Kolaborasi Aqua – Pusur Institute, Penyelamatan Sub-Daerah Aliran Sungai Pusur

Aqua-Pusur-Institute1
BENDUNG BLAMBANGAN : Manajer Sustainable Development Aqua Klaten, Rama Zakaria meninjau Bendung Blambangan di Desa Kebonharjo, Kecamatan Polanharjo, Klaten. (suaramerdekasolo.com/Merawati Sunantri)

 

KEBERADAAN Sungai Pusur sepanjang 30 km mempunyai peran penting bagi pertanian di kawasan sekitarnya. Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur merupakan bagian DAS Bengawan Solo yang terbagi dalam wilayah hulu, tengah dan hilir, termasuk di dalamnya Sungai Pusur. 

Hulu sungai berada di Desa Sruni, kecamatan Musuk, Boyolali. Sedangkan muaranya di Desa Boto, Kecamatan Wonosari, sampai Desa Serenan, Kecamatan Juwiring, dan Klaten masuk ke Sungai Bengawan Solo.

‘’Kawasan Sub DAS Pusur dari hulu sampai hilir berperan penting pada pertanian, perikanan, wisata dan home industry, sehingga kuantitas dan kualitas sumber daya air menjadi perhatian pihak terkait, termasuk Aqua Klaten,’’ kata Manajer Sustainable Development Aqua Klaten, Rama Zakaria.

Oktober dan November 2019 ini, memasuki masa tanam ke-3 (MT 3). Sayangnya, ketersediaan air sangat berkurang, kondisi sarana dan prasarana pengairan juga belum ideal. Bendung tak berfungsi baik, pintu air saluran irigasi primer dan sekunder rusak, jaringan irigasi rusak, dan tingginya sedimentasi di beberapa titik Sungai Pusur.

Untuk itu, Aqua Klaten berkolaborasi dengan Pusur Institute menyelaraskan visi demi kelestarian Sungai Pusur. Awalnya, Pemerintah Kecamatan Polanharjo mengajak masyarakat di bagian tengah Sungai Pusur untuk membersihkan sungai dalam gerakan ‘’Grebeg Sungai’’.

Aksi tahun 2016 itu menjadi momentum menyatukan visi misi berbagai pihak dalam mengelola Sub DAS Pusur. Desember 2017, komunitas resmi dideklarasikan Bupati Klaten dengan kepengurusan representasi stakeholder dari hulu sampai hilir. Aktivitasnya dikenal sebagai media penyadartahuan kolektif.

Aqua-Pusur-Institute2
PENGERUKAN : Pekerja mengeruk sedimentasi saluran irigasi tertier di Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring. (suaramerdekasolo.com/Merawati Suinantri)

‘’Pada November 2019, Pusur Institute berkolaborasi dengan Aqua Klaten didukung PU PSDA, Kodim, pemerintah desa, sektor usaha, GP3A dan masyarakat melakukan aksi di 3 lokasi bentang alam sub-DAS Pusur,’’ tegas Rama Zakaria.

Normalisasi Bendungan

Langkah pertama, dilakukan normalisasi Bendung Cokro di Desa Cokro, kecamatan Tulung. Pengerukan sedimentasi sekitar 130 meter kubik dilakukan selama 8 hari. Menurut Kades Cokro Heru Budi Santoso, Bendung Cokro belum pernah dinormalisasi sejak tahun 1984.

Langkah kedua dilakukan perbaikan pintu pelepasan Bendung Blambangan di Desa Kebonharjo, Kecamatan Polanharjo dan intake saluran irigasi yang tidak berfungsi selama 6 tahun terakhir.

Bendung Blambangan merupakan bendung suplesi untuk menambah debit ke irigasi primer dari sungai Pusur. Irigasi itu mengaliri persawahan di 5 desa yakni Delanggu, Kepanjen, Segaran dan Gatak di Kecamatan Delanggu dan Besa Boto, Kecamatan Wonosari.

Yang ketiga dilakukan normalisasi sedimentasi saluran irigasi tertier sepanjang 1500 meter di Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring. ‘’Normalisasi berdampak pada 20 hektar lahan persawahan yang setahun tidak berfungsi,’’ jelas Sumartono selaku GP3A Daerah Irigasi Bagor, Juwiring.(Merawati Sunantri)

Editor : Budi Sarmun 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here