Ditemukan Lima Jenis Satwa Langka di Alas Bromo

0
satwa-langka-gunung-bromo
PERSEMIAN : Wakil Rektor I UNS Prof Dr Ahmad Yunus meresmikan UPT Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Universitas Sebelas Maret (UNS) di KHDTK Gunung Bromo, Jumat (18/10). (suaramerdekasolo.com/Evie Kusnindya)
SOLO,suaramerdekasolo.com – Unit Pelaksana Teknis (UPT)  Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Universitas Sebelas Maret (UNS) mengoptimalkan pengamanan kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Gunung Bromo.
 
Pasalnya,  di kawasan itu ditemukan sejumlah fauna yang masuk kategori langka maupun dilindungi UU. 
 
“Kami sudah melakukan pendekatan pada masyarakat sekitar dan aparat untuk diajak bersama melindungi kawasan hutan Bromo ini. Setelah dilakukan penelitian,  terdapat sejumlah fauna langka maupun yang dilindungi UU.  Ini menunjukkan ekosistem hutan masih terjaga sehingga jangan sampai dirusak, ” kata Wakil Rektor I UNS Prof Ahmad Yunus seusai peresmian UPT Pusdiklat Kehutanan di hutan Gunung Bromo. 
 
 
 
Divisi Inovasi dan Pengembangan Usaha UPT Kehutaman UNS  Dr Retno Tanding Suryandari menambahkan,  berdasaekan endataan Tim Fauna, terdata sebanyak 44 jenis spesies burung yang hidup di hutan tersebut.
 
  Dari jumlah tersebut,  terdapat empat jenis burung elang (reptor) yang termasuk langka dan dilindungi yakni elang ular, elang bido, elang jawa, dan elang hitam. Selain itu juga terdapat burung spesies bubut Jawa yang sangat langka. Selain itu juga ditemukan Kakatua raja yang wajib dilindungi karena nyaris punah.
 
Menurut anggota tim fauna,  Dr Ike Nurjuita Nauasilana terdaatnya lima jenis burung langka tersebut menjadi fenomena menarik. Sebab kelima jenis itu biasanya terdaat di kawasan hutan yang ada di Jawa Barat seperti Pangrango dan lainnya. 
 
Selain spesies burung,  juga terdapat 19 macam reptil, tiga jenis mamalia,  serta 36 jenis kupu-kupu. Untuk kupu-kupu terdapat dua jenis yang termasuk langka namun terdapat cukup banyak di kawasan hutan tersebut. 
 
 
Dr Retno menambahkan,  untuk pengamanan hutan maupun aset di kawasan hutan Bromo, pihakny juga menggandeng pihak terkait seperti Koramil dan Polsek setemat. Selian itu juga dikerahkan polisi kehutanan dan petugas keamanan yang akn berjaga secara shift selama 24 jam. 
 
Namun yang lebih penting dari itu,  lanjutnya,  adalah pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan agar bisa memanfaatkan hutan namun tanpa perlu merusaknya. 
 
Hal itu di antaranya dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat di Desa Delingan dan Gedong, pembinaan usaha mikro kecil dan menengah serta pebgembangan ekowisata yang melibatkan masyarakat sehingga mereka merasa ikut memiliki hutan tersebut. (Evie Kusnindya) 
 
 
Editor : Budi Sarmun 
 

Tinggalkan Pesan