekasolo.com – Nasib malang harus dialami Agus Dwi Nur Cahyo (21), pemuda Dusun Dukuh RT 01 RW 05 Desa Gupit Kecamatan Nguter. Karena sudah selama 10 hari ini, Agus terpaksa harus dirantai kakinya oleh orang tuannya.

Agus, dirantai ditempat tidur dari kayu yang berada disamping rumah. Itu disebabkan sering mengamuk tanpa sebab dan menghilang . Kondisi itu membuat Wakil Bupati Sukoharjo, Purwadi langsung mengunjungi keberadaan Agus yang dirantai untuk melihat kondisinya.

Purwadi pun, langsung membawa Agus ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Surakarta dengan menggunakan ambulance dari Puskesmas Nguter untuk mendapatkan penanganan medis. Jika dirawat ke RSJ akan dirawat selama sebulan, kemudian dilanjutkan perawatan obat jalan.

Baca : Sering mengamuk dan Hilang, Pemuda Asal Nguter di Rantai

“Sangat terkejut dan miris jika melihat kondisinya. Apalagi masih muda dan punya masa depan, harus ada penanganan,” ujar Wabub Sukoharjo, Purwadi, kemarin ditemani Pemerintah Kecamatan, Pemdes, Dinsos dan Puskesma Nguter.

Pemkab berupaya akan melakukan penanganan agar Agus, bisa sembuh dan kembali seperti semula. Namun ternyata identitas Agus, masih Kediri, Jawa Timur ikut ibunya. Itu diketahui dari ayahnya, Sadimen (51) saat ditanya, karena disana tidak ada yang merawat akhirnya diputuskan dibawa ke Sukoharjo.

“Saya sudah intruksikan ke Pemdes untuk mengurus kepindahan identitas disini. Ini biar nantinya mudah saat mendapatkan bantuan dari Pemkab. Nanti juga akan dilakukan penyisiran apakah ada warga yang sejenis luput dari perhatian, kalau ada segera dilakukan penanganan,” paparnya.

Sementara itu Sadimen (51) mengatakan jika agus mulai mengalami gangguan seperti ini sejak 2017 lalu. Dia sering mengamuk tanpa sebab, bahkan sering jalan-jalan sendiri tanpa tujuan, lalu menghilang. “Jadi pendiam dan tidak mau bergaul lagi dengan teman-temannya,” terang dia.

Pernah selama 10 hari tidak pulang ke rumah dan membuat bingung keluarga. Warga sekitar mencari-cari keberadaan tapi tidak ketamu. Dia, ditemukan orang di dekat Jembatan Bacem Kecamatan Grogol lalu dibawa pulang kerumah. Juga sering mengamuk dengan melempar perabotan yang ada di rumah, belum lama ini sempat mau membakar rumah.

“Pernah 10 hari tidak pulang kerumah. Itu membuat bingung dan dicari-cari oleh warga tidak ketemu. Ketemunya itu didekat jembatan Bacem,” kata dia.

Baca : Tragis, Lansia Warga Juron Nguter Ditemukan Tewas Terbakar Usai Bakar Ramban Bambu

Tidak Punya Biaya

Menurutnya, Agus terlahir normal seperti anak biasanya dan sering bermain dengan teman sebayanya. Bahkan untuk sekolah termasuk pintar dan punya cita-cita tinggi. Mulai ada perubahan itu saat masuk kelas X SMP, jadi pendiam dan tidak mau bergaul dengan teman-temannya.

“Saat lulus SMP dia mau melanjutkan ke SMK. Tapi itu tidak bisa terwujud, karena tidak punya biaya. Itu yang mungkin membuatnya depresi dan mengalami gangguan. Pekerjaan saya hanya serabutan dan tidak menentu,” tuturnya.

Sadimen, terpaksa merantai kakinya agar tidak bisa pergi kemana-mana. Sebelum memakai rantai, memakai benang atau tali buat menali kakinya, namun bisa melepaskan diri lalu pergi jalan-jalan dan hilang. Keluarga juga tidak pernah memeriksakannya ke rumah sakit karena keterbatan dana juga.

“Baru pakai rantai itu belum lama ini, sebelumnya pakai tali biasa. Tapi itu mudah lepas dan bisa melarikan diri. Selama ini belum pernah diperiksa kesehatannya,” tandas dia. (Ari Welianto)

Baca : Tim Densus 88 Anti Teror Geledah Rumah Kontrakan Mayang Baki

Editor : Budi Sarmun 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here