Beri Kesempatan bagi Para Difabel untuk Bekerja

0
difabel-diberdayakan
BERBINCANG- Sri Hartati, Guru SMA Negeri 1 Nogosari, Boyolali saat berbincang di tempat tinggalnya di Kartasura, Sukoharjo, Senin (14/10). (Suaramerdekasolo.com/Sri Hartanto)

SUKOHARJO, suaramerdekasolo.com- Kepedulian terhadap para difabel untuk diberi kesempatan bekerja jarang dilakukan masyarakat pada umumnya. Namun hal itu dilakukan seorang guru SMA Negeri 1 Nogosari, Boyolali, Sri Hartati.

Perempuan berusia 47 tersebut selain berkecimpung di dunia bisnis dengan membuka tempat fotocopy Lentera, juga aktif memberdayakan kaum disabilitas dengan memberikan fasilitas belajar dan bekerja.
Sukses membuka lima cabang usaha fotocopy dan percetakan, tidak membuat Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia itu lupa akan kodratnya sebagai manusia untuk bisa berbagi dengan orang-orang yang tidak mampu secara fisik.

Sejak Tahun 2016, perempuan berhijab itu membuka kesempatan kepada kaum difabel untuk belajar dan bekerja ditempat usaha miliknya. ”Hingga saat ini, ada enam karyawan disabilitas bekerja di tempat kami dan banyak lagi anak berkebutuhan khusus Praktik Kerja Lapangan (PKL) setiap tahunnya praktik di tempat usaha kami,” urainya.

Di usianya yang tidak lagi muda, serta rezeki yang dirasa cukup bahkan lebih, memantik perasaan ibu dua anak itu untuk lebih banyak berguna bagi orang lain.

Kepedulian untuk sesama berawal saat Sri Hartati yang akrab disapa Tatik itu bertemu temannya difabel yang membuka usaha menjahit baju memiliki karyawan yang juga difabel.

Munculnya keinginan serupa untuk memberi kesempatan bekerja bagi orang berkebutuhan khusus terus dirasakan Tatik. ”Ada waktu dimana saya harus berbagi serta memberikan kesempatan bagi anak-anak yang secara fisik tidak sempurna namun punya tanggung jawab yang dapat dipercaya,” terangnya.

Tak hanya memberi pekerjaan dan tempat tinggal, ada kalanya Tatik juga harus mengeluarkan uang dan tenaga lebih untuk karyawan yang berkebutuhan khusus. Ketika ditemui di tempat tinggalnya di Kartasura, Sukoharjo, Senin (14/10), usai mengajar di SMA N 1 Nogosari, Tatik menyempatkan waktu malamnya untuk melatih anak-anak PKL yang difabel bagaimana cara mengoperasionalkan komputer dan editing. ”Bagi saya mereka bukan karyawan, tidak ada istilah bos dan anak buah. Mereka adalah anak-anak saya,” urainya.

Berkat kepeduliannya kepada kaum difabel serta kesuksesannya dalam membangun usaha, membuat guru SMA N 1 Nogosari tersebut sering diundang untuk menjadi pembicara dalam acara seminar maupun kelas-kelas motivasi.

Ketika menjadi pembicara, Tatik sering menyampaikan arti pentingnya belajar, kerja keras, dan berbagi untuk sesama. Kerap Tatik menceritakan pengalamannya dalam menjalankan usaha sembari mendidik anak-anak difabel untuk bisa bekerja. Difabel itu bukan suatu kesalahan, orang difabel itu bukan orang dengan martabat rendah.

”Mereka perlu disentuh dengan hati agar mereka percaya diri dan mampu untuk maju, karena mereka, saya bisa mengedukasi diri pribadi, dan kepuasan yang saya dapat ketika saya melihat mereka (difabel) pada tersenyum,” ungkapnya saat berbincang santai dirumahnya di Kartasura. (Sri Hartanto)

Editor: Budi Sarmun

Tinggalkan Pesan