Guru Kesulitan Aplikasikan Pembelajaran HOTS

pembelajaran-hots-fkip-uns
PELATIHAN: Dosen Prodi Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS Dr Nugraheni Eko Wardani saat memberikan materi dalam pelatihan pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS) untuk guru SMP. (suaramerdekasolo.com/Evie Kusnindya)
SOLOsuaramerdekasolo.com– Banyak kalangan guru yang belum memahami penerapan pembelajaran berorientasi pada ketrampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skill (HOTS).
 
Program yang dikembangkan sebagai upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan tersebut baru secara teoretis dipahami oleh para pendidik.  Namun dalam aplikasi rencana dan pelaksanaan pembelajaran (RPP) banyak yang belum mengaplikasikan secara maksimal. 
 
Berangkat dari kondisi tersebut,  dua dosen Prodi Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)  UNS Dr Nugraheni Eko Wardani dan Favorita Kuswidaria menggelar kegiatan pengabdian pada para guru Bahasa Indonesia.  
 
Dalam kegiatan pengabdian bertajuk “Sosialisasi dan Pelatiham Pembelajaran Kurikulum 2013 berbasis metakognitif dan HOTS bagi guru MGMP Bahasa Indonesia jenjang SMP ” itu,  keduanya ingin agar para guru mampu mengaplikasikan pembelajaran berbasis HOTS yang dikembangkan dalam Kurikulum 2013. 
 
“Para guru ini sudah diberikan pelatihan soal pembelajaran berbasis HOTS dan sudah tahu teorinya. Namun dalam mengaplikasikan di pembelajaran masoh sangat kurang. Kami memberikan sosialisasi dan pelatihan,” kata Nugraheni.  
 
Dikemukakan, sesuai dengan arahan dari Kemendikbud, pembelajaran harus diberikan bukan sekadar menghapal atau pemahaman teori. Namun guru harus mampu mengarahkan para siswa mampu menganalisa dan mengevaluasi sehingga mereka menemukan pemahamannya sendiri.  Hal itu bertujuan mengasah siswa berpikir kritis dan kreatif sesuai tuntutan zaman.  
 
Nugraheni menyatakan, dari beberapa hal, yang paling krusial adalah persoalan banyak guru mapel Bahasa Indonesia yang ternyata tidak mampu membuat rubrik penilaian, terutama untuk soal model esai. Hal itu menurutnya akan berpotensi merugikan siswa.  
 
“Salah satu penyebabnya adalah kurangnya guru membaca dan meng- update pengetahuannya sehingga mereka kebingungan. Inilah salah satu alasan mengapa guru harus terus belajar dan update kemampuan, ” kata dosen Prodi Bahasa Indonesia ini.
 
Nugraheni berharap,  dengan diberikannya pelatihan serta sosilisasi pembelajaran berorientasi pada ketrampilan berpikir tingkat tinggi, para guru akan mampu mengaplikasikan teori pembelajaran yang mengedepankan inkuiri, discovery base learning dan project base learning. 
 
Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 40 guru dari 20 SMP negeri dan swasta di Kota Madiun. (Evie Kusnindya)
 
Editor : Budi Sarmun
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here