UTP Resmi Miliki Prodi Teknologi Perawatan Pesawat Terbang

Prodi D3-Teknologi-Perawatan-Pesawat-Terbang-UTP
PENYERAAHAN: Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VI Jawa Tengah menyerahkan SK pendirian Prodi D3 Teknologi Perawatan Pesawat Terbang pada Rektor UTP Prof Dr Tresna Priyana Soemardi. (suaramerdekasolo.com/Evie Kusnindya)
SOLO,suaramerdekasolo.com  – Saat ini hanya 30 persen perawatan pesawat terbang dilakukan oleh Maintenance Repair and Overhaul (MRO) di Indonesia, sisanya oleh negara tetangga.
 
Rektor Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta, Prof Dr Tresna Priyana Soemardi mengemukakan, sektor SDM kedirgantaraan masih sangat dibutuhkan. Dilihat dari jumlah pesawat udara di Indonesia lebih dari 800 pesawat terbang. Dengan jumlah itu kebutuhan perawatan pesawat terbang akan mencapai 2,19 biliun US Dollar per tahun pada 2023 mendatang. 
 
“Pendapatan Angkasa Pura 1 dan 2 lebih dari Rp 10 triliun dengan jumlah sumber daya manusia (SDM) mencapai 8 ribu orang. Dan masih butuh 400 orang tiap tahunnya. Kami ingin membantu negara dengan berpartisipasi memenuhi rantai pasok industri dirgantara global, ” kata Rektor di sela penyerahan Surat Keputusan (SK) Izin Pembukaan Program Studi (Prodi) D3 Teknologi Perawatan Pesawat Terbang, di kampus setempat, Kamis (17/10)
 
 
 
Tresna menyebut kebutuhan SDM tersebut untuk operasi kebandaraan, meliputi infrastruktur runway, apron, terminal, dan pendukungnya. Untuk itu, melalui prodi baru ini, pihaknya ingin menjadi bagian dari itu semua.
 
“Saat ini, pasokan kami adalah SDM. Ke depan tentu akan ada link industri yang ingin kami wujudkan, yang realistik yang bisa kami kerjakan,” ungkapnya.
 
Prodi Satu-satunya
 
Sejak 2013, UTP telah merintis prodi yang penuh tantangan bagi generasi milenial yakni perawatan pesawat udara. Lanjut Tresna, prodi ini strategis untuk bidang dirgantara Indonesia di masa depan. Karena prodi ini menyangkut mobilitas dan komunikasi berdasarkan information dan communication technologies (ICT).
 
Dikemukakan,  prodi ini menjadi satu-satunya di Jawa Tengah. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VI Jawa Tengah mencatat dari 1.238 prodi di 255 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan 9 Perguruan Tinggi Negeri (PTN), belum ada satu pun yang memiliki prodi serupa.
 
 
“Prodi semacam inilah yang dikehendaki Presiden. Sebab generasi milenial butuh prodi yang berbeda. Dan UTP sekaligus menjawab permasalahan soal dirgantara di negeri ini. Semoga prodi ini membuka pintu untuk memunculkan prodi lain yang aplikatif dan dibutuhkan masyarakat,” kata Kepala LLDikti Wilayah VI Jawa Tengah, DYP Sugiharto.
 
Ia berpesan agar usai penyerahan SK tersebut, UTP segera bersiap mengurus persoalan mutu dan kualitas yakni berupa akreditasi. Di samping juga melakukan promosi yang gencar di kalangan milenial. Karena prodi ini sangat baru dan masih asing di masyarakat.
Rencananya, prodi ini mulai dibuka pada tahun ajaran baru mendatang. Membuka dua kelas dengan total mahasiswa sebanyak 70-80 mahasiswa. (Evie Kusnindya)
 
Editor : Budi Sarmun 
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here